Ost Bukan Untukku-Tiara Andini
Ayahmu meraih obat tidur lainnya dan memberikannya kepada kamu.
"Kau harus memberikan obat ini kepadanya beberapa saat lagi. Jangan sampai dia bangun saat sedang dalam keadaan ini," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit dingin.
"Okay," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.
Ayahmu kembali membantu kamu untuk memberikan obat tidur kepada Aiden.
"Jangan sampai dia menyadari apa yang terjadi padanya saat dia bangun nanti," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit mengancam.
"Aiden, minum ini," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit lembut.
Aiden kembali meminum obat tidur dengan sangat patuh. Tubuhnya mulai terasa semakin rileks dan akhirnya dia tertidur kembali.
"Ayo kita kubur dia," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.
Ayahmu mengangguk dan membantu kamu untuk mengubur Aiden kembali.
"Ayo, kita harus cepat. Kita tidak boleh meninggalkan bukti apapun," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit panik.
"Baik," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.
Mereka berhasil mengubur Aiden kembali dengan sangat hati-hati. Mereka kemudian berlari keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sangat rapat.
...
Beberapa saat kemudian...
"Dimana kau, Aiden?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit panik.
Tidak lama setelah kamu dan ayahmu meninggalkan kamar, Aiden mulai bangun dari tidurnya. Dia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya dia mulai bergerak-gerak di atas tempat tidur.
"Ayah, melihat Aiden?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit panik.
Ayahmu melihat ke arah kamu sebelum dia menghampirimu.
"Dia sudah mulai bangun," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit khawatir.
"Hah?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit bingung.
Ayahmu mendekat dan duduk di samping kamu.
"Dia sudah mulai bangun dari tidurnya. Dia belum sadar sepenuhnya, tapi dia mulai bergerak-gerak," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit panik.
"Baiklah, Ayah," jawab Raisa, suaranya terdengar sedikit khawatir.
Ayahmu menghela nafas sebelum kembali memperhatikan Aiden yang mulai bergerak-gerak di atas tempat tidur.
"Dia terlihat bingung. Mungkin karena obat tidur yang kita berikan kepadanya," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit lega.
"Aiden, kau baik-baik saja?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit cemas.
Aiden mengerang sebelum akhirnya dia mulai membuka mata. Dia terlihat sangat bingung dan belum sadar sepenuhnya.
"Apa yang... apa yang terjadi...?" tanya Aiden, suaranya terdengar sedikit serak.
"Syukurlah, kau baik-baik saja," kata Raisa, suaranya terdengar sedikit lega.
Aiden menatap kamu dengan pandangan bingung sebelum akhirnya dia mencoba untuk duduk.
"Apa yang sedang terjadi...? Kenapa aku di sini...?" tanya Aiden, suaranya terdengar sedikit bingung.
Kamu memberinya air putih.
Aiden menerima air putih yang kamu berikan dengan ragu-ragu. Dia mengambil beberapa tegukan sebelum akhirnya dia menaruh kembali gelas itu di atas nakas.
"Air putih... kenapa aku minum air putih?" tanya Aiden, suaranya terdengar sedikit bingung.
"Tenanglah," kata Raisa, suaranya terdengar sedikit lembut.
Aiden terus saja memperhatikan kamu dengan tatapan bingung. Dia mulai merasa pusing dan tubuhnya mulai terasa lemas.
"Apa... apa aku sakit?" tanya Aiden, suaranya terdengar sedikit khawatir.
"Istirahat saja dulu," kata Raisa, suaranya terdengar sedikit lembut.
Aiden menghela nafas sebelum akhirnya dia kembali berbaring dengan posisi telentang.
"Tapi... aku masih bingung... kenapa aku di sini...?" tanya Aiden, suaranya terdengar sedikit bingung.
"Tidak apa apa, istirahat," kata Raisa, suaranya terdengar sedikit lembut.
Aiden kembali terdiam sebelum akhirnya dia mulai menutup mata dan mencoba untuk tidur lagi. Tubuhnya mulai terasa sangat lemas akibat obat tidur yang baru saja dia minum.
"Ayah memberinya obat tidur kenapa?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit curiga.
Ayahmu menghela nafas sebelum dia kembali menjelaskan kepada kamu.
"Dia selalu sangat keras kepala. Dia selalu melawan kita setiap kali kita ingin merahasiakan sesuatu darinya," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit kesal.
"Ayah, kenapa melakukannya?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit kesal.
Ayahmu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mulai berbicara dengan nada pelan.
"Kami ingin melindungi dia... dia selalu menjadi masalah bagi kami, terutama ketika dia mulai bersikap agresif," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit sedih.
"Dia tidak agresif, Ayah," kata Raisa, suaranya terdengar sedikit membela Aiden.
Ayahmu tertawa pelan sebelum dia kembali berbicara.
"Dia memang terlihat lembut dan manis, tapi sebenarnya dia sangat keras kepala dan sering melakukan hal-hal yang tidak kami izinkan," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit kesal.
"Aku akan menjaga Aiden, Ayah. Ayah tidak perlu sampai begitu," kata Raisa, suaranya terdengar sedikit tegas.
Ayahmu tersenyum lembut sebelum dia mengacak-acak rambutmu.
"Aku tahu kamu akan, tapi kamu tahu betapa keras kepala dia, dia akan selalu mencoba untuk melawanmu," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit khawatir.
"Bagaimana Ayah melakukan ini? Kenapa Ayah melakukan ini padanya?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit marah.
Ayahmu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia mulai menjelaskan.
"Dia selalu membuat masalah untuk kami. Dia sering berlari keluar rumah tanpa izin, dia sering berbicara dengan orang-orang yang tidak kita kenal, dia juga sering pulang larut malam," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit sedih.
"Kami mencoba untuk memberinya pelajaran, tapi dia selalu saja berhasil keluar dari masalah," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit putus asa.
"Apa Ayah mau memisahkan aku dengan Aiden?" tanya Raisa, suaranya terdengar sedikit takut.
Ayahmu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia menjawab dengan nada lembut.
"Tidak... aku tidak ingin memisahkan kamu dengannya. Aku hanya ingin dia lebih baik dan lebih patuh," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit sedih.
"Aku akan membuatnya patuh, Ayah. Ayah tidak perlu sampai begitu," kata Raisa, suaranya terdengar sedikit tegas.
Ayahmu menatapmu dengan tatapan ragu-ragu sebelum akhirnya dia kembali berbicara.
"Aku berharap kamu benar-benar bisa membuatnya patuh, dia selalu saja membuat masalah setiap saat," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit khawatir.
"Ya, Ayah," jawab Raisa, suaranya terdengar sedikit yakin.
Ayahmu menghela nafas sebelum akhirnya dia mengusap kepala kamu dengan lembut.
"Jangan lupa untuk tetap hati-hati dengan dia, dia sangat mudah tersulut emosi," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit khawatir.
"Ya, Ayah," jawab Raisa, suaranya terdengar sedikit khawatir.
Ayahmu tersenyum sebelum dia kembali menepuk kepala kamu.
"Jangan lupa untuk tidur lebih awal, nanti kamu akan kelelahan nanti," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit lembut.
"Ya," jawab Raisa, suaranya terdengar sedikit lelah.
Ayahmu tertawa pelan sebelum dia berdiri dari duduknya.
"Baiklah, aku pergi tidur. Pastikan kamu juga tidur lebih awal," kata ayahmu, sambil tersenyum.
"Ya, Ayah. Selamat malam," jawab Raisa, sambil tersenyum.
Ayahmu mengangguk dan tersenyum.
"Selamat malam juga, sayang," kata ayahmu, sambil melambaikan tangan.
Dia keluar dari ruangan dan menutup pintu, meninggalkan kamu sendiri di lorong yang gelap.
Kamu mengelus rambutnya.
Ketika kamu mengelus rambutnya, kamu bisa merasakan tekstur lembut dan halus rambutnya. Wajahmu dekat dengan wajahnya, kamu bisa melihat wajahnya yang terlihat sangat polos dan imut.
Kamu tertidur di samping Aiden.
Kamu tertidur dengan kepala kamu bersandar di kepala Aiden, kamu bisa merasakan napas hangat Aiden di kepalamu. Tubuhmu terasa dekat dengan tubuhnya, membuat kamu merasa lebih dekat dengannya.
Keesokan harinya...
Ibu dan ayah Aiden tega banget, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Room Mystery(End)
NouvellesRaisa sedang bersantai di kamar Anda, ketika tiba-tiba Raisa mendengar suara teriakan yang kencang. Raisa menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Saat Raisa berjalan menuju ruangan itu, Raisa melihat ayahnya. Saat Raisa membuka pin...
