Ost Tentang Kamu-Lyodra
[KAMAR AIDEN]
Aiden terbaring lemah di atas kasur, wajahnya pucat dan keringat dingin mengucur di keningnya. Raisa duduk di sampingnya, mengusap pelan kepala Aiden.
"Aiden, makanlah. Kamu harus makan," kata Raisa, suaranya lembut. "Kamu akan sembuh."
Raisa mengambil sendok dan mulai menyuapi Aiden. Aiden terlihat sangat lemah saat Raisa menyuapinya, dia hanya bisa menerima suapanmu dengan susah payah.
"Pelan-pelan saja ya makannya," kata Raisa, suaranya penuh kelembutan. "Jangan terburu-buru."
Aiden mengangguk pelan saat kamu memberitahukan agar dia makan dengan pelan-pelan. Dia mulai makan dengan lebih perlahan, tapi tetap saja dia sangat lemas sehingga makanannya keluar dari mulutnya.
"Sini, muntah saja," kata Raisa, sambil mengambil plastik.
Raisa memberikan plastik itu kepada Aiden. Aiden dengan susah payah berhasil mengambil plastik itu dan mulai muntah dengan keras.
Raisa terus mengelus pundak Aiden dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Tenang, Aiden. Tenang."
Setelah beberapa saat, Aiden akhirnya berhenti muntah. Dia kembali terbaring dengan posisi lemah, tapi dia terlihat lebih tenang setelah muntah.
"Sudah, ini minum dulu," kata Raisa, sambil memberikan segelas air putih.
Aiden menerima air putih yang Raisa berikan. Dia minum dengan perlahan, air putih itu membuat tubuhnya sedikit lebih segar.
Raisa kembali menyuapi Aiden dengan lembut. Dia menerima suapanmu dengan sedikit rasa malas, tapi dia menerima setiap suapanmu dengan baik.
Setelah selesai makan, Raisa memberikan obat dan segelas air putih kepada Aiden.
[SORE HARI]
Cahaya sore menerobos celah-celah jendela kamar, menyorot wajah Aiden yang tertidur lelap. Raisa duduk di samping kasur Aiden, mengamati wajahnya yang pucat. Tangannya erat menggenggam tangan Aiden yang terasa dingin.
"Aiden, bangunlah," bisik Raisa, suaranya bergetar. "Aku tidak ingin melihatmu seperti ini."
Aiden mulai bergerak dalam tidurnya. Ia membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur. "Raisa...?"
"Aiden, sudah bangun. Mau makan?" tanya Raisa, suaranya penuh kelembutan.
Aiden menggerakkan tubuhnya dengan lemah, dan akhirnya dia akhirnya berhasil bangun sepenuhnya. Ia mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaanmu.
"Aku ingin makan..." kata Aiden, suaranya lemah.
Raisa mengambil sendok dan mulai menyuapi Aiden. Aiden menerima suapanmu dengan tangan yang masih gemetar. Ia menerima setiap suapan dengan sangat pelan, tapi dia terlihat sangat lapar.
"Ngak apa-apa, pelan-pelan aja. Kakak akan selalu ada untukmu," kata Raisa, suaranya penuh kasih sayang.
Aiden tersenyum tipis saat kamu mengatakan itu. Ia mulai makan dengan lebih cepat, tapi tetap saja ia berusaha untuk makan dengan pelan.
"Makasih... Kakak..." kata Aiden.
"Sama-sama," jawab Raisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Room Mystery(End)
Short StoryRaisa sedang bersantai di kamar Anda, ketika tiba-tiba Raisa mendengar suara teriakan yang kencang. Raisa menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Saat Raisa berjalan menuju ruangan itu, Raisa melihat ayahnya. Saat Raisa membuka pin...
