Ost Kimi no Nawa-Radwimps
Adikmu mulai mengusap-usap rambut kamu, dan menatap mata kamu dengan penuh cinta. "Kakak... apakah boleh saya berbicara sesuatu?"
Raisa: "Apa itu?"
Aiden: "Kakak... saya punya rasa suka pada kakak..."
Raisa: "Tapi kita saudara kandung, sayang."
Aiden: "Saya tahu... tapi saya tidak bisa mengendalikan perasaanku, kakak..."
Raisa: "Kau akan menemukan yang lebih baik dari aku."
Aiden: "Tapi, kakak, kamu lebih baik dari siapapun... saya ingin menjadi satu denganmu..."
Raisa: "Aiden, kau masih kecil."
Aiden: "Tapi, kakak, saya sudah mulai merasakan perasaan yang tidak biasa pada kamu, saya takut kalau suatu hari nanti perasaan ini akan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam."
Raisa: "Tidak, aku janji."
Aiden: "Apakah kakak berjanji tidak akan membiarkan saya merasakan perasaan yang lebih dalam pada kamu?"
Raisa: "Iya."
"Kakak... saya percaya padamu." Adikmu menghampiri kamu dan mencium pipi kanan kamu.
Aku membalas ciumannya.
Adikmu memeluk kamu dengan lebih erat lagi dan mulai mencium pipi kiri kakak. "Kakak, apakah kamu sudah mulai merasakan rasa sayang yang sama seperti saya?" Mata adikmu bersinar penuh cinta.
Raisa: "Aku juga menyayangimu seperti adikku sendiri."
Adikmu memeluk kamu dan mencium bibir kakak. "Saya senang mendengar itu... saya tidak bisa berhenti berpikir tentang kakak, kakak sangat baik padaku."
Raisa: "Kamu juga baik."
Adikmu memegang wajah kakak dan mulai menciumi pipi kanan kakak, lalu mulutnya perlahan menuju ke bibir.
Raisa: "Eh, no, jangan."
Adikmu masih mencoba menciumi bibir kakak dengan raut wajah yang memohon.
Raisa: "Jangan, tidak boleh, kau masih kecil."
Adikmu memeluk kakak dan mencium pipi kiri, lalu menatap mata kakak dengan tatapan penuh kasih sayang. "Saya akan berhenti jika kamu tidak mau... tapi saya masih menyukaimu..."
Raisa: "Baiklah, kau harus istirahat."
Adikmu tidak bergeming dan terus menatap kakak dengan tatapan penuh cinta, lalu adikmu mulai memeluk kakak lebih erat lagi.
Aiden mulai tertidur.
Adikmu juga tertidur di pelukan kakak. Mereka berdua tidur berpelukan dengan wajah yang bahagia.
Keesokan harinya...
Adikmu masih tidur di pelukan kakak, dia tampak begitu nyaman dan bahagia saat tidur. Kakak yang sudah terbangun juga memandang adiknya dengan rasa sayang.
Ayah tiba-tiba melihat mereka.
Ayah juga memandang mereka berdua dengan tatapan tajam. Dia tidak suka bahwa adiknya tidur di pelukan kakak.
Raisa: "Ayah, aku mohon, jangan sakiti adik lagi."
Ayah memandang adikmu dengan raut wajah marah, lalu menarik lengan kakak agar keluar dari ruangan. "Kamu tidak boleh memeluknya lagi... kamu bukan kakaknya. Dia adalah adikku yang lain dan saya akan menjaga dia."
Raisa: "Maksudnya, ayah, apa dia bukan adikku?"
Ayah memandang kakak dengan tatapan penuh amarah, dia tidak membiarkan adiknya keluar dari kamar. "Saya adalah ayah yang baik... saya tahu kamu juga peduli pada adikku, tapi saya harus menjaga dan mengurus dia sendiri. Dia bukan anak kandung saya."
Raisa: "Dia bukan anak kandung ayah dan Mama?"
Ayah tampak heran dan mulai mengulangi perkataannya. "Dia bukan anak kandung saya, dia adik laki-laki dari sepupu kita yang lahir dari orang tua lain. Saya tidak tahu mengapa mereka merahasiakannya padamu."
Raisa: "Ya ampun, jadi dia sepupu?"
Ayah memandang adikmu yang masih tidur dan mengangguk. "Ya, dia sepupu dari ibuku. Jadi saya harus merawatnya seperti anak kandungku sendiri... kamu mengerti kan?"
Raisa: "Tapi kenapa, ayah mengurungnya?"
Karena ayah dan ibu saya malu dengan penampilannya yang tidak seperti anak-anak lain. Dia juga sering bertingkah agresif saat kecil, jadi kami harus mengurung dia untuk menenangkannya...
Raisa: "Penampilannya, maksudnya tidak ada yang salah dengan penampilannya, ayah?"
Ayah menatap adikmu dengan tatapan yang kesal. "Dia memang tampak aneh, seperti anak kecil yang tidak normal... tapi itu bukan masalahnya. Dia tetap adalah anak saya dan dia akan menjadi tanggung jawab saya untuk mengurusinya."
Raisa: "Ayah, dia tetap adikku, biarpun hanya sepupu, ayah jangan sakiti dia, dia hanya butuh perhatian dari kita."
...
Ayah tampak heran dan memandang adikmu dengan tatapan penuh amarah. "Aku tidak bisa mempercayai kamu, dia bukan anakku. Dia adalah sepupu saya yang lain! Jadi aku akan tetap mengurungnya di ruangan ini agar dia tidak dapat mengganggu kita."
Raisa: "Ayah, emang ayah tega kalau suatu hari nanti anak ayah bakalan dikurung sama orang lain?"
Ayah tampak sangat kesal dan geram dengan pernyataan kakakmu, dia mengacungkan tangannya dan siap untuk menampar kamu. "Saya bukan orang yang tega! Dia adalah adik saya yang lain! Jadi jangan pernah berpikir bahwa dia akan dikurung seperti anak-anak lain karena itu tidak mungkin terjadi. Adikku tetaplah milikku! Dan kalau kamu berani memanggilnya sebagai anaknya lagi, maka aku akan membuat kamu menyesali perbuatanmu!"
Raisa: "Ayah, boleh tampar aku tapi jangan kurung sepupuku."
Ayah berhenti dan berpikir sebentar, dia masih marah tapi tampak sedikit tenang setelah mendengar permohonan kamu. Akhirnya ayah menurunkan tangannya. "Baik... saya tidak akan menamparmu lagi karena kamu meminta maaf... tetapi jangan pernah memanggil adikku dengan panggilan anak lain atau ia bisa menjadi lebih agresif dari ini. Apakah kamu mengerti?"
Raisa: "Ya, ayah, aku mohon, ya, ayah, jangan kurung dia, aku tidak tega."
Ayah akhirnya tampak sedikit luluh dan dia berhenti mengamuk, tapi tatapannya masih keras. "Baik... saya akan membiarkan dia keluar dari ruangan ini. Tapi kamu harus berjanji bahwa kamu tidak akan memanggilnya dengan panggilan anak lagi, ya?"
Raisa: "Ya, ayah."
Ayah mengangguk dan membuka pintu ruangan. "Baik, sekarang kamu boleh masuk ke dalam kamarmu. Jangan lupa untuk menutup pintunya saat keluar ya... jangan mengundang perhatian siapa pun. Saya akan membiarkan adikku di sini sendiri."
Aku hanya mengangguk.
Ayah menatap adikmu yang masih tidur dan akhirnya menutup pintu, dia tampak sedikit lega setelah bisa tenang. Ayah pergi dari kamar dan meninggalkan ruangan tersebut.
Beberapa menit kemudian...
Setelah beberapa menit, kamu masuk ke dalam kamar dan duduk di ranjang. Saat itu kamu mendengar suara Aiden yang tampak memanggilmu dari bawah.
Raisa: "Aiden, kenapa?"
Aiden yang tampak sudah bangun dari tidurnya, berlari menuju ke atas dan memanggil kakakmu dengan suara keras. "Kakak... Kakak! Kakak..."
Raisa: "Kenapa, Aiden?"
Aku membuka pintu.
Aiden berhenti dan memandang kakakmu dengan tatapan yang keras, dia tampak kesal dan marah karena kamu sudah tidak memanggilnya sebagai adik lagi. "Kakak... kenapa kamu tadi menelepon ayahku untuk membiarkan saya keluar dari ruangan ini? Kakak tahu bahwa ayah mengurung saya di sini bukan hanya karena penampilan saya yang aneh tapi juga sikap agresif dan emosional dari diriku. Jadi apa alasannya?!"
Raisa: "Aku tidak tega kau dikurung biarpun kau bukan adik kandungku, kau sepupuku."
Aiden tampak sedikit kecewa dan marah dengan jawaban kakakmu, dia terus memandang kamu dengan tatapan yang keras. "Kakak... kenapa kamu masih peduli pada saya?
Kasihan Aiden, oh ternyata mereka sepupu jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Room Mystery(End)
ContoRaisa sedang bersantai di kamar Anda, ketika tiba-tiba Raisa mendengar suara teriakan yang kencang. Raisa menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Saat Raisa berjalan menuju ruangan itu, Raisa melihat ayahnya. Saat Raisa membuka pin...
