TM 12. Terbongkar?

51 3 0
                                        

Hallo yorobun! Happy Reading 💜

'
Di dekat semak-semak, seorang gadis dengan rambut curly terlihat mengawasi dua manusia berbeda gender. Matanya menyipit berusaha menganalisis dengan jeli.

Sejenak senyum puas terpantri di bibirnya kala melihat seseorang yang begitu asing, melakukan hal sama seperti dirinya.

"Yeh, akhirnya gue nemuin lo penguntit!" gadis itu adalah Nacha.

Gadis yang sejak beberapa menit lalu memilih untuk meninggalkan Libea seorang diri dengan alasan yang tidak jelas, demi bisa menangkap seseorang yang membuatnya ketar-ketir ketakutan.

Nacha tidak lagi mengawasi temannya, melainkan sosok pemuda berwajah manis yang baru saja menemui pria sangar penguntit Nacha saat di Korea.

"Tuh kan, mereka itu sekongkol satu komplotan kek ikan tongkol!" gumannya menahan kesal.

"Fiks sih, dia lagi ngawasin Libea. Ini nih, nggak bisa dibiarin tuh orang!" Nacha melihat kondisi sedikit tenang.

Begitu menyadari pihak lawan di posisi, Nacha dengan mengendap-endap? menghampiri manusia yang tengah duduk duduk santai di balik pohon. Tentunya berada sangat dekat dengan Libea.

Happp...

"Kena lo!" Nacha langsung menarik tas pemuda itu dengan kencang, membuat pria tersebut hampir tercekik.

"Siapa kamu?" pemuda itu berusaha melepaskan cekalan Nacha, namun entah mengapa tenaga wanita ini sangatlah kuat.

"Lo itu yang siapa? Ngapain nguntit in temen gue?" Nacha yang amat menggebu-gebu semakin menarik cekalan tangannya.

"Nguntit in? Apa sih maksudnya?" sahutnya bingung.

"Heh nggak usah pura-pura dongo lo ya! Gue lita dengan mata kepala gue sendiri, mata gue jernih kagak butek!" pemuda tersebut makin mengernyit.

"Lo bersekongkol kan sama pria gede itu? Ngaku lo!" bisik Nacha mendesak dengan emosi.

"Pria gede? Pria gede apa sih? Aku itu disini mahasiswa."

"Alibi lo doang anjoy! Gue aja kagak pernah ketemu sama lo."

"Aku anak baru."

"Anak baru? Baru songong itu iya! Udah cepet ngaku lo, siapa yang nyuruh lo buat ngawasin temen gue?" Nacha mendelik tajam.

"Nggak ada yang nyuruh. Lagian yang mana sih temen mu? Orang aku dari tadi duduk disini nggak ada siapa siapa." Nacha terdiam.

Otak setengahnya berpikir dengan cepat. Ia berusaha menyangkal agar tidak mudah percaya, terlebih selama ini dirinya sangat mudah ditipu.

Sekali lagi Nacha berpikir dengan jeli. Jika pria ini penguntit, tentu saja tau yang mana teman Nacha. Secara Libea adalah targetnya.

Tapi mengapa pria ini tidak tau menahu teman Nacha dan tadi katanya ia tidak melihat siapapun disini. Atau mungkin itu hanya trik alibinya saja?

"Halah ngeles mulu lo! Udah jelas jelas lo ngikutin temen gue sama temen raksasa lo itu lagi!"

"Rekan raksasa siapa lagi yang kamu maksud? Kamu ini siapa sih? Dateng dateng main tuduh aja," keluh pemuda yang masih berusaha menahan tas nya agar tidak mencekik leher.

"Udah gue bilang, gue tau lo abis ketemuan sama rekan buto lo itu. Masih mau ngelak lo? Hah!" Nacha tiba-tiba menyentak tas pemuda itu hingga membuat talinya putus.

"Astaga tas ku! Bisa berhenti narik narik nggak? Putus nih tas ku," Nacha spontan melepaskan tangannya.

Ia terdiam membisu, antara tidak enak dan justru tertawa keras melihat pemuda itu kesal.

"Gue sengaja. Salahin aja tuh diri lo yang nggak mau ngaku." Sahut Nacha sekenanya.

"Iya iya. Wanita memang selalu benar. Jadi terserah kamu aja. Permisi, waktu santai ku jadi terganggu gara-gara kamu." Pemuda itu berbalik hendak pergi.

Namun Nacha yang belum puas kembali menahannya, menarik kerah pemuda yang kesabarannya di ambang batas.

Ingatlah, yang berhubungan dengan Libea tentu juga berhubungan dengan Nacha.

"Sekarang baju. Kamu mau aku pamer abs ya?" celetuk pemuda itu secara spontan sembari membalikkan badannya.

"Dih jijik banget gue sama lo!" Nacha dengan pelan melepaskan cekalan tangannya di kerah baju tersebut.

Ia dengan gerakan cepat meniup jari-jarinya yang bersentuhan dengan pakaian pemuda tersebut.

"Gue cuman mau peringatin lo. Siapapun yang nyuruh lo buat ngawasin temen gue, tanpa lo ngaku sekali pun pasti bakal gue temuin. Dan masalah lo yang tetep kekeh tutup mulut, gue akui lo keren karena setia majikan. Tapi, lo harus tau. Gue nggak bakal ngelepasin lo semudah itu. Satu jentik lo nyentuh temen gue, say goodbye di alam ini." Nacha yang beraut datar menatap pemuda di hadapannya dengan tajam.

Gadis ini tidak menyadari bahwa ada bahaya yang lebih mengintainya.

"Kamu mau aku takut dan ngaku? Tapi sayangnya tebakan mu salah. Aku nggak tau teman mu yang mana dan satu hal aku disini untuk kuliah, pindahan dari Bali."

"Terserah lo. Gue nggak mau dengerin penjelasan yang nggak ada untungnya buat gue." Nacha mengangkat dua bahunya dengan acuh lalu memasukkan ke dua tangannya ke saku celana.

"Gue cuman mau bilang, meskipun lo diem gue tetep bakal ngerti siapa pecundang yang udah nyuruh lo buat mata-mata in temen gue. Jadi berhati-hatilah!" Nacha menepuk bahu pemuda itu dengan singkat kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat persembunyian tersebut.

Nacha akan kembali menemui sahabatnya yang saat ini entah ada dimana.

"Gue telpon aja kali ya?" Nacha langsung mendial nomor telepon sahabatnya.

Tak butuh waktu lama, sang empu segera menjawab panggilan suara tersebut.

"Woy Lie! Lo dimana sekarang?"

"Apa Nacha? Aku lagi di jalan belakang kampus, mau pulang ke kos bentar. Kamu sendiri dimana sih Cha? Beneran udah pulang?"

"Huh, kagak lah. Gue tadi kebelet, jadi nongkrong dulu di toilet bu Idah. Oh iya, lo mau balik ke kos kan?"

"Iya."

"Tungguin gue bentar. Gue udah otw nih, mau keluar lewat pintu samping."

"Oh oke aku tung-,"

Bruakhh...

•••••
Next Story Cintah

Kira kira apa ya, jangan lupa tinggalin jejak kalian ya!! Untuk pdf tamat sorry gengss belum bisa up, secepatnya bakal aku info kan lebih lanjut. Dijamin greget lovvv

The Moonlight || SUGA BTSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang