9. library

9 1 0
                                        

Kepercayaan itu di ambil dari sebuah keyakinan, lalu bagaimana jika kebohongan datang tanpa di minta!

________

Neina berjalan dengan langkah riang, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Menikmati suara musik dari earphone miliknya.

Suasana yang cerah menambah kesan indah yang semakin terasa di hatinya. Murid-murid yang melihatnya pun terlihat menatap Neina dengan aneh. Meskipun sikap Neina yang tergolong berubah akhir-akhir ini.

Langkahnya seketika terhenti, saat melihat Madafa yang sedang berjalan dengan setumpuk buku di tangannya.

"Saatnya caper"Dengan langkah cepat Neina segera menyusul Madafa ke arah perpustakaan.

"Dafa tunggu!"

Madafa menghentikan langkahnya, menatap ke arah belakang. Memastikan jika suara itu milik Neina. Tapi Madafa kembali melanjutkan langkahnya, tidak memperdulikan Neina yang mengikutinya dari belakang.

Madafa lalu menyusun buku-buku itu sesuai urutannya, sedangkan Neina duduk di salah satu bangku sambil menopang dagunya. Menatap Madafa intens.

Bukannya risih yang Madafa rasakan, ia malah merasa senang saat Neina menatapnya dengan tatapan yang mendamba.

"Daf ko, lo ganteng sih?"

Madafa menghentikan gerakan tangannya, menatap Neina dengan ujung matanya"Baru nyadar?"

Neina menggelengkan kepalanya"Udah dari awal pas liat lo, tapi auranya baru kerasa sekarang"

Setelah menyelesaikan tugasnya, Madafa ikut duduk di samping Neina sambil membuka salah satu buku yang ia ambil.

Merasa tidak mendapatkan respon, Neina melanjutkan perkataannya"Di sekolah peraturannya ga boleh pake topi Daf, kecuali topi dari sekolah"

Madafa menggeserkan buku yang sejak tadi dia baca ke arah Neina. Sedangkan Neina sendiri mengerutkan keningnya bingung.

"Dari pada lo kebanyakan ngomong, mending baca buku. Biar makin pinter"

Neina memberengut kesal, lalu kembali mendorong buku itu dengan sedikit kasar"Ogah! gue udah terlahir pinter"Ucapnya dengan sewot.

"Seharusnya, tanpa gue jelasin pun lo udah tau jawabannya. Tau kan fungsi topi gue buat apa?"Madafa berucap tanpa ekspresi ke arah Neina yang hanya terdiam. Mungkin sedikit terkejut oleh ucapannya, atau mungkin merasa tidak enak karena sudah menanyakan hal yang tidak penting.

"Sorry...bukan maksud gue kaya gitu"Neina mengigit bibirnya merasa bersalah. Tapi Madafa malah hilang fokus dengan apa yang baru saja Neina lakukan.

Madafa mengangguk pelan, mencoba untuk membuat Neina merasa nyaman kembali.

"Mau pulang bareng gue?"

"Hah?"

Apa Neina tidak salah dengar? Madafa baru saja mengajaknya pulang bareng. Keajaiban apa lagi ini, ya tuhan.

Madafa berdecak kesal, menatap Neina dengan malas"Mangkanya kalo punya kuping tuh harus sering di bersihin. Biar ga budek"

Buku yang ada di depan meja langsung Neina ambil. Tanpa rasa bersalah langsung memukulkannya ke kepala Madafa, yang langsung meringis sakit.

"Sakit Nei!"

Neina masih dendam dengan mulut Madafa yang asal ceplos. Tidak pernah di saring dulu jika berbicara, apa tabiat seorang Madafa memang seperti itu.

"Nei udah, aw! sakit Nei"Madafa terus meringis tapi tidak sedikitpun menghindari pukulan itu. Seakan sengaja memberikan kepalanya dengan suka rela Neina pukuli.

Neina menghentikan gerakannya, menatap wajah Madafa yang sudah memerah dan rambutnya yang berantakan. Itu benar-benar membuatnya semakin...tampan mungkin?

"Ko, lo makin tambah ganteng sih?"

Madafa merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu ujung matanya menatap Neina dengan kesal.

Perempuan itu sungguh aneh, sehabis memukulinya langsung memujinya begitu saja.

"Ga usah di omongin terus! gue emang ganteng"Entah kenapa bukannya luluh mendapatkan pujian, Madafa malah terlihat kesal saat ini.

Neina mendengus sinis, lalu setelahnya memberikan senyuman lebarnya ke arah Madafa. Madafa ngeri sendiri dengan perubahan singkat Neina, kenapa sikap perempuan itu sangat mudah sekali berubah.

"Beneran pulang bareng kan?"

Madafa mengangguk, lalu mendorong pelan kepala Neina saat perempuan itu mendekatkan wajahnya ke arah Madafa.

Madafa mengangguk, lalu mendorong pelan kepala Neina saat perempuan itu mendekatkan wajahnya ke arah Madafa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ga seharusnya Papah bertindak seenaknya, setidaknya tanya keputusan aku. Bukan malah bertindak sendiri!"

Suara itu terdengar menggema di ruangan yang cukup sempit ini. Rasa marah benar-benar melingkupi diri Araf. Saat melihat orang tuanya, yang sudah berumur itu malah tertawa mengejek.

Sialan dirinya kecolongan!

"Nunggu kamu bergerak itu lama. Kalo Papah bisa ngelakuinnya sendiri, kenapa ngga?"

Araf mengepalkan kedua tangannya erat, mencoba menahan emosinya yang sudah terpancing, hingga rasanya ingin memukul orang yang berstatus sebagai Papah kandungnya itu.

"Papah egois!"Araf maju lalu mencengkram kerah kemeja milik Papahnya"Setidaknya mikirin masa depan dia!"

Menghempaskan tangan anaknya itu dengan kasar, lalu menatapnya tajam"Ngapain Papah mikirin masa depan dia? sedangkan masa depan kamu aja berantakan. Kamu masih mau bilang Papah egois, Araf?"

Araf terdiam sejenak, lalu mengangguk"Papah juga harus mikirin masa depannya Dafa"Ucapannya dengan lirih"Madafa juga masih butuh Papah"

Kadaf memalingkan wajahnya, tidak berani menatap wajah Araf yang penuh keputusasaan. Itu sama saja menyakiti hatinya.

"Kalo Papah harus mikirin kehidupan dia, lalu kamu gim--"

"Ga perlu khawatir tentang aku, selagi Papah bisa menjamin kehidupan Dafa, Araf bakalan baik-baik aja"

Kadaf menundukkan kepalanya bingung, ia juga tidak mau terlihat lemah di depan sang anak. Tanpa mengatakan apapun lagi, Kadaf pergi begitu saja dari bengkel milik sang anak.

Araf langsung menghembuskan nafasnya yang terasa sesak, saat kedatangan Kadaf. Pembicaraannya dengan Kadaf sungguh sensitif terhadap keberlangsungan kehidupannya dan Madafa.

Terkadang Araf harus pandai-pandai memutar otak saat berhadapan dengan Kadaf.

"Sialan lo Daf! lo hutang jaminan masa depan sama gue"Araf terkekeh oleh perkataannya sendiri, lalu menatap bengkel yang masih sepi.

Dia juga tidak memperkejakan pegawai terlalu banyak, itu sama saja buang-buang uang menurutnya.

Lalu tatapannya menuju jam yang melingkari tangannya. Anak itu pasti terlambat datang lagi, sebenarnya apa yang membuat Madafa yang selalu tepat waktu, menjadi orang yang tidak menghargai waktu seperti ini.

Araf juga berfikir. Apakah Madafa nyaman di sekolah barunya, atau mungkin masih mendapatkan bully-an yang sama. Araf juga yakin tidak ada yang mau berteman dengan sosok aneh bermata merah itu.


21.08 wib.

MADAFA'S EVIL EYES Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang