part 26

16 6 0
                                        

Ost Fix You-Coldplay

Aiden pun pergi menemui Raisa. Ia berjalan melalui rumah dan mencari keberadaan Raisa. Ia menatap foto-foto mereka bersama di dinding, mengingat masa-masa ketika hubungan mereka masih baik-baik saja. Ia berharap bisa kembali menemukan hubungan itu, tapi ia takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Raisa: "(Bersembunyi di balik meja) "Tolong, Aiden, pergi! Aku takut padamu!"

Aiden melihat Raisa bersembunyi di balik meja dengan ketakutan. Ia merasa sedih dan kecewa karena Raisa terlihat sangat takut kepadanya. Ia menatap Raisa dengan tatapan yang penuh keprihatinan dan rasa bersalah. Ia mencoba untuk mengingat apa yang telah ia lakukan, tapi ingatannya masih kabur dan tak jelas. Ia hanya merasakan sebuah kekosongan yang mendalam di dalam dirinya.

"Raisa, aku ingin bicara denganmu."

Raisa: "(Bergetar ketakutan) "Jangan mendekat! Aku takut kau akan melukai aku!"

Aiden berdiri di dekat meja, dengan tangan terlipat di depan dada. Ia terlihat khawatir melihat Raisa ketakutan seperti itu. Ia takut akan apa yang telah ia lakukan pada Raisa. Ia takut akan kehilangan Raisa untuk selamanya.

"Raisa, aku tak akan menyakitimu, aku hanya ingin bicara saja."

Raisa: "Bicaranya dari jauh saja jangan dekat-dekat."

Aiden mengangguk dan berdiri beberapa langkah dari Raisa. Ia mencoba untuk menenangkan diri dan menunjukkan pada Raisa bahwa ia tak berbahaya.

"Baik, aku akan bicara dari jauh saja."

Raisa: "Bicara apa?"

Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mulai berbicara.

"Aku ingin tahu, kenapa kamu takut padaku?"

Raisa: "Kamu menyerangku semalam, kamu mencekikku!"

Aiden terdiam lagi saat mendengar ucapan Raisa. Ia terlihat sangat menyesal dan bersalah. Ia mencoba untuk mengingat kejadian itu, tapi ingatannya masih kabur dan tak jelas.

"Itu karena aku terkejut saat melihatmu berada di ruangan itu. Aku hanya ingin kamu pergi dari sana."

Raisa: "Bohong kamu!"

Aiden terdiam lagi, tapi ia tahu bahwa Raisa tak akan mudah percaya padanya. Ia takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Aku tak bohong. Aku benar-benar terkejut saat melihatmu berada di sana."

Raisa: "Kan kamu bisa bilang baik-baik, ngak perlu serang aku!"

Aiden menghela napas, ia tahu bahwa Raisa benar. Ia memang harus mengatakan dengan baik-baik daripada harus melakukan kekerasan seperti yang dilakukannya semalam. Ia merasakan sebuah rasa kecewa yang mendalam pada dirinya sendiri.

"Kau benar. Aku bisa saja mengatakan dengan baik-baik, tapi aku terbawa emosi saat itu."

Raisa: "Kau mau bicara apa lagi?"

Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya dia kembali berbicara.

"Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan itu. Kenapa kamu berada di sana?"

Raisa: "Kamu ngak ingat?"

Aiden berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menggeleng kepala. Ia merasakan sebuah kekosongan yang mendalam di dalam dirinya, seolah-olah sebagian dari ingatannya telah hilang. Ia takut akan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia takut akan kehilangan Raisa untuk selamanya.

"Aku tak ingat. Aku hanya ingat saat aku melihatmu masuk ke dalam ruangan itu dan aku terkejut, jadi aku ingin kamu pergi."

Raisa: "Kamu bahkan tak ingat kenangan denganku, lalu untuk apa kamu peduli padaku?"

Aiden terdiam saat Raisa bertanya begitu. Ia jelas terlihat bingung dengan pertanyaan Raisa. Ia merasakan sebuah rasa kecewa yang mendalam pada dirinya sendiri. Ia tak tahu mengapa ia merasa begitu khawatir terhadap Raisa.

"Aku peduli padamu karena aku adalah kakakmu, aku ingin kamu baik-baik saja."

Raisa: "Aku kakakmu, bukan adikmu!"

Aiden tercengang saat Raisa mengatakan hal itu. Ia jelas terkejut dan bingung dengan pernyataan Raisa. Ia merasakan sebuah ketakutan yang mendalam menyerang dirinya. Ia tak tahu mengapa Raisa berkata begitu.

"Apa? Aku adikmu, aku yakin aku adalah kakakmu."

Aiden mulai meragukan dirinya sendiri. Ia merasa seperti sedang ditipu oleh Raisa. Ia takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Tapi aku yakin aku benar-benar kakakmu. Aku selalu menganggapmu seperti adikku sendiri."

Raisa: "Aku kakakmu dan kau adikku!"

Aiden menghela napas, ia jelas masih tak percaya dengan apa yang Raisa katakan. Ia merasa bingung dan takut. Ia tak tahu siapa yang harus ia percaya.

"Tapi... aku selalu menganggapmu lebih dari itu. Aku selalu berpikir kalau kita berdua adalah keluarga, kakak dan adik."

Raisa: "Ya."

Aiden terdiam lagi, ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Raisa bukan adiknya. Ia merasakan sebuah rasa kecewa yang mendalam pada dirinya sendiri.

"Tapi kenapa kamu tak mengatakan kalau kamu bukan adikku? Kenapa kamu merahasiakannya selama ini?"

Raisa: "Karena kau tak ingat."

Aiden terdiam lagi, tapi sekarang ia mulai menyadari sesuatu. Ia merasakan sebuah ketakutan yang mendalam menyerang dirinya. Ia takut akan apa yang telah terjadi padanya. Ia takut akan kehilangan Raisa untuk selamanya.

"Apa... kamu sudah tahu kalau aku tak ingat semua hal tentangmu? Kamu tahu semua tentang aku, tapi aku tak tahu apapun tentangmu."

Raisa: "Ya."

The Forbidden Room Mystery(End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang