18. about ice cream

13 2 0
                                        

Kenyataannya dia menjadi pemenangnya, meskipun seseorang masih sulit untuk bisa di lupakan!

_______________


"kenapa kamu selalu nolak?"

Tangannya mengambil gelas berisi air, lalu dengan sekali tegukan meminumnya hingga tandas. Matanya kembali menatap orang yang terus mengoceh di depannya. Dia ingin membantah, tapi sadar orang yang di depannya adalah Papah-nya sendiri.

"Araf pikir, lebih baik uangnya di pake buat yang lebih penting"

Kadaf menyalakan sebatang rokok, lalu menghisapnya kuat, setelah itu menghembuskannya perlahan"Masa depan kamu juga penting"

Araf mengangguk pelan, tapi perlahan senyum tipisnya muncul"Tapi lebih baik gunain buat masa depan Dafa, dia bentar lagi lulus, pasti dia mau masuk kuliah"

Kadaf menatap anak pertamanya itu dengan datar"Kenapa kamu peduli banget sama dia. Bahkan kamu ngereliain ga kuliah, cuma buat anak itu bisa sekolah sampe lulus. Inget Araf, bahkan kamu rela ngubur mimpi kamu, dan malah pergi dari rum--"

"Pah stop!"

Araf mengontrol emosi supaya tidak berkata terlalu kasar, Araf juga tau betapa Kadaf sangat menyayanginya melebihi rasa sayangnya pada Madafa.

"Dia adik aku. Jadi wajar kalo aku sayang sama dia, aku peduli sama dia. Dan Papah juga seharusnya ngelakuin hal yang sama, bukan malah ngenbedain aku sama Dafa!"

Kadaf terdiam mencerna kata-kata yang Araf katakan. Hatinya terasa tertusuk, dia sadar sikapnya selama ini memang tidak adil. Tapi dia juga mempunyai alasan melakukan itu, hanya saja egonya terlalu tinggi.

Kadafi menghembuskan asap rokok terakhirnya, lalu menginjak puntung rokok itu dengan sepatunya"Papah ga peduli"Kadaf menepuk pundak sang anak pelan"Papah pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik"

Araf mematung, menatap kepergian sang Papah dengan pandangan sendu. Kenapa keluarganya tidak seperti keluarga yang lainnya.

Neina buru-buru membereskan bukunya kedalam tas, saat tangannya membuka pesan yang barus saja Madafa kirimkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Neina buru-buru membereskan bukunya kedalam tas, saat tangannya membuka pesan yang barus saja Madafa kirimkan.

Madafa
blm keluar? 14.52
gw udh di parkiran 14.54
masih di kls ya? 15.03
gw tunggu di sini ya? 15. 06

"Buru-buru banget lo?"Neina tidak menghiraukan perkataan Sila, menatapnya saja tidak.

Kakinya langsung melangkah ke arah parkiran yang masih ramai. Matanya menatap ke sekeliling, mencari keberadaan Madafa yang ia pastikan tidak memakai seragam sekolah. Dan itu memudahkannya untuk mencari Madafa.

"Gue di sini"Madafa menepuk pundak Neina pelan, yang di sambut keterkejutan oleh Neina.

"Ih, ngagetin aja lo!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 25, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MADAFA'S EVIL EYES Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang