🎀 HAPPY READING 🎀
Lentera membuka ponselnya seraya merebahkan dirinya di atas kasur. Ia baru saja selesai mandi. Tangan nya menekan room chat nya dengan Afga ketika memiliki beberapa pesan dari laki-laki itu.
Baru saja akan mengetikkan balasan, tiba-tiba panggilan telepon dari Afga membuat Lentera mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengangkat telepon tersebut.
“Halo Ra, Gue agak telat ke apart. Soalnya ini lagi ada acara bareng temen-temen gue.” ucap Afga yang terdengar lumayan berisik.
“Iya, nggak masalah kok. Jangan buru-buru have fun sama temen-temen lo ya.” Lentera memandang plafon kamar apartemen itu dengan banyak pikiran.
“Kalau ada apa-apa langsung hubungi gue, biar langsung datang gue nya.”
“Iya, Afga.”
“Beneran ya, jangan macem-macem!”
“Iya, nggak bakal kok. Tenang aja.”
“Gue nggak bisa tenang, intinya kalau pengen melukai diri lo harus langsung telpon gue biar gue bisa langsung dateng.”
“Iyaa nanti gue telpon elo kok. Udah sana have fun bareng temen-temen lo,” ucap Lentera seraya terkekeh pelan.
“Ya udah gue matiin. Good night mo lova.”
“Ehehe good night to!”
Setelah panggilan terputus, Lentera keluar dari kamar apartemen dan menuju ke dapur mini. Ia membuka kulkas dan mengambil sebuah apel. Ia memakan nya dengan cara menggigit buat apel tersebut secara utuh.
Tangannya kembali membuka pintu kulkas saat teringat bahwa ia akan mengambil minum. Lentera memilih mengambil susu kotak coklat yang tersedia. Ia menuangkan susu kotak tersebut ke dalam gelas secukupnya lalu kembali meletakkan susu kotak tersebut ke dalam kulkas.
Ia mengenggak nya sehingga tersisa setengah gelas. Saat hendak menggigit kembali apel nya, ia mengurungkan niatnya ketika bel pintu apartemen berbunyi.
Ting tung
Ting tung
Bunyi bel itu berturut-turut tak sabaran. Membuat Lentera bergegas berjalan menuju pintu apartemen. Tanpa melihat di lubang intip, Lentera segera membuka pintu apartemen. Begitu pintu terbuka matanya langsung menangkap seseorang yang sangat tidak ingin di lihatnya.
Jantung nya berdetak kencang, nafasnya memburu, dan rasa sesak di dada membuatnya tak bisa berkutik.
“Jadi ini tempat persembunyiannya kamu? Sekarang kamu jadi jalang nya keluarga Pratama?” ucapan itu membuat Lentera marah namun tak bisa melakukan apapun.
“Seret dia ke mansion dan kurung dia!” perintah Dito kepada anak buahnya.
Kedua anak buah Dito mencengkram erat kedua pergelangan tangan Lentera, membuat gelas berisi susu di tangan nya jatuh pecah dan isinya berceceran. Gadis itu berusaha memberontak, namun apa daya ketika tengkuknya di pukul telak oleh salah satu anak buah Dito. Seketika itu kegelapan yang menghampirinya.
🎀
Afga melangkahkan kakinya di lorong apartemen. Di luar dugaan, ia ternyata baru bisa datang jam sebelas malam. Ketika sampai di depan pintu kamar apartemen nya, ia mengernyit heran ketika melihat pintu apartemen tak tertutup rapat.
Ia membuka pintu apartemen semakin lebar. Pemandangan yang ia dapat adalah noda susu coklat yang tercecer bersama dengan pecahan gelas kaca. Raut panik seketika tergambar di wajah pemuda tersebut.
“Lentera?!” panggil nya panik.
Kakinya melangkah masuk menjelajahi isi apartemen namun ia tak kunjung menemukan keberadaan Lentera.
“Shit! Apa yang udah terjadi?!” pekik Afga seraya mengacak-acak rambut nya.
Ia merogoh ponselnya di dalam saku jaket bomber nya. Mendial nomor telepon Lentera, namun suara dering ponsel malah terdengar dari dalam kamar. Afga pun bergegas menuju kamar, dan menemukan ponsel Lentera tergeletak di bawah bantal.
Sial, sebenarnya apa yang terjadi?!!
Afga meraih ponsel Lentera lalu keluar dari kamar apartemen menuju ruangan sekuriti di lantai dasar.
“Kalau lo sengaja buat pergi, nggak mungkin ponsel lo tinggal dan nggak mungkin bakal ada kekacauan di depan pintu.” gumam Afga seolah-olah berbicara kepada Lentera.
“Sebenernya apa yang terjadi sama lo, Ra?” gumam nya khawatir.
Ia keluar dari lift lalu berjalan menghampiri ruangan sekuriti. Ia meminta kepada sekuriti untuk menunjukkan rekaman CCTV dua jam yang lalu. Namun, ketika ia melihat di CCTV tidak ada yang aneh, tidak ada juga CCTV menangkap Lentera keluar dari apartemen. Sial, kemana Lentera sebenarnya?!
“Bapak emang nggak ngeliat nih cewek keluar dari apartemen?” tanya Afga menunjukkan ponsel nya yang terdapat gambar seorang gadis tengah tersenyum cantik.
Bapak sekuriti menggelengkan kepalanya, “Tidak mas, saya tidak melihat nya.”
Buntu, semua nya seakan-akan ada yang menutupi hilangnya Lentera. Afga memutuskan pergi ke meninggalkan ruangan sekuriti. Ia berniat pulang ke rumahnya untuk menemui ayahnya.
Ia akan meminta bantuan kepada orang-orang ayahnya untuk mencari kemana perginya Lentera. Ia sungguh sangat mengkhawatirkan kondisi Lentera.
Sepertinya Afga, bapak sekuriti itu mengangkat panggilan telepon dari seseorang.
“Siap, semua nya aman pak.”
“Bagus, uang nya sudah saya transfer. Awas saja kamu 'bocor'.”
“Siap, tidak akan pak. Terimakasih.”
🎀
Bulu mata lentik itu bergerak perlahan seiring nya mata indah itu yang terbuka. Gadis itu mengerjapkan matanya, lalu memegang kepalanya yang terasa pening.
Ia menyadari bahwa semalaman ia tertidur di atas dingin nya lantai. Ia menatap ke sekeliling dan ternyata ini adalah tempat yang menurutnya adalah 'sangkar emas' yang sangat mengerikan.
Gadis berambut panjang itu mendudukkan dirinya bersandar pada meja nakas. Terdengar suara kunci yang di buka dari pintu kamarnya dan muncul seorang maid membawakan troli makanan.
Setelahnya maid itu segera keluar dan kembali mengunci pintu kamar tersebut meninggalkan gadis berambut panjang bergelombang itu.
“Gue nggak mau di sini...” lirih gadis itu sembari menggaruk pergelangan tangan kirinya yang terdapat luka goresan yang telah mengering. Garukan nya semakin kencang seiring dengan ketakutan nya, membuat luka-luka kering itu kembali terbuka dan mengeluarkan darah.
“Ibu tolong....”
🎀 TO BE CONTINUED 🎀
udaa mulai masuk konflik nii, tapii tenang aja inii konflik nya kecil-kecilan kok. konflik nya juga gaa terlalu berat, mungkin? karena jujur akuu kalau baca novel gaa suka konflik berat🤗🥰
kira-kira male lead bisa nemuin Lentera gaa yaa?? 😨😨😨
TERTULIS
07 DESEMBER 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
BELIEVE ME!
Roman pour Adolescents(jika kau membacanya maka kau abadi di dalam karyaku.) "Mau sedalam apapun laut dimata lo, tolong jangan sesekali berfikir untuk menenggelamkan diri." -Afga. Terlahir dari rahim wanita gila bukanlah kemauan nya. Namun terkadang takdir memang seberca...
