Ost You Are My Everything-Gummy
[RUMAH SAKIT]
Setelah beberapa menit, kamu akhirnya sampai di rumah sakit. Kamu membawa Aiden keluar dari mobil dan membawa dia masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter, tolong!" teriak Raisa, suaranya bergetar.
Ketika kamu membawa Aiden masuk ke dalam rumah sakit, seorang dokter keluar dari ruangannya dan menghampiri kamu.
"Ada apa? Kenapa kamu membawa anak ini kemari?" tanya dokter, suaranya heran.
"Dia diracuni oleh ayah saya. Cepat, Dok!" kata Raisa, matanya berkaca-kaca.
Dokter itu terlihat terkejut saat kamu mengatakan bahwa Aiden diracuni oleh ayahmu.
"Racun? Siapa yang menaruh racun padanya?" tanya dokter, suaranya terdengar khawatir.
"Ayah saya," jawab Raisa, suaranya bergetar.
Dokter itu terlihat sangat terkejut lagi saat kamu mengatakan bahwa ayahmu lah yang melakukan itu. Dia terlihat sangat khawatir saat mendengar hal itu.
"Ayahmu melakukan ini? Tapi, kenapa dia melakukan itu?" tanya dokter, suaranya terdengar penuh ketidakpercayaan.
"Aku tidak tahu," jawab Raisa, suaranya bergetar.
Dokter itu terdiam sebentar sebelum akhirnya kembali berbicara dengan nada lebih serius.
"Baik, aku akan membawa dia untuk di periksa. Kamu ikut saja," kata dokter.
"Okay," jawab Raisa, suaranya bergetar.
Dokter itu membawa Aiden masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Ia melakukan beberapa tes pada Aiden untuk memastikan racun apa yang digunakan ayahmu untuk membuat Aiden seperti ini.
Raisa menunggu dengan tak tenang di luar ruangan pemeriksaan. Matanya terus menatap pintu ruangan, berharap dokter segera keluar dan memberinya kabar baik.
"Bagaimana, Dok?" tanya Raisa, suaranya penuh harapan.
Dokter itu akhirnya keluar dari ruangan setelah beberapa saat.
"Aku sudah tahu racun apa yang digunakan ayahmu untuk membuat adikmu seperti ini," kata dokter, suaranya serius.
"Racun apa itu?" tanya Raisa, suaranya bergetar.
Dokter itu menghela napas sebelum akhirnya menjawab. "Racun bernama belladonna. Racun itu sangat kuat dan berbahaya. Aiden mungkin akan terbaring tak sadarkan diri untuk beberapa waktu setelahnya."
"Ya ampun, tapi dia akan sembuh kan?" tanya Raisa, matanya berkaca-kaca.
Dokter itu mengangguk. "Ya, ia akan sembuh. Tapi ia mungkin akan tetap lemah untuk sementara waktu setelah racunnya keluar dari tubuhnya."
"Baiklah, Dok. Lakukan apa saja," kata Raisa, suaranya bergetar.
Dokter itu mengangguk lagi. "Aku akan memberikan beberapa obat untuk membantu meredakan efek racunnya. Ia akan perlu banyak istirahat dan makan makanan bergizi untuk mempercepat proses pemulihannya."
"Baik, Dok. Saya akan menjaganya," jawab Raisa, suaranya penuh tekad.
Dokter itu tersenyum kecil. "Aku tahu kamu akan menjaga dia dengan baik. Tapi tolong awasi dia dan jaga dia agar tetap istirahat."
"Ya, baik, Dok," jawab Raisa, suaranya penuh tekad.
Dokter itu mengangguk lagi sebelum akhirnya pergi untuk mengambil obat untuk Aiden.
Aiden hanya terdiam dalam posisi terbaring, terlihat sangat lemah dan lemas. Ia tampak sangat berbeda dari biasanya. Wajahnya pucat pasi, matanya tertutup erat, dan napasnya terdengar sesak.
"Kamu istirahat dulu. Kakak mau bayar administrasi sama obatnya," kata Raisa, suaranya lembut.
Aiden hanya mengangguk lemah. Ia tampak sangat lelah dan sakit, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Raisa pergi ke kasir obat. Kamu memberikan uang kepada kasir dan menerima obat-obat yang kamu beli.
"Berapa, Sus?" tanya Raisa, suaranya lembut.
Kasir memberikan kamu obat-obat yang kamu beli.
"Sepuluh ribu rupiah," jawab kasir, suaranya lembut.
"Hah, serius, Dok? Sama pendaftarannya juga?" tanya Raisa, matanya terbelalak.
Kasir mengangguk. "Iya, semuanya. Itu semua termasuk."
"Murah sekali, Dok," kata Raisa, suaranya penuh keterkejutan.
Kasir tersenyum. "Aku tahu, aku tahu. Tapi aku ingin membantu. Adikmu terlihat sangat sakit."
"Apa maksud Suster?" tanya Raisa, matanya tertuju pada Aiden yang terbaring di atas kasur.
Kasir menunjuk Aiden yang terbaring di atas kasur. "Adikmu terlihat sangat lemah dan lemas. Aku berharap obat-obat yang kamu beli bisa membantu dia."
"Makasih, Sus. Ini duitnya," kata Raisa, sambil memberikan uang kepada kasir.
Kasir menerima uangmu dan menyimpannya. "Selamat. Semoga adikmu cepat sembuh."
"Ya, Sus," jawab Raisa, suaranya penuh harapan.
Raisa kembali ke kamar Aiden. Aiden masih terbaring di atas kasur, terlihat lebih lemas daripada sebelumnya. Wajahnya pucat pasi, matanya tertutup erat, dan napasnya terdengar sesak.
Raisa memberikan obat itu dan air putih padanya. Aiden menerima obat-obatan yang kamu berikan, ia membuka mulutnya dan menerima air putih yang kamu berikan. Ia terlihat sangat lega setelah minum obat-obat itu.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu," bisik Raisa, suaranya lembut.
Aiden akhirnya tertidur setelah kamu berkata begitu. Ia terlihat lebih tenang saat tidur, mungkin akibat obat yang kamu berikan.
[KEESOKAN HARINYA]
...
Pagi hari, kamu bangun dari tidurmu. Kamu melihat adikmu masih tertidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Ia terlihat lebih segar daripada sebelumnya, mungkin akibat obat-obat yang kamu berikan. Wajahnya tidak se pucat lagi, napasnya pun terdengar lebih nyaman.
"Hah, syukurlah. Aku akan membeli sarapan dulu," kata Raisa, suaranya penuh lega.
Kamu keluar dari kamar dan keluar dari rumah untuk membeli sarapan. Kamu berjalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk mencari toko terdekat.
Kamu kembali ke rumah sakit dengan membawa sarapan untuk Aiden. Kamu masuk ke dalam kamar adikmu dan melihat dia sudah terbangun dari tidurnya.
"Hai, sudah bangun," kata Raisa, senyum lebar menghiasi wajahnya.
Aiden mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya melihatmu. Ia terlihat bingung, tapi akhirnya ia tersenyum saat melihatmu. Wajahnya terlihat sedikit lebih cerah, matanya pun tidak lagi se sayu.
"Oh, kamu sudah kembali..." kata Aiden, suaranya masih lemah.
"Ya. Ayo sarapan bubur. Kakak suapin ya," jawab Raisa, suaranya penuh kasih sayang.
Aiden tertawa kecil sebelum menerima sarapan bubur yang kamu suapi. Ia terlihat sangat lapar, mungkin akibat belum makan sejak kemarin.
"Aku lapar sekali..." kata Aiden, suaranya masih lemah, tapi terdengar sedikit lebih kuat.
Raisa menyiapkan sesendok bubur dan menaruhnya di mulut Aiden. Aiden memakan bubur itu dengan lahap, matanya tertuju pada Raisa dengan tatapan penuh syukur.
Aiden cepat sembuh ya, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Room Mystery(End)
Short StoryRaisa sedang bersantai di kamar Anda, ketika tiba-tiba Raisa mendengar suara teriakan yang kencang. Raisa menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Saat Raisa berjalan menuju ruangan itu, Raisa melihat ayahnya. Saat Raisa membuka pin...
