Tiga

30 5 0
                                        

Ujian masuk akademi kerajaan begitu populer di kalangan keluarga kaya, apalagi orang kaya baru. Mereka berlomba-lomba memasukkan anak-anak mereka ke akademi itu agar mendapatkan pengakuan, agar mereka tetap diagungkan rakyat bawah. Tapi bagaimana dengan rakyat kelas bawah yang ingin masuk ke akademi itu? Harus membayar 1 keping emas yang tak lain tujuannya agar mereka tak mengikuti, agar mereka sadar kelas mereka dimana. Bagaimanapun juga akademi kerajaan harusnya hanya boleh dimasuki golongan orang yang sekedar punya banyak uang dan bangsawan.

Masalah biaya Ran bisa memikirkan belakangan, kini yang menjadi fokusnya adalah pelajaran apa saja yang kiranya akan diujikan nanti. Selama sehari semalam dia mencoba membuat gambaran rutinitas dari pagi hingga malam. Dia sedikit mengurangi porsi kerjanya, dia memilah-milah pekerjaan yang memakan waktu dan tenaga namun upahnya sedikit. Tanpa ragu ia menghapus hal yang seperti itu agar waktu belajarnya bisa bertambah.

Setelah diagram rutinitasnya selesai dengan baik dia berlari ke rumah kakek-nenek guru, dengan senyum berseri dia menunjukkannya. Kali ini Ran tak main-main, dia akan masuk akademi kerajaan, tinggal dan mendapatkan pekerjaan disana. Iya, di ibu kota tempat impiannya. Jauh dari kata kumuh seperti desanya, jauh dari kedua orang tuanya yang suka memukul.

"Kau boleh belajar giat tapi jangan meremehkan waktu istirahatmu. Akademi kerajaan tidak hanya fokus pada bidang akademi saja. Kelak kau juga harus belajar ilmu bela diri, jangan sampai fisikmu terganggu karena kurang istirahat."

Ran mencatat nasehat dari kakek guru. Jika masalah fisik mungkin sedikit lebih unggul, setiap pagi dari rumah ke dermaga Ran berlari lalu membantu paman Fuan mengangkat kotak berisikan ikan-ikan tangkapan, ditambah dia sering membantu adik paman Fuan berjualan sayur, lalu dia juga sering mengantar telur dari rumah ke rumah. Ran mengangguk, dia menganggap kegiatan itu sebagai latihan fisik. Lalu tentang bela diri ia tak yakin, yang diketahuinya adalah berlindung bukan menyerang. Selama ini dia cukup jago berlindung ketika kedua orang tuanya mememukulinya.

Kakek guru tertawa dengan semua penjelasan Ran. Gadis cilik di depannya kini begitu antusias dengan ujian masuk, namun beberapa detik kemudian senyuman kakek guru hilang. Bayangan tentang kerasnya kehidupan di akademi bagi rakyat kelas bawah sangat, sangat, sangat buruk. Semalam dia sudah berunding dengan istrinya untuk membujuk Ran agar tak ikut. Namun mereka tahu jika Ran sudah bertekad.

"Aku sudah menyiapkan buku-buku yang berisikan materi ujian. Kau bisa membacanya, dan setiap hari aku akan memberimu 10 pertanyaan dari satu buku."

Ran ingin berteriak protes ketika melihat buku-buku yang menggunung di pojok ruang baca itu. Ada yang tebal ada yang juga tipis, setahunya yang tipis itu buku yang tak menyenangkan, dia pernah membacanya dan itu membuatnya pusing.

***

Setiap malam setelah memastikan semua orang di rumah terlelap kaki kecil Ran melangkah ke dapur, mengambil lilin yang sudah ia sembunyikan sebelumnya. Lalu dia akan menyalakan lilin itu di belakang rumahnya, di dekat kandang ayam. Cahaya satu lilin tak begitu terang namun mata hitam milik masih awas. Setelah membaca dua lembar Ran mengerjapkan kedua matanya yang terasa perih, jika dia mengantuk maka tak segan dia akan menusukkan jarum di ujung jarinya, rasa sakit membuatnya terjaga. Jika dia lupa membawa jarum maka Ran masih bisa meneteskan lilin ke kulit tangannya, dilakukan hal seperti itu selama 4 bulan lamanya. Ketika mengantar telur di rumah bordir, ibu asuh begitu kaget melihat kulit tangan Ran sedikit memerah, wanita paruh baya itu terus bertanya layaknya petugas keamanan yang sedang melakukan introgasi pada tersangka.

"Ini bukan apa-apa. Luka ini justru membantuku selama ini," jawab gadis cilik itu enteng sambil makan ubi bakar.

"Kau sebenarnya berbuat apa sih?"

The Lost LegendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang