🎀 HAPPY READING 🎀
Edeline Permata Mahesa, nama yang cantik seperti wajah sang empu. Ia adalah permata bagi keluarga Mahesa. Sedari kecil ia hidup bergelimang harta, sehingga apapun yang ia minta pasti akan langsung di dapatkan nya. Hidupnya sebahagia itu di mata orang-orang yang melihat nya.
Mendapatkan semua kemewahan dalam hidupnya membuat Edeline bak seorang tuan putri dari negeri dongeng. Cara bertutur kata, bertingkah laku, dan cara memandang dunia, semuanya ada aturan nya.
Namun tak ada yang menyangka bahwa Edeline tidak sebahagia itu, hidupnya tidak seindah tuan putri di negeri dongeng. Edeline merasakan keretakan pada sifat ayahnya. Ia yang dulu masih kecil belum mengetahui nya. Tiap kali di depan umum ayahnya akan nampak sangat menyayangi nya, lebih dari apapun yang ada di dunia. Tetapi ketika tidak ada khalayak atau kamera, ayah nya akan berubah menjadi cuek dan tempramental.
Seiring nya usia Edeline beranjak, ia sadar bahwa kehidupan ayah nya penuh kebohongan, penuh dengan topeng untuk membangun citra nya. Edeline merasa hampa, apalagi ketika mengetahui ayah nya memiliki seorang anak yang di sembunyikan.
Itu rahasia keluarga Mahesa, ibunya bahkan ikut menutup-nutupi hal itu dari Edeline. Mereka pikir, Edeline akan sebodoh itu sampai tidak mengerti apa yang terjadi. Tepat pada saat ulang tahunnya yang ke 9 tahun, Edeline melihat seorang gadis yang hanya berbeda satu tahun dengan nya itu terlihat datang ke acara ulang tahun nya.
“Mami, siapa dia?” Edeline kecil menunjuk seorang anak bergaun putih selutut yang hanya berdiri menatap keluarga Mahesa dari kejauhan.
Lamaya menatap ke arah di mana putri nya menunjuk. Matanya seketika menangkap anak hasil hubungan terlarang suaminya. Saat itu rasa iba muncul karena anak kecil itu terlihat ingin masuk ke dalam acara ulang tahun Edeline. Namun rasa iba nya tertutupi oleh rasa kesal, bagaimana pun dia adalah anak hasil dari hubungan terlarang suaminya dengan wanita lain.
Edeline kecil bingung, karena ibunya tak lekas menjawab. “Mami, siapa dia??”
Lamaya tersenyum lembut ke arah anak nya. “Dia anak nya tante Amira.” ya, hanya itu yang mampu Lamaya ucapkan karena biar bagaimanapun itu adalah masalah dirinya, suaminya, dan Amira. Anak-anak mereka tidak ada keterkaitan nya.
“Tante Amira? Siapa itu, Mih?”
Lamaya terdiam sejenak, “Kapan-kapan Mami kenalin ya.” Edeline kecil hanya mengangguk mengerti.
“Ed mau ajak dia masuk ya mih?” tanya Edeline kecil.
Belum sempat Lamaya menjawab, beberapa anak buah Dito sudah membawa anak kecil bergaun putih itu pergi dari depan gerbang mansion tersebut menuju gudang di belakang mansion.
Saat itulah pertama kali bagi Edeline bertemu dengan Lentera. Ia mengetahui bahwa Lentera adalah anak hasil hubungan terlarang ayahnya dengan Amira saat usianya 15 tahun.
Awalnya memang Edeline tidak menerima kehadiran Lentera dan membenci nya ketika Lentera mulai tinggal satu mansion dengan keluarga Mahesa. Tetapi ia beberapa kali memergoki Lentera yang terluka sehabis menjadi korban pelampiasan amarah Dito.
“Hiks hiks, ibuu... Sakit.” lirih Lentera yang masih menggenakan seragam biru-putih nya. Dia menangis di bawah pohon yang ada di samping gudang belakang mansion.
Edeline yang tadinya hendak pergi ke lapangan golf pun terhenti ketika melihat Lentera yang tubuhnya lebam-lebam tengah menangis seorang diri di bawah pohon.
Edeline mengintip di balik batang pohon tepat di belakang Lentera. Edeline pun meletakkan stik golf nya dan duduk membelakangi batang pohon tersebut, menemani secara diam-diam Lentera yang menangis sembari memanggil-manggil nama ibunya, tanpa di ketahui oleh Lentera.
Beberapa hari kemudian.
Edeline melihat Lentera yang di seret paksa oleh Dito menuju gudang dan terdengar suara teriakan kesakitan Lentera yang nyaring sembari memohon ampun. Edeline bersembunyi seraya menunggu Dito pergi.
Setelah amarah Dito terlampiaskan, pria dewasa itu pergi dari gudang setelah mengunci Lentera di dalam gudang. Malam itu Edeline kembali duduk membelakanginya pintu gudang dan bersandar di sana seraya menemani Lentera menangis secara diam-diam lagi.
Kejadian itu selalu Edeline lakukan setiap kali melihat Lentera menangis.
Semenjak Lentera masuk ke SMA, Edeline tidak pernah lagi melihat Lentera menangis. Ayah nya pun lebih sering memukuli Lentera di ruangan tertutup yang tak bisa Edeline akses. Edeline pun menyadari bahwa Lentera tumbuh menjadi anak yang ceria.
Namun, pada suatu hari prasangka Edeline tentang Lentera yang tumbuh menjadi anak ceria terpatahkan. Terlebih ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Malam ini Edeline berjalan menyusuri taman kecil hendak menuju ayunan. Namun langkah nya terhenti saat melihat Lentera tengah duduk di atas kursi taman yang gelap hanya berteman lampu temaram berwarna kuning. Tangan Lentera memegang sebuah pecahan kaca dan menyayatkan nya ke pergelangan kiri tangannya.
Edeline bingung, harus mencegah atau apa. Mereka tidak sedekat itu, Lentera terlalu tertutup kepada keluarganya. Bahkan Edeline pun tak pernah sekalipun terlibat obrolan dengan Lentera. Edeline selama ini hanya memperhatikan Lentera diam-diam. Ketika papasan pun Lentera seolah-olah tidak melihat Edeline. Membuat Edeline tidak pernah bertegur sapa dengan Lentera.
Hingga akhirnya Edeline membiarkan Lentera melakukan hal itu. Setiap kali Edeline melihat Lentera melukai dirinya, hati Edeline merasa sakit dan selalu ingin meneteskan air mata.
Sejak malam itu Edeline akhirnya tau mengapa Lentera lebih sering menggunakan baju lengan panjang. Alasannya untuk menutupi bekas-bekas luka goresan yang di ciptakan nya sendiri.
Edeline sadar, mental Lentera terguncang. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, hidup nya juga di kendalikan oleh ayahnya.
Edeline hendak menuju ruang kerja sang ayah. Tetapi langkah nya terhenti ketika mendengar Lamaya dan Dito tengah bertengkar. Semuanya karena Lentera.
Mata Edeline memanas dan berkaca-kaca mendengar ucapan ayahnya.
“LANCANG! Kamu ingat Lamaya, dia bukan Edeline! Jadi nggak perlu kamu bayangkan bahwa Edeline ada di posisi anak itu!” setelahnya Edeline buru-buru bersembunyi. Benar saja ibu nya keluar dari ruang kerja ayah nya dengan raut wajah marah.
Edeline mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia merasa ayahnya begitu kejam dan keterlaluan kepada Lentera. Lentera juga manusia yang punya hati dan perasaan, Lentera juga berhak bahagia.
Tangan Edeline terkepal kuat sampai buku jarinya memutih. “Kak Lentera...”
“...berhak bahagia juga.” bisik nya pada angin yang berembus.
🎀 TO BE CONTINUED 🎀
gimana? siapa yg ngira Edeline ituu benci ke mbak Len?? 🤭 selamat kena prank di chapter kemarin🥰🤭
sekarang tau kan sifat nya Edeline gimana? wajar kan kalo di awal-awal dia benci mbak Len, yaa namanya juga manusia, sapa si yang terima kalo ternyata itu anak hasil selingkuhan nya bokap kita? wkwk
TERTULIS
13 JANUARI 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
BELIEVE ME!
Teen Fiction(jika kau membacanya maka kau abadi di dalam karyaku.) "Mau sedalam apapun laut dimata lo, tolong jangan sesekali berfikir untuk menenggelamkan diri." -Afga. Terlahir dari rahim wanita gila bukanlah kemauan nya. Namun terkadang takdir memang seberca...
