18- TAK KUNJUNG BERTEMU

39 8 0
                                        

“Bahkan bulan dan bintang pun menunduk melihat kecantikan dirimu.” -Afga.

🎀 HAPPY READING 🎀

Sudah beberapa hari ini Afga tidak bersemangat sekolah, latihan, atau apapun itu. Fisik nya juga kacau, kantong mata menghitam, rambut acak-acakan, selalu terlihat lemas, dan sering tidur di jam pelajaran.

Teman-teman nya pun menyadari itu, terlebih lagi Reno. Pemuda itu tahu bahwa ada yang tidak beres dari kondisi Afga. Apalagi beberapa hari ini juga mereka tidak melihat Lentera di sekolah.

Tentu saja, alasan Afga menjadi seperti ini karena ia tak kunjung juga menemukan keberadaan Lentera. Gadis itu hilang kabar begitu saja, seakan-akan menghilang ditelan bumi. Afga begitu khawatir sehingga jam tidur nya berantakan, nafsu makan nya berkurang, dan ia begadang untuk mencari tahu di mana keberadaan Lentera.

Rasa rindu membuncah di dada Afga. Kerinduan itu bercampur dengan kekhawatiran nya terhadap gadis mungil yang akhir-akhir ini selalu mengisi hari-hari nya.

Afga menduga, bahwa ini ulah Dito Mahesa yaitu ayah nya Lentera. Pasti dia lah yang menjadi dalang hilang nya Lentera.

Afga menundukkan wajahnya di lipatan tangan yang ada di atas meja. Memejamkan matanya namun pikiran nya melalang buana mencari cara agar bisa menemukan Lentera.

“Af, lo akhir-akhir ini kenapa sih?” tanya Rilan heran. Namun tak ada jawaban apapun dari Afga.

Fian menghela nafasnya panjang, “Kita ngeliat lo yang begini nggak enak banget tau. Rasanya ikut nggak bersemangat.”

“Cerita kalau emang ada masalah!” ucap El.

Namun mereka semua hanya mendapat acuhan dari Afga. Pemuda itu tak memperdulikan dan tetap fokus pada pikirannya sendiri.

Sebenarnya di mana dia?

🎀

Suasana kamar yang temaram dan sunyi sebuah kamar membuat kesan yang suram. Seorang gadis berambut panjang duduk termenung di atas ranjang. Matanya menatap kosong ke depan seraya bibir nya menggumam pelan berkali-kali.

Lentera telah terkurung selama dua Minggu di dalam kamarnya tanpa di izinkan keluar barang sedetik pun. Dito, pria kurang ajar itu mengurung Lentera agar orang-orang tidak mengetahui sifat bejat nya yang telah menghabisi seorang wanita. Pria licik itu benar-benar bisa membuat topeng sesempurna itu.

Sedangkan di sisi lain, tepatnya di kediaman Dito.

“Ngapain mas kurung dia?” Lamaya terlihat tak terima.

Dito tetap fokus kepada dokumen-dokumen yang tengah di bacanya, “Kamu nggak perlu sekhawatir itu, dia bisa aja bocor dan lapor polisi. Meski dia nggak punya bukti, tapi kalau laporan dia sampai terendus media massa itu jadi problem buat saya.”

Lamaya menggelengkan kepalanya, “Kalau tau bakal kayak gini, harusnya mas Dito dari awal nggak perlu cari wanita itu! Harusnya dulu mas Dito acuhin aja karena dia cuma wanita gila! Kalau ujung-ujungnya mas Dito habisin kayak gini, mending mas Dito telantarkan aja wanita itu bareng anaknya!”

“Diam Lamaya! Kamu nggak tau apa-apa tentang ini. Kalau seandainya waktu itu saya biarkan mereka terlantarkan, apa yang bakal di lakuin wanita gila itu?! Kamu tau kan kalau dia gila cuma pas kambuh doang? Bayangkan, image saya bisa hancur karena wanita gila itu pasti mengingat wajah saya!” Dito meletakkan dokumen nya dan memijat pelipisnya yang terasa pening.

Lamaya terdiam, nafas nya memburu. Ia merasa tak tega kepada Lentera, biarpun anak itu adalah hasil anak haram suaminya dengan wanita lain. Tapi melihat Lentera, membuat Lamaya yang notabene nya memiliki apa perempuan juga merasa kasihan dan miris. Lamaya tak setega itu karena ia membayangkan jika Edeline yang ada di posisi Lentera. Terkadang Lamaya pun tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.

“Bebaskan dia mas...” lirih Lamaya lalu hendak beranjak pergi.

“Berhenti ikut campur urusan saya, jaga batasan kamu Lamaya!” ucapan pedas Dito berhasil membuat langkah Lamaya berhenti.

Wanita cantik itu menoleh menatap suaminya miris, “Mas nggak pernah bayangin kalau anak kita yang ada di posisi Lentera?! Mas bayangin!! Sehancur apa hati Edeline ketika melihat aku tiada?! Apa mas nggak pernah terpikirkan itu?! Aku mendengar bahwa mbak Amira tiada dengan cara seperti itu ikut miris mas!” Lamanya berteriak beriringan dengan air matanya yang mengalir, merasa iba dengan nasib Lentera.

Dito terdiam. Hanya diam tak membalas ucapan Lamaya.

“Itu salah mas sama mbak Amira, tapi kenapa Lentera yang harus nanggung akibatnya? Aku tau kalau Lentera juga pasti pengen punya kehidupan normal layaknya remaja lain. Cukup selama ini mas selalu jadiin Lentera samsak berjalan, bebasin Lentera, mas!”

Dito berang, ia melempar sebuah vas yang ada di meja kerjanya. Lemparan nya mengenai tembok tepat di samping wajah Lamaya. Membuat wanita itu terdiam shock.

“LANCANG! Kamu ingat Lamaya, dia bukan Edeline! Jadi nggak perlu kamu bayangkan bahwa Edeline ada di posisi anak itu!” Geram Dito seraya menekan tiap kalimat nya.

Lamaya terdiam dan bergegas pergi dari ruangan kerja sang suami. Tanpa mereka sadari sedari tadi Edeline mendengarkan pembicaraan keduanya. Edeline mendengarkan pertengkaran ayah dan ibunya.

“Kak Lentera...” gumam Edeline seraya mengepalkan telapak tangannya kencang.

🎀

“Nggak bisa, Af. Dito itu dewan, jadi penjagaan dia sangat ketat.”

Afga menghela nafasnya panjang mendengar ucapan ayahnya. Bahunya menurun lesu.

“Kita coba dulu pakai 'orang-orang' ayah. Aku nggak bisa tinggal diam aja, aku rasanya mau mati nggak ketemu sama Lentera beberapa Minggu ini. Khawatir banget, Yah.” Ucapan Afga barusan mendapatkan sentilan oleh Arini.

“Kamu kalau ngomong sembarangan aja! Mau mati, mau mati, kek siap mati aja! Dasar bulol.” omel Arini dengan tampang yang menurut Afga menjengkelkan.

“Gaya banget ngomong nya bulol, kek tau artinya aja.” gumam Afga.

“Kuasa kita ngga sebesar itu buat bikin Dito di tangkap. Apalagi kita nggak punya bukti apa-apa.” ucap Seno Pratama Putro — ayahnya Afga atau kepala keluarga Pratama.

Lagi-lagi Afga menghela nafasnya panjang, semua tentang Lentera terlalu rumit untuk Afga. Tak terbayangkan seberapa kuatnya Lentera bisa berdiri sampai saat ini.

“Lo hebat, Lentera.” gumam Afga seraya memejamkan matanya.

Afga tidak bisa tinggal diam. Ia sudah menceritakan semua yang ia tau tentang Lentera kepada orang tuanya. Awal nya Arini marah karena tau bahwa ia dan Lentera tinggal dalam satu unit apartemen yang sama. Arini bilang bahwa seharusnya Afga membawa Lentera ke rumah mereka agar ada yang mengawasi ketika Afga pergi.

Namun, kini semuanya terasa hampa bagi Afga. Perasaan apa yang sebenarnya Afga rasakan?

Rasa khawatir yang berlebih,  rasa ingin melindungi, rasa ingin membuatnya selalu tertawa, rasa sedih ketika melihat menangis, dan rasa marah ketika melihatnya terluka.

Afga menginginkan Lentera selalu di sisi nya.

🎀 TO BE CONTINUED 🎀

tarik nafas, buang... jangan emosi santai 🤭

tuu akuu kasii tunjuk yg penasaran sama sifat aslinya Dito and Lamaya. buat Edeline masii pada penasaran? next chapter maybe bakal adaa sifat aslinya Edeline yaa :v

tapii, kalian setuju gaa sama ucapan Lamaya? akuu sii setuju yaa, hrs nya klo emg ujung" nya bakal di bunuh mending di telantarin aja yaa gaa sii?? setidaknya klo di telantarin kan masii bisa idup, biarpun jadii org jalanan ge.

TERTULIS
13 DESEMBER 2024

BELIEVE ME!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang