17. Madafa why?

11 2 0
                                        

Ada berbagai banyak keyakinan, salah satunya, keyakinan untuk selalu percaya dengan apa yang kita rasakan, bukan hanya apa yang kita dengar!

__________



"Mau pulang aja, atau mau kemana lagi?"

Suasana yang mulai terlihat ramai, semakin malam malah semakin banyak orang yang mulai berdatangan. Neina malah merasa pusing melihat banyaknya orang yang berlalu lalang di depannya.

"Pulang aja Daf, gue udah ngantuk"Madafa mengangguk, lalu menarik tangan yang lebih kecil.

Mereka memang sudah menghabiskan waktu cukup banyak, bahkan mereka hampir mencoba semua wahana yang ada di sini. Tidak terasa waktu tiga jam telah berlalu begitu cepat.

Madafa menatap Neina yang sedang mengelus bahunya naik turun, memang cuaca malam ini cukup dingin.

"Eh?"

Neina terkejut saat jaket berbahan kulit itu tersampir di bahunya. Sedangkan Madafa hanya tersenyum tipis, sambil mengelus kepala Neina lembut"Dingin banget ya?"Neina hanya mengangguk kecil merasa salah tingkah.

Setelah naik ke atas motor, tanpa di suruh Neina langsung melingkarkan tangannya di pinggang Madafa. Madafa sendiri tidak menolak, dia membiarkan saja, malah merasa nyaman saat pelukan itu semakin menguat.

Neina meregangkan otot-otot tubuhnya, dia merasa cukup lelah saat semalam berjalan kesana kemari dengan Madafa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Neina meregangkan otot-otot tubuhnya, dia merasa cukup lelah saat semalam berjalan kesana kemari dengan Madafa. Tapi tidak di pungkiri ia cukup senang, bisa menghabiskan waktunya dengan Madafa.

Perasaan bahagia selalu melingkupinya ketika berada di dekat Madafa. Neina sendiri tidak paham dengan perasaannya, apakah ia benar-benar menyukai Madafa?

Neina tersenyum tanpa sadar, lalu mengambil handphonenya untuk sekedar melihat jam, dan ternyata masih pukul setengah enam. Masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Kakinya langsung berjalan ke arah kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya dan setelah itu bersiap-siap untuk ke sekolah.

"Sarapan dulu, sayang?"

Neina langsung menarik kursinya untuk ia duduki, lalu mengambil satu roti untuk di beri selai, tidak lupa juga untuk menuangkan susunya kedalam gelas. Meminum susu sepertinya sudah menjadi kebiasaan Neina di pagi hari.

Roro berdehem pelan, menatap anaknya yang masih mengunyah roti di mulutnya"Semalem, pulang jam berapa?"

Neina menghentikan gerakan tangannya yang ingin mengambil gelas. Lalu ingatannya kembali saat malam ia meminta izin pada Roro, ingin pergi dengan Madafa. Dengan tegas Roro menolaknya tanpa alasan.

"Sebelas"

"Loh? emangnya semalem, kamu dari mana Nei?"Wira ikut menimpali saat mendengar pembicaraan anak dan istrinya.

"Main Pah"Wira hanya mengangguk saja, melanjutkan meminum kopinya"Sama cowok?"Tapi ternyata Wira masih lanjut bertanya.

Mengambil tasnya, lalu menyampirkannya di bahu kirinya"Iya Pah... Nei pamit dulu ya? Mah Nei juga pamit"Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Neina langsung berjalan keluar mencari taxi yang sudah ia pesan tadi.

MADAFA'S EVIL EYES Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang