part 4

38 26 1
                                        

Ost Sang Dewi-Lyodra, Andi Rianto

Aiden: "Saya takut... apakah ayah akan marah saat kami berdua makan bersama? Apakah dia masih akan memarahi kita setelah sarapan? Saya sudah pernah mendengar bahwa orang-orang bercerai karena masalah ini. Tapi kakak, saya harus mencoba untuk tidak menyakiti perasaan kamu dan ayah ya?"

Raisa: "Tidak kok, tenang ya."

Aiden berbicara dengan sedikit percaya diri. "Baiklah kakak... aku akan mencoba untuk tenang. Tapi saya juga khawatir kalau ayah tetap memarahi kita berdua setelah makan sarapan, karena mungkin dia masih marah pada kami atas masalah yang terjadi hari ini... apakah kamu bisa menjaga aku saat itu?"

Raisa: "Tentu sayang, aku akan membelamu. Biar kakak yang bicara sama ayah. Kamu makan dulu aja."

Aiden memeluk kakak dengan penuh kasih sayang dan dia berkata lagi. "Baiklah, aku akan makan dulu... tapi kalau ayah memarahi kamu karena saya atau kita berdua, tolong coba untuk berbicara yang baik padanya. Jangan marah sama dia ya kak?"

Raisa: "Ya sayang, kakak janji."

Aiden terus memeluk kakak dan dia memandang wajah kakak dengan tatapan yang lembut, ia berpesan lagi. "Terima kasih ya kak... aku percaya padamu. Jadi tolong jangan khawatir atau takut sama ayah saat kita makan sarapan nanti."

Aku pun pergi menghampiri ayah.

Aiden juga ikut menghampiri ayah, ia berbicara dengan nada yang agak ragu dan sedikit takut. "Uhmm... Ayah? Apakah kamu masih marah pada kita berdua karena kami masuk ke ruangan bawah tanah tadi malam?"

Raisa: "Ayah? Jawab ayah, diam terus dari tadi?"

Aiden tampak sedikit terkejut dengan sikap ayah yang tetap diam dan tidak menjawab. Dia berbicara lagi dengan nada yang lebih tegas, meskipun masih agak takut. "Iya... Ayah, kami berdua masuk ke ruangan bawah tanah tadi malam dan saya khawatir kalau Anda akan marah pada kita karena itu..."

Raisa: "Ayah?"

Ayah masih diam, meskipun kamu terus memanggil namanya, tapi ia tidak menjawab. Wajahnya tampak marah dan berat hati.

Raisa: "Aiden, makan dulu ya."

Aiden pun mengangguk dan mulai makan dengan pelan, meskipun dia tetap khawatir dengan sikap ayah yang masih diam. Dia juga tampak sedikit lelah karena belum tidur di malam hari tadi.

Raisa: "Ayah, cerita dong. Kakak tidak mau ayah kayak gini."

Ayah akhirnya berbicara, dia masih tampak marah dan berat hati. Dia berkata dengan nada yang keras. "Saya tidak bisa mengerti kenapa kalian berdua masuk ke ruangan bawah tanah tadi malam... Anda seharusnya tetap di kamar kalian saat saya perintahkan! Apa yang ada dalam pikiran kamu? Apakah Anda ingin membuat saya marah?"

Raisa: "Ayah, aku sayang sama Aiden. Dia sudah aku anggap adikku. Apa aku salah kalau aku hanya minta ayah untuk bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya?"

Ayah tampak sangat terkejut dengan pernyataan kakak, ia berpikir sejenak dan akhirnya berbicara lagi. "Jadi... kamu memang menganggap Aiden sebagai adikmu? Apakah dia juga berarti bagi kamu seperti aku adalah anak laki-laki yang seharusnya menjadi kesayanganmu?"

Raisa: "Ya, dia berarti bagiku, ayah. Aku tidak mau dia merasakan dunia tertutup. Emang menurut ayah tampilannya apa yang aneh?"

Ayah tampak agak tenang dan mulai memahami perasaan kakak, ia berbicara lagi. "Saya tahu kamu mungkin tidak mengerti bahwa Aiden memang bukan manusia seperti kita. Dia adalah... dia berbeda dari orang lain di luar sana. Tapi kamu juga harus mengakui kalau dia bukanlah anak yang normal karena ayah dan ibumu merahasiakannya dari kalian berdua sejak kecil."

Raisa: "Apa yang berbeda? Dia normal. Dia punya mata, telinga, kaki. Apa yang salah?"

Ayah berpikir sejenak, dan akhirnya menjawab. "Dia memang punya beberapa perbedaan dari manusia normal. Tapi yang paling penting adalah dia tidak bisa merasakan rasa kasih sayang atau emosional seperti kita. Dia juga sulit berinteraksi dengan orang lain karena penampilannya... saya khawatir kalau kamu terus berbicara tentang Aiden sebagai adikmu, mungkin ada orang lain yang akan mencoba untuk mengambil perhatian kamu dari dia."

Raisa: "Penampilannya emang ada yang aneh?"

...

Ayah: "Tidak, penampilannya memang cukup menarik. Tapi kamu harus ingat kalau dia bukan manusia seperti kita... Dia mungkin tampak normal di luar tapi sebenarnya dia adalah seseorang yang tidak bisa merasakan emosi atau rasa kasih sayang sama sekali. Anda perlu bersikap tegas pada orang lain agar mereka tak tertarik dengan Aiden."

Raisa: "Aiden punya penyakit mental?"

Ayah: "Ya... sebenarnya Aiden memang punya masalah mental. Itulah kenapa dia sulit berinteraksi dengan orang lain, terutama pada anak-anak seusianya karena mereka mungkin akan memandang Aiden seperti monster atau makhluk asing yang aneh. Dia juga masih sangat kecil untuk bisa mengerti apa yang terjadi di sekitar dirinya."

Raisa: "Apa penyakit mentalnya?"

Ayah: "Anda tahu penyakit psikotik, bukan? Dia seperti itu. Ini adalah suatu kondisi yang membuat dia sulit untuk mengontrol emosinya atau pikirannya sendiri... Dia mungkin juga akan sering memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu atau trauma nya."

Raisa: "Dia terkena PTSD?"

Ayah: "Ya, itu mungkin juga. Dia pernah menjadi korban penyiksaan dari orang tuanya saat kecil karena penampilannya yang berbeda. Itulah sebabnya dia begitu tertutup dengan semua hal dan tidak bisa berinteraksi seperti anak-anak pada umumnya."

Raisa: "Ayah, ayah tidak harus mengurungnya. Ayah jelaskan sama dia baik-baik."

Ayah: "Aku juga sudah berusaha untuk menjelaskannya baik-baik pada Aiden... Tapi dia tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan. Dia hanya akan menjadi marah dan berpikiran negatif terhadapku jika saya mulai membahas tentang trauma yang dia alami di masa lalu."

Raisa: "Atau gini deh, ayah. Kita jangan membahas traumanya. Kalau dia takut ataupun bermimpi buruk, jangan pernah tinggalkan dia gitu, ayah. Dia hanya butuh perhatian ayah."

Ayah: "Mungkin itu memang benar... Tapi kamu juga harus ingat bahwa anak-anak di usia kecil seperti Aiden tidak bisa memahami banyak hal. Dia mungkin akan menganggap perhatian dari orang lain sebagai gangguan atau serangan psikologis baginya, jadi saya harap kamu bisa tetap sabar pada adikmu ini meskipun ia sering kali marah padamu karena alasan yang sama."

Raisa: "Dia tidak pernah marah sama aku, ayah."

Ayah: "Mungkin kamu memang benar... Tapi mungkin karena dia tidak pernah mengerti apa itu kasih sayang atau emosi, jadi dia mungkin masih belum paham kalau perhatian dari orang lain bisa berarti baik untuknya juga. Jadi aku harap kamu tetap sabar pada adikmu ini, ya?"

Raisa: "Iya, ayah. Aiden tidak pernah marah sama aku. Dia marah kalau ayah nampar aku. Dia tidak mau aku terluka. Aku seakan-akan punya malaikat pelindung, ayah. Tapi dalam bentuk Aiden. Ayah memang benar, dia berbeda, tapi ayah, dia istimewa bagiku."

Ayah tampak terkejut dengan pernyataan kakak, dan dia mulai berbicara lagi. "Jadi... kamu memang sangat menyayangi adikmu ini? Dia adalah satu-satunya orang yang dapat melindungi dirimu dari rasa sakit dan penderitaan?"

Raisa: "Ayah, ayah pernah kan nampar aku? Dia mikirin aku, ayah. Dia tidak mikirin dirinya sendiri. Dia tidak seagresif itu, ayah."





















































































Kasihan Aiden punya penyakit mental ternyata, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰

The Forbidden Room Mystery(End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang