part 5

42 27 1
                                        

Ost A whole new World-Zayn, Zhavia Ward

Ayah: "Iya... Aku memang pernah menampar kamu karena alasan yang salah. Tapi itu semua sudah berlalu... Saya tidak akan melakukan hal seperti itu lagi pada adikmu. Ia mungkin bukan anak normal tapi dia tetaplah manusia dan dia masih membutuhkan kasih sayang dari orang lain juga."

Raisa: "Aku mau kita berbuat itu, ayah. Aku hanya ingin dia mendapatkan perhatian dari kita berdua, walaupun kita bukan keluarga kandungnya?"

Ayah: "Ya... Mungkin kamu bisa mulai memberikan perhatian padanya seperti bagaimana saya berusaha untuk melakukan itu. Kita berdua mungkin tidak pernah menjadi keluarga kandungnya tapi kita tetaplah orang tua baginya. Kita harus membantunya agar ia dapat tumbuh sebagai manusia normal meskipun ia berbeda dari kami."

Raisa: "Itu yang mau aku dengar dari ayah."

Ayah: "Jadi kamu bersedia untuk mencoba membantuku dalam membantu adikmu ini? Apakah itu yang kamu inginkan?"

Raisa: "Ya, aku mau, ayah."

Ayah: "Terima kasih... Itu yang saya inginkan juga. Kita berdua akan mencoba untuk membantu adikmu ini semaksimal mungkin supaya ia dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang normal seperti orang lain."

Aku tersenyum hangat kepada Aiden dan ayah.

Ayah juga tersenyum hangat, dan mereka berdua tampak saling menatap satu sama lain. Ayah tampak senang bahwa adiknya tidak marah padanya seperti dulu.

Raisa: "Aiden, tidak marah kan sama ayah?"

Ayah: "Tidak, adikku... Ayah tidak pernah marah pada kamu lagi. Saya juga sudah berjanji untuk tak akan mengulanginya lagi."

Raisa: "Aku mau dengar dari Aiden, ayah. Ini."

Ayah berbicara dengan suara lembut lagi, dan dia tampak menunggu jawaban dari Aiden. Dia tetap menatap adiknya dengan mata yang penuh kasih sayang.

Raisa: "Aiden!"

Aiden mengangguk dengan pelan, dan dia menatap kakak. Dia tampak ingin tahu apa yang akan diucapkan oleh kakaknya.

Raisa: "Gimana? Kamu tidak marah lagi kan sama ayah?"

Aiden berpikir sejenak, dan dia tampak ragu untuk menjawab. "Iya... Aku tidak marah lagi. Ayah sudah berjanji bahwa ia akan berhenti menampar kamu seperti dulu."

Raisa: "Aiden, mau kan sekolah? Dan berobat, Aiden mau kan?"

Aiden mengangguk dengan tegas. "Iya... Aku mau sekolah dan berobat. Tapi ayah tidak bisa membiayai semua itu sendiri, jadi kamu harus ikut membantu juga. Apakah kakak siap untuk melakukan hal tersebut?"

Raisa: "Ayah mah duitnya banyak, ya kan?"

Ayah tersenyum lebar, dan dia tertawa. "Iya... Ayah punya uang yang cukup banyak. Tapi ayah tidak bisa berbuat apa-apa sendiri tanpa bantuan dari adiknya juga. Jadi kamu harus ikut membantu saya untuk membiayai biaya sekolah dan pengobatan Aiden."

Raisa: "Siap, ayah."

Ayah tersenyum dengan bahagia, dan dia menepuk bahu adiknya. "Terima kasih... Itu yang saya inginkan. Kita berdua akan berusaha sekuat tenaga untuk membiayai Aiden sampai ia menjadi anak normal seperti anak-anak lain."

Aku memeluk mereka berdua.

Ayah juga memeluk adiknya dengan erat, dan mereka berdua tampak bahagia. Ayah berbicara lagi. "Saya sangat senang kamu mau ikut membantu saya untuk membiayai Aiden. Kita akan bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi adik kita."

Raisa: "Siap, ayah."

Ayah juga tersenyum lebar, dan mereka berdua terus memeluk satu sama lain. Ayah menepuk bahu adiknya lagi. "Kamu adalah orang yang baik untuk Aiden. Saya beruntung mempunyai kamu sebagai adikku."

Raisa: "Ayah, aku kan anak ayah, ih."

Ayah terkekeh dan mengangguk. "Ya... kamu adalah anak ayah, tapi kamu juga seperti kakak untuk Aiden. Kita berdua sudah berjanji untuk selalu melindungi adik kita sampai akhir hayat. Jadi jangan khawatir, kita akan melakukan yang terbaik demi dia."

Raisa: "Hm, ayah harus ke kantor sepertinya?"

Ayah tampak sedikit kaget dengan permintaan adiknya, tapi dia mengangguk. "Iya... Ayah harus pergi ke kantor untuk bekerja. Tapi sebelum saya pergi, ada sesuatu yang perlu aku katakan kepada kamu."

...

Raisa: "Apa itu, ayah?"

Ayah tampak agak ragu untuk mengatakannya, tapi akhirnya dia berani untuk mengucapkannya. "Kamu tahu bahwa ayah dan ibu kami selalu merahasiakan adik laki-lakimu dari kamu kan?"

Raisa: "Aiden?"

Ayah tampak sedikit heran karena adiknya tidak mengerti, tapi dia masih melanjutkan. "Iya... kamu tahu bahwa Aiden adalah adikmu kan? Ayah dan ibu kita sudah berjanji untuk merahasiakan dia dari kamu. Tapi sekarang saya sudah memberitahu kamu agar tidak ada lagi rahasia yang harus di rahasiakan antara kalian berdua. Jadi mulai sekarang jangan ragu untuk menanyakan apapun tentang Aiden kepada ayah ya."

Raisa: "Baik, ayah."

Ayah memeluk adiknya lagi dan berbicara dengan lembut. "Terima kasih, kamu anak yang baik. Ayah sangat bangga pada dirimu. Sekarang ayah harus pergi dulu ya... saya harap kamu tidak melakukan sesuatu yang salah selama saya tidak ada di sini."

Raisa: "Ya, ayah. Udah, aku akan menjaga Aiden."

Ayah tersenyum dan berbisik ke telinga adiknya. "Terima kasih sekali lagi... saya percaya kamu akan melakukan yang terbaik untuk Aiden. Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk memanggilku ya. Saya akan langsung datang kemari."

Raisa: "Siap, ayah."

Ayah lalu keluar dari kamar, dan setelah itu adikmu hanya tinggal berdua dengan Aiden di dalam ruangan. Aiden tampak menantikan adiknya untuk berbicara padanya.

Raisa: "Aiden, kau berani loh."

Aiden memandang kakaknya dengan tatapan tajam, tapi dia tampak agak malu dan menahan amarahnya. Aiden juga menaruh pandangan ke arah lain untuk menghindari kontak mata dengan kakaknya.

Aiden masih tidak mau menatap kakaknya, tapi dia juga tampak sedikit bersemangat mendengar pernyataan tersebut. Dia menoleh ke arah kakaknya dan memandangnya dengan penuh perhatian.

Aku memeluknya.

Aiden akhirnya membalas pelukan kakaknya, meskipun dia masih tampak sedikit takut dan cemas. Tapi di dalam hatinya dia senang karena akhirnya ia dapat memeluk kakak perempuannya yang sudah lama di harapkannya.

Raisa: "Jangan bersedih lagi, okay."

Aiden memeluk kakaknya lebih erat dan mengangguk. "Aku tidak akan lagi, kakak... kamu di sini sekarang. Aku sudah lama menunggu ini."

Raisa: "Aiden, jangan takut lagi, okay."

Aiden mengangguk dan mengiyakan, tapi dia masih tampak sedikit takut. Dia juga mulai menanyakan sesuatu yang ada di pikirannya. "Apakah kamu pernah mendengar tentang ibu dan ayah kita?"

Raisa: "Ibu kamu dan ayah kamu? Aku belum pernah dengar sih."

Aiden tampak sedikit bingung dan heran. Dia mulai bertanya lebih jauh lagi. "Jadi kamu tidak pernah tahu siapa mereka? Ayahmu dan ibuku yang mengurung aku di dalam ruangan ini juga tidak pernah memberitahu tentang kedua orang tuamu?"

Raisa: "Kedua orang tuamu itu bukan ayahku. Mereka adalah adik dari ayahku yang mengurungmu."

Aiden tampak terkejut, dan dia mulai berpikir. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang tuanya adalah adik-adik dari ayah mereka sendiri yang mengurungnya di dalam ruangan ini. "Jadi... kamu anak satu-satunya dari ayahmu? Ayahmu punya adik laki-laki atau perempuan?"

Raisa: "Tidak ada. Aku anak tunggal."

Aiden tampak senang mendengar hal tersebut, dan dia mengangguk dengan senyuman. "Itu berarti kamu tidak punya saudara lain selain aku ya?"

Raisa: "Ya, makanya aku senang banget ketika aku punya adik, walaupun kamu bukan adik kandungku."

Aiden tampak sedikit terharu dan senang, dia juga menanyakan lagi. "Apakah kamu pernah membayangkan memiliki adik laki-laki yang lebih besar dari dirimu?"

Raisa: "Tidak sih. Dulu aku pengen punya adik laki-laki yang akan selalu menjaga kakak perempuannya."

Aiden tersenyum lebar dan tampak sedikit bahagia mendengar pernyataan adiknya. Dia mengangguk dengan penuh kebahagiaan. "Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menjadi kesepian, kakak... aku akan selalu menjaga dan merawatmu."

Raisa: "Aku juga. Kita akan selalu saling menjaga ya."

Aiden juga berjanji dengan penuh semangat. "Ya, kita akan selalu saling menjaga satu sama lain. Kita harus melindungi dan mencintai satu sama lain. Kita sudah seperti saudara kandung, bukan?"

Raisa: "Tentu, Aiden."

Aiden memeluk kakaknya dengan erat lagi, dan dia tidak mau melepaskan pelukannya. "Jadi kamu sudah siap untuk jadi kakak yang baik untuk aku kan? Kita akan menjadi satu keluarga yang bahagia ya."

Raisa: "Ya."

Aiden mulai tersenyum lebar dan dia bertanya lagi. "Apakah kamu pernah memikirkan tentang siapa nama yang akan kita berikan pada diri kami sendiri? Saya punya satu ide, apakah kamu mau dengar?"

Raisa: "Apa itu?"

Aiden: "Mungkin kita bisa memberi nama yang sama, seperti kakak dan adik. Apakah kamu setuju? Kita dapat menjadi Aiden dan Raisa!" Aiden tampak bahagia saat dia memikirkan ide itu.

Raisa: "Boleh, aku suka."

Aiden tampak senang dan dia memeluk adiknya lagi, dia juga memberi tahu bahwa mereka berdua adalah saudara yang baik. "Jadi kamu setuju? Kita akan jadi Aiden dan Raisa!"

Raisa: "Ya, aku setuju."

















































































Mereka adalah saudara yang akrab, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰

The Forbidden Room Mystery(End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang