Dua siswa SMA yang masih mengenakan seragamnya kini terjebak di sebuah tempat yang penuh dengan orang-orang berjas berlalu lalang. Keduanya hanya duduk diam di sebuah sofa dengan membuat sebuah jarak. Satu pun tidak ada yang berniat untuk membuka suara. Hanya kebisingan dari jalanan di luar dan langka kaki dari orang-orang yang mengisi keheningan di antara keduanya.
Satu dari kedua pemuda itu terus memperhatikan jam tangannya. Sesekali ia berdecak kesal dan menghelakan nafasnya lelah. Matanya melirik ke sebelahnya lalu jika mereka melakukan kontak mata ia langsung mengalihkan pandangannya.
Tiba-tiba ponsel salah satu dari mereka berdering. Langsung saja ia mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, Key?"
"Lo baik-baik aja, Julian? Tadi gue liat Lo dibawa mobil bareng Sean. Lo ga di apa apain kan?" suara disebrang telpon itu terdengar panik.
"Aman kok. Tadi gue bareng bokap juga," balas Julian.
Helaan nafas lega terdengar di sambungan telpon itu.
"Syukurlah.. Tapi kalo ada apa-apa langsung telpon kita-kita ya."
"Gue baik-baik aja. Jadi ga usah khawatir. Udah dulu ya, bye Kay."
Julian langsung memutuskan sambungan itu tanpa mendengar dulu jawaban dari sang lawan bicaranya.
"Kenapa? Temenmu takut aku mukul atau nyakitin kamu?" sindir Sean.
Lalu ia terkekeh pelan. "Aku ternyata sejahat itu ya."
Julian hanya diam tak menanggapi.
"Maaf ya," ujar Sean lagi.
Julian memandang Sean dengan tatapan yang kesal. Bukan karena ia masih sakit hati atas hal yang terjadi sebelumnya, tetapi karena senyuman pemuda itu, permintaan maaf itu, dan raut pemuda itu.
Pada saat-saat tertentu, terkadang Julian merasa kasian. Contohnya seperti saat ini. Semalaman penuh ia berfikir akan ucapan sang ayah, ia mencoba mengingat semua yang terjadi. Ia merasa bahwa masalah yang sebenarnya di sini adalah dirinya bukanlah Sean. Tetapi Julian belum sanggup untuk menerima hal itu. Gengsinya menguasai pikirannya hingga saat ini.
Sean tak ingin memperpanjang obrolannya. Karena sang lawan bicara sepertinya masih enggan melakukan komunikasi dengannya.
Akan tetapi, saat Sean berniat ke kamar kecil, tiba-tiba Julian berbicara.
"Gimana progress Lo?"
Sontak Sean mengurungkan niatnya. Ia bahkan mengarahkan tubuhnya agar berhadapan dengan Julian. Ia cukup senang.
"Progress apa?" tanya balik Sean.
"Balet Lo lah, bego! Emang ada yang Lo kerjain selain nari ga jelas begitu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Marigold [END]
Fiksi RemajaMarigolds represent strength and power but also symbolize grief and sadness. Sean ingin terus menari. Tapi apakah bisa? Tarian bukanlah yang Ayahnya mau dari dirinya. Tarian bukanlah hal yang membanggakan untuk Ayahnya. "Ingatlah Sean, kamu dilahir...
![Marigold [END]](https://img.wattpad.com/cover/372019706-64-k718973.jpg)