enam belas; yang terpendam

24 4 42
                                        

🧶 тαηgℓє∂ 🧶


Satu bulan pacaran, rasanya hidup Sania lebih berwarna. Setiap hari ada notif lain yang masuk selain dari grup kuliahnya, yang tentu menambah semangatnya untuk menjalani hari. Dia yang belum tahu gaya pacaran orang-orang itu bagaimana, hanya menikmati gayanya sendiri yang tidak jauh beda dengan saat PDKT.

Beda dengan Tata yang setiap hari berangkat sekolah dijemput Naren, kalau Sania dijemput Hesa saat pulang sekolah. Kebetulan di kelas 3 ini, Hesa ada bimbel di sekolah di hari yang berbeda-beda, membuat ia pulang jam 4 kurang, artinya pas untuk menjemput Sania di kampus.

Contohnya seperti hari ini, ia dijemput Hesa di kampus, tentu sudah tidak dengan seragam SMA-nya. Namun, beda lagi dengan motor di belakang Hesa, yang mana si pengendaranya masih lengkap dengan seragam abu-abunya.

"Jay, jemput Jean?" tanya Sania.

"Iya, kak." Jawab Jay singkat.

"Jean masih di perpus balikin buku."

Jayden hanya mengangguk, kemudian mengeluarkan ponselnya. Sementara Hesa, ia memberikan helm pada Sania.

"Mana jaketnya?" tanya Hesa.

"Hah?" Sania ngelag. "OH IYA! Bentar, ketinggalan di kelas." Gadis itu mengembalikan helm Hesa lagi. Ah, bukan, sebenarnya itu helm miliknya yang dibawa Hesa karena Sania malas bawa helm jika naik ojol atau saat nebeng Naren.

"JANGAN LA- astaga," Hesa menggeleng melihat tingkah pacarnya yang ada-ada saja. Kemudian ia menoleh ke belakang, di mana Jayden berada. "Udah kasih tau kakak lo?"

Jayden mengangguk. "Udah, otw bawah."

Benar saja, tidak lama kemudian, Jean datang. "Kok nggak ganti baju?" tanyanya pada Jayden.

"Ngapain? Aku cuma anter Kakak, nggak masuk."

"Jay...?"

"Nggak penting, Kak. Yang Papa mau cuma ketemu Kakak,"

"Tapi Papa minta kita bertiga, bukan cuma Kakak doang. Udah, pokoknya mampir dulu ke toko baju."

"Males banget. Cepetan naik!"

Hesa yang mendengar perdebatan adik-kakak itu merasa kaget. Bukan apa-apa, Jayden di kalimat terakhirnya sedikit meninggikan bicaranya. Mirip seperti Jayden yang selama ini ia lihat kalau lagi marah. Beda ya sama Jayden jutek.

"Sa, duluan!" Jayden kemudian melajukan motor besarnya, meninggalkan area fakultas.

Anak itu lumayan peka, mood Jayden belakangan memang tidak bagus. Dikit-dikit marah, dikit-dikit tersinggung, mirip perempuan PMS.

"Jean udah turun, ya?" tanya Sania yang baru tiba, lengkap dengan jaket yang sudah melekat di tubuhnya.

"Baru aja pergi, belum ada semenit."

Sania mengangguk-angguk, lalu mengambil alih helm yang telah disodorkan Hesa. Ia pun memakainya sebelum akhirnya naik ke atas motor matic pacarnya. Tangannya berpindah ke pinggang laki-laki itu, lalu Hesa melajukan motornya.

Hari ini mereka akan mampir makan gelato dulu. Sania mau coba gelato  di persimpangan besar dekat kantor pos kota. Hesa sih ayo-ayo saja, dia malah senang kalau harus banyak menghabiskan waktu dengan Sania.

Setelah sampai, keduanya langsung memilih varian yang mereka inginkan, kemudian duduk di meja kayu yang kosong di halaman toko. Suasana sore yang agak mendung tapi masih bermatahari ini sangat mendukung acara makan gelato mereka.

"Kak, aku mau nanya deh." Jangan heran dengan sebutan itu, biasanya Hesa akan memanggilnya di awal saja kok, karena ia sendiri merasa aneh kalau memanggilnya 'San'.

TANGLEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang