20- MELEPAS JERATAN

32 5 0
                                        

⚠️Chapter ini mengandung kekerasan, mohon untuk tidak meniru nya atau bagi yang dibawah umur disarankan agar tidak membacanya karena dapat menganggu psikis kalian.

“Menangislah bila itu memang perlu, sewajar malam menyelinap pergi, dan seikhlas pagi yang bersedia kembali.” -Afga.

🎀 HAPPY READING 🎀

Suara kunci pintu yang di buka sepelan mungkin terdengar di telinga Lentera. Gadis berambut panjang bergelombang itu melirik sesaat sebelum kembali menatap kosong ke depan. Ia duduk memeluk dirinya sendiri di atas ranjang dengan kondisi kamar yang gelap gulita.

Ceklek

Pintu di buka dari luar, membuat seberkas cahaya dari luar pintu masuk ke dalam gelap nya kamar. Edeline, gadis yang mengenakan gaun tidur berwarna putih dan rambut hitam bergelombang yang panjangnya sepinggang itu terlihat bak tuan putri.

Lentera menatap datar Edeline yang kini telah kembali menutup pintu dan menghidupkan sebuah lilin. Edeline berjalan mendekati Lentera.

“Kak, maafin aku dan mami ya...” bisik Edeline. Gadis itu meletakkan lilin di atas meja nakas, lalu duduk tepat di hadapan Lentera.

“Aku janji, bakal bantuin kak Lentera keluar dari jeratan Papi.” tangan Edeline merapihkan rambut Lentera yang berantakan.

Lentera hanya menatap datar Edeline tanpa emosi apapun. Matanya kosong layaknya tak memiliki kehidupan. Edeline tersenyum getir melihat kondisi Lentera. Edeline bangkit berdiri mencari kotak P3K di dalam laci meja nakas dengan pencahayaan yang minim.

Setelah mendapatkan nya ia pun izin mengobati luka di pergelangan tangan kiri Lentera. Dengan telaten Edeline mengobatinya dan membungkusnya dengan kain kasa agar tidak dapat di garuk oleh Lentera.

“Bertahan sebentar ya kak, aku sama mami bakal usahakan secepatnya.” Edeline memeluk Lentera sekilas, tangan nya menyelipkan sesuatu di balik kerah gaun tidur berwarna coral yang Lentera kenakan.

“Afga...” lirih Lentera.

Edeline mengernyitkan dahinya ketika mendengar suara Lentera yang samar-samar. “Afga? Dia siapa kak?”

“Afga Naufal Pratama.” lirih Lentera menjawab nya. Edeline mengangguk pelan, mengetahui bahwa laki-laki yang di sebutkan kakaknya adalah keluarga Pratama. Keluarga yang cukup tersohor di kota ini.

Setelah mengatakan itu Edeline pun beranjak pergi dari kamar Lentera. Dan kembali menguncinya, Edeline tak dapat berlama-lama karena bisa saja dia ketahuan.

Setelah Edeline pergi, kamar Lentera kembali sunyi. “Afga?” lirih Lentera.

🎀

Dito menyuruh anak buah nya untuk menyeret Lentera ke ruang bawah tanah. Lentera yang tak berdaya pun terseok-seok mengikuti langkah anak buah Dito menuruni anak tangga menuju ruang bawah tahan.

Dito terlihat marah, sebab mengetahui bahwa keluarga Pratama mencari tahu di mana keberadaan Lentera. Lancang sekali mereka.

Lentera di lempar begitu saja oleh anak buah Dito sehingga gadis itu bersimpuh di atas dingin nya lantai. Dito sendiri mendudukkan dirinya di atas kursi kebanggaan nya seraya menyalakan cerutu.

“Saya serahkan pada kalian, asal jangan sampai mati.” Satu perintah lolos begitu saja dari Dito kepada anak buahnya.

Theo dan Ben mulai melucuti pakaian yang Lentera kenakan, sekuat tenaga Lentera memberontak. Namun, yang ia dapat hanya tamparan keras di pipi nya tiap kali memberontak. Membuat sudut bibir Lentera mengeluarkan darah segar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BELIEVE ME!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang