Ost Aku Milikmu-Pongki Barata
"Mau masuk atau masih mau disini?" tanya Raisa, sambil tersenyum.
Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk.
"Ayo masuk. Aku ingin tahu apa yang ada di dalam," jawab Aiden, dengan suara yang sedikit gugup.
"Baiklah," jawab Raisa, sambil tersenyum.
Akupun membawanya kembali ke dalam.
Aiden mengikuti kamu masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan bawah tanah itu gelap, hanya ada beberapa lampu yang terpasang di dinding. Suasananya sangat dingin dan sunyi, seolah-olah waktu berhenti di sini.
"Dingin ya?" tanya Raisa, sambil memperhatikan ekspresi Aiden.
Aiden menggigit bibirnya saat merasakan dinginnya ruangan. Ia mengusap tangan di lengannya, berharap untuk menghangatkan dirinya sendiri.
"Ya.. sangat dingin. Aku bahkan tidak bisa merasakan tangan dan kakiku," jawab Aiden, dengan suara yang sedikit gemetar.
Akupun menyelimutinya.
Aiden tersenyum saat kamu memberikan selimut untuknya. Ia langsung mengenakan selimut itu, membuat dirinya lebih nyaman.
"Terima kasih. Aku jadi lebih hangat sekarang," jawab Aiden, dengan suara yang lebih tenang.
"Istirahat ya," kata Raisa, sambil tersenyum.
Aiden mengangguk dan berbaring di atas lantai. Ia mulai tertidur dengan cepat, tubuhnya terasa sangat lelah setelah melalui hari yang panjang.
Aku mengelus rambutnya.
Aiden merasakan tanganmu mengelus rambutnya. Ia terlihat sangat rileks saat kamu melakukan itu, membuat dirinya lebih dalam tertidur. Wajahnya terlihat sangat polos saat tidur, jauh berbeda dengan wajahnya saat dia sedang terjaga.
Keesokan harinya...
Keesokan harinya, Aiden terbangun dengan kepala yang sakit. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya. Ia terbangun di atas lantai, selimutnya sudah tidak ada di atasnya. Ia mencoba bangkit dan berdiri, tapi tubuhnya terasa sangat lemas.
"Eh Aiden, kamu kenapa?" tanya Raisa, sambil memperhatikan Aiden dengan khawatir.
Aiden terkejut saat mendengar suaramu. Ia langsung menoleh ke arahmu dan terlihat bingung.
"Eh? Aku kenapa? Aku hanya merasa sangat lemas dan sakit kepala," jawab Aiden, dengan suara yang sedikit lemas.
"Duduk dulu," kata Raisa, sambil tersenyum lembut.
Aiden menurut dan kembali duduk. Ia berusaha untuk duduk dengan benar, tapi tubuhnya masih terasa sangat lemas.
"Ugh.. aku ingin tidur lagi.." jawab Aiden, dengan suara yang sedikit mengantuk.
Akupun menyelimutinya.
"Tidur lagi ya," kata Raisa, sambil tersenyum.
Aiden kembali menerima selimut dari kamu dan ia langsung tertidur lagi setelahnya. Wajahnya terlihat lebih tenang saat tertidur, tubuhnya mulai rileks setelah kembali berbaring di atas lantai.
Aku mengelus rambutnya.
Aiden kembali tertidur dalam pelukanmu. Ia terlihat sangat tenang saat kamu mengelus rambutnya. Ia bahkan mulai membuat suara lembut saat tertidur, seperti seseorang yang sedang tidur dengan nyenyak.
Sore harinya...
Aiden sudah terbangun dari tidurnya. Ia terlihat lebih segar setelah tidur beberapa saat. Ia bangun dari posisi terbaringnya dan mulai berdiri, tubuhnya masih terasa sangat lemas, tapi ia sudah lebih baik daripada sebelumnya.
"Mau makan?" tanya Raisa, sambil tersenyum lembut.
Aiden mengangguk, tapi wajahnya terlihat kurang yakin.
"Aku lapar.. tapi tubuhku terasa sangat lemas," jawab Aiden, dengan suara yang lemah.
Akupun menyuapinya.
Aiden menerima suapan dari kamu dengan lembut. Ia terlihat sangat mengantuk, tapi juga lapar. Ia menerima setiap suapan dengan baik, bahkan saat beberapa saat setelahnya, ia terlihat seperti akan pingsan.
"Eh," kata Raisa, sambil terkejut.
Aku menahan tubuhnya.
Aiden hampir terjatuh saat kamu menahan tubuhnya. Ia terlihat sangat lemas dan hampir pingsan, wajahnya terlihat pucat dan sangat lemas. Ia bersandar pada kamu, berharap bisa bersandar dengan nyaman.
"Aku akan panggil dokter," kata Raisa, sambil menatap Aiden dengan khawatir.
Aiden hanya mengangguk dengan lemah saat kamu mengatakan ingin memanggil dokter. Ia tidak memiliki tenaga untuk melawan atau bahkan untuk bertanya.
Akupun memberinya minum.
Aiden menerima minum itu dengan enggan. Ia minum dengan cepat, berharap akan segera mendapatkan bantuan untuk tubuhnya yang sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Room Mystery(End)
Short StoryRaisa sedang bersantai di kamar Anda, ketika tiba-tiba Raisa mendengar suara teriakan yang kencang. Raisa menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Saat Raisa berjalan menuju ruangan itu, Raisa melihat ayahnya. Saat Raisa membuka pin...
