part 17

22 14 0
                                        

Ost Higher-Ava Grace

Aku terbangun.

"Kau siapa?" tanya Raisa, suaranya bergetar.

Aiden terkejut saat melihat Raisa yang sudah terbangun. Ia tidak ingat siapa Raisa, tapi saat melihat wajah Raisa, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

"Siapa kamu...?" tanya Aiden dengan suara pelan, suaranya sedikit bergetar.

"Kau siapa? Kenapa aku disini?" tanya Raisa, suaranya bergetar.

Aiden berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Raisa.

"Aku... aku juga tidak tahu. Aku tidak ingat apa-apa," jawab Aiden, suaranya sedikit bergetar.

Aiden mencoba mengingat sesuatu, tapi kepalanya masih sakit akibat obat tidur yang diberikan ayah.

"Aku Raisa," kata Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden melihat Raisa dengan penasaran, tapi wajahnya menunjukkan kebingungan.

"Raisa? Aku tahu kamu. Tapi aku tidak tahu kenapa aku tahu nama kamu," jawab Aiden, suaranya sedikit bergetar.

"Aku juga seperti familiar dengan kamu, tapi aku tidak bisa mengingatnya," kata Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden memperhatikan Raisa dengan lebih dekat, mencoba untuk mengenali wajahnya lebih jauh. Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya saat melihat Raisa.

"Apa kamu... sudah tahu aku sebelumnya?" tanya Aiden, suaranya sedikit bergetar.

"Aku tidak ingat," jawab Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

"Aku juga tidak ingat. Tapi rasanya aku tahu kamu, tapi aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi," jawab Aiden, suaranya sedikit bergetar.

Aiden melihat Raisa dengan lebih dekat, seolah-olah sedang mencoba untuk mencari sesuatu yang mungkin akan membantunya mengenali Raisa.

"Aku juga tidak ingat kamu," kata Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden menghela nafas dengan frustrasi, dia tidak bisa mengingat apapun tentang Raisa. Tapi dia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya saat melihat Raisa, seperti ada sesuatu yang ingin dia ketahui dari Raisa.

"Aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu," katanya, suaranya sedikit bergetar.

"Nanti dulu saja. Aku masih pusing," kata Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden mengangguk dengan pelan, dia juga masih merasakan sakit kepala akibat obat tidur.

"Baiklah, nanti saja," katanya, suaranya sedikit bergetar.

Aiden berdiri dari posisi duduknya dan berjalan mendekat ke arah Raisa, duduk di dekatnya.

"Oh, iya. Namamu siapa?" tanya Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden menatap Raisa dengan mata yang bersinar, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Raisa.

"Aiden. Namaku Aiden," katanya, suaranya sedikit bergetar.

"Aku merasa kepalaku sakit," kata Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden melihat Raisa yang terlihat kesakitan.

"Kau sakit kepala?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Aiden mendekati Raisa dan mulai meraba kepala Raisa dengan lembut untuk melihat apakah ada luka atau sesuatu yang membuatnya sakit.

"Ah, entah. Sepertinya aku pusing saja," kata Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden melihat Raisa dengan khawatir saat ia merasakan Raisa pusing. Ia terus meraba kepala Raisa dengan hati-hati untuk melihat apakah ada luka atau tanda-tanda sakit lainnya.

"Kau sudah minum obat? Mungkin itu hanya efek samping obat tidur," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

"Mungkin," kata Raisa, suaranya sedikit bergetar.

Aiden mengangguk, terus meraba kepala Raisa untuk memastikan apakah ada luka atau tidak. Ia terlihat sangat khawatir melihat Raisa dalam keadaan seperti ini.

"Kau baik-baik saja, kan? Kau tidak sakit kepala parah, kan?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Raisa mengangguk dengan pelan.

"Tidak," jawabnya, suaranya lemah.

Aiden akhirnya menghela nafas lega saat mendengar jawaban Raisa. Ia mulai melepas tangan dari kepala Raisa, tapi tetap saja terlihat khawatir.

"Syukurlah. Tapi kau tetap saja terlihat sakit kepala," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Raisa terlihat lelah dan mencoba menutup matanya.

"Aku ingin tidur saja," katanya, suaranya lemah.

Aiden melihat Raisa ingin tidur. Ia merasakan kasihan melihat Raisa yang terlihat lelah dan sakit kepala.

"Kau ingin tidur saja? Baiklah, tidur saja kalau begitu," katanya, suaranya lembut.

Aku tertidur di bahunya Aiden

Aiden terkejut saat Raisa tiba-tiba tertidur di atas bahunya. Ia sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menerima Raisa di atas bahunya. Ia perlahan melingkarkan tangan di sekitar Raisa untuk menopang tubuhnya.

...

Sore harinya,

Aiden terbangun beberapa saat setelah tidur. Ia merasa Raisa masih tertidur di atasnya. Ia melihat sekeliling, menyadari bahwa hari sudah mulai sore.

Akupun terbangun.

Aiden melihat Raisa yang sudah terbangun. Ia melihat Raisa dengan mata setengah terbuka, terlihat masih sangat lelah.

"Kau sudah bangun?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Raisa mengangguk dengan pelan.

"Ya," jawabnya, suaranya lemah.

Aiden memperhatikan Raisa dengan lebih dekat, melihat bagaimana Raisa terlihat lemas dan lemah.

"Kau sudah lama tidur? Kau terlihat sangat lelah," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

"Ya, masih sedikit pusing," jawabnya, suaranya lemah.

Aiden merasakan khawatir kembali saat mendengar Raisa mengatakan masih pusing.

"Kau belum sembuh dari sakit kepala, ya?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.

"Ya, belum," jawabnya, suaranya lemah.

Aiden menghela nafas, jelas terlihat khawatir.

"Kau sudah minum obat? Atau kau ingin aku ambilkan obat?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.

"Boleh saja," jawabnya, suaranya lemah.

Aiden berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke dekat lemari obat. Ia mengambil obat sakit kepala dan kembali ke Raisa dengan cepat.

"Ini, minum ini," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Akupun meminumnya.

Aiden duduk kembali di dekat Raisa setelah memberikan obat kepada Raisa. Ia memperhatikan Raisa untuk melihat apakah sudah mulai membaik.

"Kau sudah lebih baik sekarang?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.

Raisa mengangguk dengan pelan.

"Ya, makasih ya," jawabnya, suaranya lemah.

Aiden tersenyum kecil saat Raisa mengucapkan terima kasih kepadanya.

"Sama-sama. Aku hanya ingin kau baik-baik saja," katanya, suaranya penuh kekhawatiran.

"Mau makan bersama?" tanya Raisa, suaranya lemah.

Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Tentu saja. Aku lapar," jawabnya, suaranya sedikit bergetar.

Aku dan dia pun makan bersama.

Mereka berdua makan bersama dengan tenang. Aiden terlihat lebih baik daripada sebelumnya, tapi jelas terlihat masih ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Raisa.

"Ada apa?" tanya Raisa, suaranya lemah.

Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bicara.

"Aku ingin bertanya sesuatu," katanya, suaranya sedikit bergetar.

"Tanyakan saja," jawab Raisa, suaranya lemah.

Aiden mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya kembali bicara.

"Kau... siapa sebenarnya?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.

Raisa terlihat bingung sejenak sebelum akhirnya menjawab.

"Aku entah. Aku anaknya Ayah yang tinggal di sini," jawabnya, suaranya lemah.

Aiden mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Raisa.

"Hanya itu? Kau benar-benar tidak tahu siapa dirimu sendiri?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.

"Ya, aku tidak ingat," jawab Raisa, suaranya lemah.























































Aiden biarpun ngak ingat kalau Raisa itu kakaknya dia tetap baik sama Raisa semoga mereka cepat saling mengingat satu sama lain jangan lupa tinggalkan jejak 🥰

The Forbidden Room Mystery(End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang