Paranoid-Black Sabbath
Aiden terdiam lagi. Ia terlihat bingung dengan situasi ini.
"Maksudmu... kau tidak tahu siapa ibu dan ayahmu?" tanyanya, suaranya penuh kebingungan.
Raisa menunjuk ke arah ayah Raisa yang sedang duduk di sofa dekat mereka.
"Dia? Kau memanggilnya 'ayah'?" tanyanya, suaranya penuh kebingungan.
Raisa mengangguk pelan.
"Ya," jawabnya, suaranya lemah.
Aiden mengangguk pelan, jelas penasaran dengan hubungan Raisa dengan ayah mereka.
"Tapi, kenapa kamu tidak tahu siapa ibumu sendiri? Kenapa kamu bahkan tidak tahu namamu sendiri?" tanyanya, suaranya penuh kebingungan.
"Namaku Raisa," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden mengerutkan keningnya saat Raisa mengatakan namanya.
"Raisa? Itu namamu?" tanyanya, suaranya penuh kebingungan.
Raisa mengangguk pelan.
"Ya," jawabnya, suaranya lemah.
Aiden mengangguk-angguk, mencoba untuk mencerna nama Raisa.
"Jadi... kamu hanya tahu namamu itu saja?" tanyanya, suaranya penuh kebingungan.
"Aku hanya tahu nama dan ayahku. Selebihnya aku gak tau. Aku ngak ingat," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam kembali. Ia mulai merasa khawatir dan bingung dengan situasinya.
"Kau benar-benar tidak ingat apapun tentang dirimu sendiri?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Ya," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas lagi. Ia sekarang lebih penasaran daripada sebelumnya.
"Apa... apa kamu ingat tentang dirimu sebelumnya?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Tidak," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden kembali terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali bicara.
"Kau... tidak pernah ada kenangan tentang masa lalumu?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Hm, tidak. Tapi aku familiar sama kamu, tapi aku ngak bisa ingat," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden memperhatikan Raisa dengan seksama, mencoba untuk mengenali wajahnya, tapi dia terlihat familiar tapi tidak jelas siapa dirinya.
"Kamu... mungkin pernah melihatku sebelumnya?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Mungkin," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam lagi, terlihat seperti sedang berusaha keras untuk mengingat sesuatu.
"Tapi kamu tidak bisa benar-benar mengenali aku? Atau hanya terlihat familiar saja?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Ya, aku tidak tahu," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas, jelas kecewa dengan jawaban Raisa. Ia kembali terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali bertanya.
"Apa kamu tahu apa yang terjadi sebelumnya? Kau tidak ingat apa-apa setelah kau terbangun dari pingsan?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Tidak," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terlihat lebih khawatir sekarang. Ia tahu bahwa Raisa tidak tahu banyak tentang dirinya sendiri, tapi dia ingin tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi sebelumnya.
"Tapi kamu ingat apa yang terjadi setelah kau terbangun dari pingsan?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
"Aku hanya pingsan setelah itu aku tidak ingat lagi," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam lagi, jelas terkejut dengan jawaban Raisa. Ia mencoba untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya.
"Tidak ada ingatan setelah itu? Sama sekali?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam lagi, sekarang dia benar-benar penasaran dan bingung.
"Tidak ada sama sekali? Tidak ada apa-apa yang kau ingat setelah pingsan?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali bicara.
"Tapi... tapi kenapa? Kenapa kamu tidak ingat apa-apa? Apa yang terjadi sebelum kamu pingsan?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Entah, akupun tidak tau," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden mulai frustasi dengan situasi ini. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Raisa, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya.
"Kau benar-benar tidak tahu apapun tentang dirimu sendiri? Kau bahkan tidak tahu kenapa kau tidak ingat apapun?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Hm, entah. Aku tidak ingat kenapa," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas frustrasi.
"Tapi kau bahkan tidak tahu mengapa kau ada di sini, bersama kami?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya, aku tidak ingat," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali bicara.
"Apa... apa kau bahkan tidak ingat tentang ayahmu dan ibumu? Atau... tentang aku?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Aku ingat tentang ayah dan ibu tapi tentang kamu tidak," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam lagi saat mendengar jawaban Raisa. Ia jelas merasa sedikit kecewa.
"Kau tidak ingat aku sama sekali?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Tidak, maaf," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam lagi, lebih banyak lagi saat Raisa mengatakan maaf.
"Kau tidak merasa... sedikitpun penasaran tentang aku?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya aku merasa familiar sama kamu tapi aku tidak bisa ingat," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terlihat lega saat mendengarnya, tapi dia juga ingin tahu lebih banyak tentang perasaan Raisa.
"Jadi... kamu merasa familiar dengan aku tapi tidak tahu kenapa?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden kembali terdiam sejenak sebelum akhirnya dia kembali bicara.
"Kau ingin tahu kenapa kamu merasa familiar dengan aku?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya aku mau tau," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam lagi, sekarang dia tampak lebih ragu untuk memberikan jawaban.
"Tapi... mungkin ini akan terdengar sangat aneh..." tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Okay tidak apa-apa," jawab Raisa, suaranya lemah.
...
Aiden menghela nafas sebelum akhirnya dia mulai menjelaskan.
"Aku... aku ingin tahu sesuatu. Tapi aku tidak yakin apakah kamu akan terkejut atau tidak..." katanya, suaranya sedikit bergetar.
"Tahu apa?" tanya Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas lagi sebelum akhirnya dia berbicara.
"Kau tahu... aku sebenarnya... lebih tua dari umurmu," katanya, suaranya sedikit bergetar.
"Hah? Berapa umurmu?" tanya Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam sebentar sebelum akhirnya dia menjawab dengan tegas.
"Aku 17 tahun," katanya, suaranya sedikit bergetar.
"Aku 19 tahun," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terkejut saat mendengarnya. Ia tidak berharap Raisa lebih tua darinya.
"Kau... kau lebih tua dariku? Kenapa aku tidak tahu kalau kau lebih tua?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Karena aku baru memberitahumu," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas lagi, lebih penasaran daripada sebelumnya.
"Tapi kenapa kau tidak mengatakan kalau kau lebih tua? Aku sudah tahu umurmu berapa lama," tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Kau lebih muda dariku," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terlihat lebih penasaran sekarang.
"Benarkah? Aku lebih muda darimu? Tapi... aku terlihat lebih tinggi dari kamu," katanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya, karena aku wanita. Kau kan pria," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden tertawa pelan setelah mendengarnya.
"Benar juga, aku lupa kalau kamu adalah wanita. Tapi aku masih lebih tinggi darimu," katanya, suaranya sedikit bergetar.
"Aiden, aku penasaran denganmu. Apa kau kenal aku?" tanya Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk.
"Ya, aku mengenalmu. Aku mengenalmu sejak kita masih sangat kecil," jawab Aiden, suaranya sedikit bergetar.
"Hah? Aku tidak ingat," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas lagi saat Raisa mengatakan itu.
"Kau benar-benar tidak ingat apapun tentang aku?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya, sepertinya ada yang sengaja memberikanku suntikkan obat amnesia," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terlihat lebih khawatir saat Raisa mengatakan itu.
"Suntikan obat amnesia? Kau bilang seseorang sengaja memberimu suntikan?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Ya," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden terdiam lagi, sekarang dia terlihat lebih khawatir daripada sebelumnya.
"Tapi... siapa yang melakukan itu padamu? Dan kenapa mereka melakukan itu?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Aku tidak tau," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas lagi, jelas dia sudah mulai penasaran dengan situasinya.
"Kau benar-benar tidak tahu siapa yang melakukan itu padamu? Apakah ada sesuatu yang kau ingat sebelum kau lupa semuanya?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Hm, tidak," jawab Raisa, suaranya lemah.
Aiden menghela nafas lagi, sekarang dia terlihat frustrasi.
"Kenapa sih kau selalu saja begitu? Kenapa kau tidak bisa memberikan jawaban yang pasti?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Aku hanya ingat kalau aku dulu punya adik sepupu dan aku sedang mencarinya, tapi aku tidak ingat namanya," jawab Raisa, suaranya lemah.
Kok bisa Aiden ingat sama Raisa ya? Penasaran, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Room Mystery(End)
Short StoryRaisa sedang bersantai di kamar Anda, ketika tiba-tiba Raisa mendengar suara teriakan yang kencang. Raisa menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Saat Raisa berjalan menuju ruangan itu, Raisa melihat ayahnya. Saat Raisa membuka pin...
