🧶 тαηgℓє∂ 🧶
Tata, sepertinya soal naksir pada Naren itu benar serius. Buktinya, setiap Naren ke rumahnya, Tata akan selalu mendekati. Memang anak itu lumayan agresif, punya banyak topik yang bisa dibicarakan bersama orang dewasa itu.
"Oh, kak Naren tau Narcissism nggak? Photo Exhibition punya Idol Kpop, katanya bakal diadain di CZK tau!"
"Tau! Kebetulan Tanteku yang punya venue, jadi kemarin ngabarin juga."
"Ih serius? Di mana tuh, kak? Aaaa, spill dong."
"Masih rahasia. Nanti, ya."
Tata menghembuskan napasnya. "Ah, nggak seru."
Naren tersenyum melihat perubahan ekspresi Tata yang sangat cepat itu. "Nanti dibantu soal tiket deh, siapa tau bisa."
"Wih, mantep ada orang dalam." Kan, wajah Tata berubah lagi.
"Kayak punya duit aja mau dateng ke exhibition," Sania datang membawa minum untuk Naren. Kebetulan temannya yang lain belum datang.
"Ada! Kakak aja nggak tau." Jawab Tata.
"Oh ada. Terus ngapain masih malakin duit gue?"
"Tuh ya, kak Naren, Kak Sania tuh peliiiit banget. Parah, ya!"
Naren tertawa kecil mendengar aduan Tata. Di telinganya, itu terdengar lucu. Maklum, dia anak tunggal, tidak tahu rasanya punya adik atau kakak. Jadi setiap lihat interaksi antar adik-kakak, ia terhibur sendiri.
"Eh, Ren, kemarin lo nyaris diamuk Nina lho." Kata Sania.
"Hah? Kenapa?"
"Ya lo ninggalin Jean, anjir."
"Nggak ninggalin, dia gue ajak nggak mau. Ya gue udah lama nggak ketemu temen-temen gue itu nggak enak kalau nolak."
"Aku kalau jadi kak Jean mah mending ikut." Serobot Tata.
"Diem lu, elah!" Protes Sania. "Sana mending ke kamar, jangan ganggu!"
"Ya elah, bentar. Bosen sendirian,"
"Biarin aja, San. Biar rame jadi seru tau," Kata Naren.
"Lo tuh...." Sania geregetan sendiri pada Tata.
"Soal Jean, itu udah minggu lalu, San. Jean juga nggak apa-apa kok. Ada Haqqi juga,"
"Hu'um! Kak Haqqi tuh kayak keliatan suka sama kak Jean nggak sih?"
Sania melirik Tata sinis. "Bocil mending diem."
Tata berdiri, ia melempar bantal ke arah Sania. "PELIT!!!" Lalu anak itu naik lantai 2 rumahnya, dan masuk ke dalam kamar.
"Besok-besok nggak usahlah kerkom di rumah gue." Kesal Sania.
"Jangan gitu, San. Mungkin adik lo ngerasa kesepian, makanya mau gabung ngobrol sama kita."
"Tapi ganggu, anjir, Ren. Mana asbun banget." Naren hanya tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANGLED
Teen FictionHidup itu banyak genre-nya, unpredictable, dan kusut! Kusut kayak rambut saya😮💨
