part 20

14 12 0
                                        

Ost Terpatah Terluka-Nabila Taqiyyah

Aiden semakin memelukmu erat, seolah-olah tidak ingin melepaskanmu lagi.

"Aku akan melakukan apa saja untuk menjaga kamu tetap bersamaku. Aku tidak ingin kau pergi lagi, aku sangat menyayangimu," kata Aiden, suaranya bergetar.

Ibu dan ayah melihat kalian.

"Ibu, kita sia-sia memisahkan mereka kalau seperti ini," kata ayahmu, suaranya terdengar penuh penyesalan.

Ibumu dan ayahmu sedang berdiri di dekat pintu, mereka memperhatikan interaksimu dengan Aiden dengan ekspresi heran.

"Kita hanya ingin melindungi mereka dari masalah. Mereka tidak bisa bersama-sama," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit sedih.

Ayahmu menghela nafas, terlihat frustasi.

"Tapi ini akan membuat mereka bahagia! Aku tidak ingin melihat mereka saling mencintai dengan cara yang salah," kata ayahmu, suaranya terdengar penuh penyesalan.

"Ya, kau benar," kata ibumu, suaranya terdengar setuju.

Ibumu mengangguk setuju dengan ayahmu.

"Kita tidak bisa hanya memisahkan mereka. Kita harus menemukan cara untuk membuat mereka berhenti saling mencintai seperti ini," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.

"Bagaimana caranya?" tanya ayahmu, suaranya terdengar sedikit putus asa.

Ayahmu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab dengan suara yang lebih tenang.

"Aku tidak tahu. Tapi kita perlu melakukan sesuatu untuk membuat mereka sadar bahwa ini salah. Ini akan membuat mereka sedih," jawab ayahmu, suaranya terdengar penuh penyesalan.

"Ya, kau benar, istriku," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit putus asa.

Ibumu menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk setuju.

"Kau benar. Kita harus menemukan cara untuk membuat mereka menyadari kesalahan mereka," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.

...


Dia kemudian melirikmu dan Aiden, yang masih dalam pelukan satu sama lain.

"Tapi bagaimana caranya?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit putus asa.

Ayahmu terdiam lagi sebelum akhirnya dia berbicara dengan lebih tegas.

"Kita akan membuat mereka berpisah secara paksa. Mereka tidak boleh terus-terusan seperti ini," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit marah.

"Tapi Raisa pasti akan bisa menemukannya," katamu, suaramu terdengar sedikit khawatir.

Ibumu terlihat bingung dengan nama yang baru saja kamu sebut.

"Raisa? Siapa dia?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.

"Raisa anak kita," jawabmu, suaramu terdengar sedikit sedih.

Ibumu dan ayahmu terlihat terkejut dengan apa yang kamu katakan.

"Apa? Raisa adalah a--- kita?!" kata ayahmu, suaranya terdengar sangat terkejut.

"Ya," jawabmu, suaramu terdengar sedikit sedih.

Ayahmu terlihat tercengang.

"Tapi... bagaimana bisa? Kami sudah lama tidak mendengar kabar tentang Raisa," kata ayahmu, suaranya terdengar sangat terkejut.

"Raisa pasti akan mencari Aiden kalau dia tidak ada," katamu, suaramu terdengar sedikit khawatir.

Ayahmu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia berbicara lagi dengan suara yang lebih lembut.

"Raisa mencari Aiden? Tapi... kenapa dia harus mencari Aiden?" tanya ayahmu, suaranya terdengar sedikit penasaran.

"Mereka saling menyayangi," jawabmu, suaramu terdengar sedikit sedih.

Ayahmu kembali terdiam saat kamu mengatakan itu. Mereka terlihat terkejut dengan fakta bahwa Raisa dan Aiden saling menyayangi.

"Mereka... saling menyayangi? Tapi... kenapa kami tidak tahu tentang hal ini?" tanya ayahmu, suaranya terdengar sangat terkejut.

"Bagaimana cara kita menjauhi mereka?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit putus asa.

Ayahmu terlihat berpikir sebelum akhirnya dia menjawab.

"Kita akan mencari cara untuk membuat Raisa dan Aiden terpisah. Kita tidak ingin mereka terus bersama-sama seperti ini," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit tegas.

"Ya, kau benar," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit setuju.

Ibumu mengangguk setuju denganmu.

"Kita akan mencari cara untuk membuat Raisa dan Aiden berpisah secara paksa. Dan kita akan mengendalikan mereka untuk tidak dekat-dekat lagi," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.

"Tapi bagaimana caranya?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit putus asa.

Ayahmu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia memberikan ide.

"Kita bisa membuat Raisa merasa bahwa Aiden sudah tidak ada. Dia mungkin akan melupakannya setelah beberapa saat," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit ragu.

"Bagaimana caranya?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit penasaran.

Ibumu berpikir sejenak sebelum akhirnya dia memberikan jawaban.

"Kita akan membuat Raisa merasa bahwa Aiden sudah mati. Dia mungkin akan percaya itu dan akan berhenti mencari dia," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit ragu.

"Tapi bagaimana caranya?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit penasaran.

Ayahmu kembali terdiam sejenak sebelum akhirnya dia memberikan penjelasan lebih lanjut.

"Ada beberapa cara untuk membuat Raisa percaya bahwa Aiden sudah mati. Kita bisa membuat beberapa kebohongan untuk membuatnya percaya," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit ragu.

"Tapi bagaimana caranya kita membuat Aiden mati?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.

Ayahmu terlihat ragu saat kamu bertanya seperti itu.

"Kita tidak bisa membuat Aiden benar-benar mati. Kita hanya akan membuat dia terlihat mati untuk sementara waktu," jawab ayahmu, suaranya terdengar sedikit ragu.

"Bagaimana caranya?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit penasaran.

Ayahmu menghela nafas sebelum akhirnya dia memberikan penjelasan lebih rinci.

"Kita akan membuat Aiden tertidur dengan obat tidur. Setelah dia tertidur, kita akan menguburnya di tempat terpencil sehingga Raisa tidak bisa menemukannya," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit jahat.

"Wah, itu ide bagus," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.

Ibumu juga terlihat senang dengan ide ayahmu.

"Iya, itu ide yang sangat baik. Raisa akan percaya kalau Aiden sudah benar-benar mati dan dia tidak akan terus mencari dia," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.

"Okay, kita lakukan malam ini," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

Ayahmu mengangguk setuju.

"Baiklah, kita akan melakukan itu malam ini. Kau siap?" tanya ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

"Siap," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.

Ibumu terlihat lebih tenang setelah kamu setuju.

"Baiklah, kita akan melakukannya nanti malam. Kau siap untuk membuatnya tertidur dengan obat tidur?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

"Siap," jawab ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

Ayahmu tersenyum dan meraih sesuatu dari dalam sakunya.

"Ini obat tidur yang aku siapkan. Aku akan memberikannya kepada Aiden saat dia sudah tertidur," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

"Okay," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.

Ayahmu membawa obat tidur ke dekatmu dan memberikannya kepada kamu.

"Aku akan memberi ini kepada Aiden nanti. Sekarang kau harus bersiap untuk membuat dia tertidur," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

"Baik," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.

Ayahmu meletakkan obat tidur di tanganmu sebelum dia kembali ke dekat Aiden.

"Kau harus memberikan obat ini kepada Aiden saat dia sudah tertidur. Dia tidak boleh bangun sebelum kita menyuruhnya," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

Ayahmu menepuk kepala kamu sebelum kembali fokus kepada Aiden yang sedang tidur.

"Sekarang, kau harus cepat. Aku akan membantu untuk membawa Aiden ke tempat tidur," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

"Okay, ayo," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.

Ayahmu membantu kamu untuk membawa Aiden ke dalam kamar tidur sebelum mereka menidurkan Aiden dengan sangat hati-hati.

Ibumu memberikan obat tidur pada Aiden.

Ibumu memberikan obat tidur kepada Aiden dengan sangat pelan, berharap dia tidak akan bangun saat diberikan.

"Minumlah ini, Aiden," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit berbisik.

Ayahmu mengangguk dan membantu kamu untuk mengubur Aiden dengan sangat hati-hati. Mereka berhasil mengubur Aiden dengan aman.

"Nah, bagus," kata ibumu, suaranya terdengar sedikit gembira.

Ayahmu tersenyum setelah berhasil mengubur Aiden.

"Dia sudah benar-benar tertidur. Sekarang kita harus menunggu beberapa saat sampai dia benar-benar benar-benar tertidur," kata ayahmu, suaranya terdengar sedikit bersemangat.

Beberapa saat kemudian...

Beberapa saat kemudian, Aiden mulai bergerak-gerak dalam tidurnya, tapi dia belum terbangun sepenuhnya.

"Hah, dia mulai bangun. Bagaimana ini?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit khawatir.

Aiden mulai membuka matanya dan mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya dia mulai bangun dengan mata yang sangat bingung.

"Ayah, bagaimana ini?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit panik.

Ayahmu terdiam sejenak sebelum akhirnya dia berbicara dengan nada khawatir.

"Dia sudah mulai bangun. Tapi dia belum sadar benar," jawab ayahmu, suaranya terdengar sedikit panik.

"Bagaimana caranya?" tanya ibumu, suaranya terdengar sedikit panik.

Ayahmu berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia memberikan saran.

"Kita harus memberikan lebih banyak obat tidur. Kita harus membuatnya tetap tertidur sampai nanti kita siap untuk bangun dia," jawab ayahmu, suaranya terdengar sedikit panik.

"Okay," jawab ibumu, suaranya terdengar sedikit pasrah.






























































































Ayahnya Aiden kejam sekali sampai mengubur Aiden hidup-hidup, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰

The Forbidden Room Mystery(End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang