00.09
Satu botol wine duduk di atas meja kaca, segel terbuka. Menghadap meja kaca itu, ada Sakura dan Sasuke yang duduk berdampingan di sofa. Lengan Sasuke terentang di bahu sofa, dan Sakura menyandarkan pundaknya di sana. Segelas wine berada di genggaman mereka, menjadi teman obrolan.
Sakura memuji rasa wine yang disuguhkan Sasuke padanya, Sakura juga bertanya tentang saudara Sasuke yang menghadiahkan wine itu untuk Sasuke. Pertanyaan semacam apakah saudara Sasuke mempunyai urusan di Ame dan hal sepele semacam itu, dan Sasuke menjawab pertanyaan Sakura dengan anggukan ringan. Sasuke mengatakan kalau Itachi, kakaknya, memang memiliki pekerjaan di Ame dan sering bolak-balik dari Ame ke Konoha.
Namun, dalam ceritanya, Sasuke tidak mengatakan kalau wine yang diberikan Itachi adalah hadiah natal tahun lalu--bukan sesuatu yang baru ia terima.
Sasuke tidak mau Sakura tahu tentang kapan wine itu dihadiahkan Itachi padanya. Sasuke tidak mau Sakura mengira Sasuke hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Sakura dengan menjadikan wine itu sebagai alasan. Walau, memang, itu benar.
Sasuke tidak mau Sakura besar kepala.
Setelah pembahasan tentang wine, lalu Uchiha Itachi yang dikisahkan Sasuke sebagai sosok yang lebih superior dan hebat darinya, Sakura dan Sasuke melompati topik demi topik yang terbilang tak bermakna. Mereka bernostalgia tentang masa lalu mereka yang jauh berbeda, melakukan perbandingan, dan menertawai kebodohan.
Sambil bercerita, Sakura menikmati wine-nya dengan mata yang terpaku penuh pada Uchiha Sasuke. Binar matanya menunjukkan kalau ia mendengarkan, ia peduli dan ia mengapresiasi setiap kata yang sudah keluar dari bibir pria itu.
Bahkan ketika topik obrolan mereka berpindah menjadi tentang Hinata dan Naruto, Sakura masih bertahan dan mengamati setiap cerita Sasuke dengan rinci. Sakura sama sekali tidak merasa risih ketika Sasuke memaparkan awal mula dia jatuh cinta pada Hinata, atau bagaimana dia melihat Hinata dalam perspektif pria yang sedang kasmaran.
Sakura, sejujurnya, sangat menikmati menjadi pendengar Sasuke. Sakura suka ketika pria itu terbuka padanya dan berani menceritakan masa lalunya tanpa rasa sungkan. Sakura suka mendengarkan kisah hidup Sasuke dan bagaimana cara pria itu memandang dunia.
Sakura terpikat pada setiap kepingan cerita yang Sasuke tuturkan. Terpikat pada cara pria itu bicara, nada suaranya, senyum yang lolos disela-sela ucapannya, binar teduh manik hitamnya, topik yang berpindah mengikuti kemauan hatinya--segala tentang Sasuke malam itu seperti menciptakan candu.
"Oh, maaf, aku sudah bicara panjang lebar." Sasuke menyadari kepasifan Sakura di tengah konversasi mereka dan merasa bersalah.
"Kau tidak perlu meminta maaf," sahut Sakura. "Aku senang mendengarmu bicara."
"Apa kau tidak merasa bosan?"
Sakura mengendikkan bahu. "Kau akan tau ketika aku bosan."
"Apa yang akan kau lakukan kalau kau bosan?"
"Aku akan tertidur." Sakura lalu tertawa.
"Mhm..., baguslah kalau aku tidak membuatmu bosan." Sasuke mengusap puncak kepala Sakura, membuat gadis itu bingung dan bimbang atas aksinya.
"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Sasuke, kali ini menaruh ketertarikan pada hidup Sakura. "Kau bilang kau menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Biasa itu..., seperti apa?"
"Itu baru topik yang membosankan," Sakura memiringkan tubuhnya menjadi menghadap Sasuke, sebelah kaki naik di sofa, mata menyorot Sasuke dalam binar jenaka. "Apa yang ingin kau ketahui, tepatnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TWISTED NIGHT (SASUSAKU)
FanfictionApa yang terjadi malam itu adalah kesalahan. Twisted Night © Vivianne. NARUTO © Masashi Kishimoto.
