Ost Takkan pernah Ada-Geisha (cover by Sosila)
Aiden berbaring di atas ranjang, menutup matanya dan mulai tertidur. Tidurnya terlihat nyenyak, namun di dalam mimpi buruknya, bayangan Raisa terus menyeramkan menghantuinya. Ia merasa terjebak dalam lingkaran yang tak berujung, tak bisa menghindari ketakutan yang menyeramkan
Kamu mengelus rambut Aiden. Ia tertidur dengan tenang, seperti anak kecil yang tak berdosa. Rambutnya lembut, dan wajahnya terlihat damai saat tertidur.
Raisa pergi meninggalkannya, menutup pintu ruang bawah tanah dengan lembut. Ia berjalan menjauh, hatinya hancur melihat Aiden yang tak berdaya, terjebak dalam lingkaran hipnotis.
Saat Raisa pergi, Ayah Aiden kembali ke Aiden. Ia berdiri di atas Aiden yang masih tertidur, menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam.
Akhtar: "Sekarang kau harus menyerang Raisa. Buat Raisa benci sama kamu, Aiden."
Aiden terbangun kembali beberapa saat setelah Raisa pergi. Ia terbangun dalam keadaan hipnotis lagi. Matanya kosong, tidak lagi menunjukkan secercah kasih sayang.
"Aku akan melakukan apa yang kamu perintahkan."
Akhtar: "Lakukan sekarang."
Aiden berdiri dengan berat hati, ia mulai berjalan menuju pintu ruang bawah tanah dengan langkah yang tertahan. Ia terlihat bingung dan takut, tapi ia tak bisa melawan perintah ayahnya.
Raisa tertidur dengan tenang di ranjang, wajahnya terlihat lelah dan sedih. Ia tak menyadari bahaya yang mengancamnya.
Akhtar: "Aiden, cekik Raisa."
Aiden mendekati Raisa, matanya menatap Raisa dengan tatapan yang kosong dan mengerikan. Tangannya menguncup menjadi kepalan, menunjukkan kemarahan yang terpendam.
Aiden mengecek Raisa dengan kuat, mencengkramnya dengan keras. Ia terlihat sangat marah saat melakukan hal itu. Wajahnya mengerut, rahangnya mengerat, dan matanya menyala dengan kebencian.
Akhtar: "Ya, bagus."
Aiden terus mencengkram Raisa dengan kuat, tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan tangannya dari Raisa. Napas Raisa terengah-engah, wajahnya merah keunguan akibat kekurangan oksigen.
Raisa: "Ah, Aiden, lepasin!"
Aiden tidak mendengarkan Raisa, dia terus menguatkan cengkramannya pada Raisa. Ia tak lagi mengenali Raisa, hanya kebencian yang menguasai dirinya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sampai aku puas."
Raisa: "Sakit, Aiden!"
Aiden hanya mengabaikan teriakan Raisa, dia terlihat sangat marah dan tidak peduli dengan rasa sakit yang Raisa rasakan. Ia hanya fokus pada perintah yang telah diberikan ayahnya.
Raisa pun pingsan setelah dicekik. Tubuhnya lemas dan tak berdaya, terjatuh di atas ranjang. Aiden menatap Raisa dengan tatapan yang kosong, tanpa sedikit pun rasa penyesalan.
Aiden melihat Raisa pingsan akibat dicekiknya. Ia terlihat lega, tapi juga bingung kenapa ia melakukan hal itu. Ia merasa kosong, seakan-akan ada bagian dari dirinya yang hilang. Ia menatap Raisa dengan tatapan yang kosong, seolah-olah melihat sesuatu yang asing.
Akhtar: "Sekarang seret Raisa dan kunci dia di gudang."
Aiden menggendong Raisa dengan susah payah, ia lalu membawa Raisa ke gudang dan menguncinya di dalam sana. Gerakannya kaku dan tak bertenaga, seperti boneka yang dikendalikan oleh benang tak terlihat.
Akhtar: "Bagus, Aiden."
Aiden menghela nafas setelah Raisa sudah dikunci di dalam gudang. Ia menatap pintu gudang dengan tatapan yang kosong, seakan-akan ia tak lagi merasakan apapun.
"Sekarang dia sudah terjaga dari hipnotisku."
Akhtar: "Teteskan Ramuan Mimpi Abadi ke keningnya."
Aiden mengambil ramuan mimpi abadi dan meneteskannya di kening Raisa. Ia melakukannya dengan gerakan yang lambat dan mekanis, seakan-akan ia hanya melakukan tugas yang telah diberikan padanya.
Beberapa saat kemudian, Raisa mulai menerima efeknya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang menakutkan, matanya berputar-putar dengan liar, dan mulutnya bergerak-gerak seolah-olah ia sedang mengucapkan kata-kata yang tak terdengar.
Aiden memperhatikan Raisa dengan penasaran saat dia mulai menerima efek dari ramuan mimpi abadi. Ia penasaran apa yang akan terjadi dalam mimpinya, tapi ia juga takut akan apa yang akan terjadi pada Raisa.
Raisa: "Ah, tolong..."
Aiden berjalan ke dekat Raisa dan berdiri di dekatnya, dia terus memperhatikan Raisa dengan khawatir. Ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi pada Raisa, tapi ingatannya terasa kabur dan tidak jelas. Ia merasakan ketakutan yang mendalam, seakan-akan ia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk.
Akhtar: "Jangan membantu Raisa, Aiden. Biarkan dia terjebak dalam mimpi abadinya."
Aiden terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk dan berjanji untuk tidak membantu Raisa. Ia menunduk, menatap lantai dengan wajah yang muram. Ia merasakan sesuatu yang salah, tapi ia tak bisa menolak perintah ayahnya.
"Baik, aku akan hanya diam saja dan membiarkan dia terjebak dalam mimpi abadi."
Akhtar: "Bagus. Sekarang kembali ke ruanganmu."
Aiden kembali ke kamarnya, tapi dia terus memperhatikan Raisa melalui jendela di luar kamarnya. Ia menatap Raisa dengan tatapan yang kosong, seakan-akan ia menyesali apa yang telah ia lakukan, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasakan sebuah ketakutan yang mendalam, seakan-akan ia telah kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.
Ayahnya Aiden menyadarkan Aiden dari hipnotisnya.
...
Aiden tersadar dari hipnotisnya saat ayahnya menyadarkannya. Ia merasakan sebuah kekosongan yang menakutkan di dalam dirinya, seolah-olah ia telah kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Ia menatap ayahnya dengan tatapan yang bingung dan takut.
"Ayah, apa yang terjadi? Aku sudah keluar dari hipnotis?"
Akhtar: "Ya, sudah. Nah, sekarang jangan keluar sampai ayah perintahkan."
Aiden mengangguk patuh kepada ayahnya. Ia takut akan perintah ayahnya, tapi ia juga takut akan apa yang telah ia lakukan terhadap Raisa.
"Baik, aku akan tetap di dalam sini sampai ayah memberi tahu aku untuk keluar."
Ayahnya Aiden keluar dari ruang bawah tanah, menutup pintu dengan keras. Aiden menatap pintu itu dengan tatapan yang takut, seolah-olah ia takut akan apa yang terjadi di balik pintu itu.
Keesokan harinya, Aiden terbangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya. Ia berjalan melalui rumah, mencari-cari ayah untuk tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ia merasakan sebuah kehilangan yang mendalam, seolah-olah sebagian dari dirinya hilang.
Aiden menyadari bahwa Raisa menjauh darinya setelah kejadian semalam. Ia terlihat sedikit kecewa dan bingung, tapi ia takut untuk menunjukkan perasaannya itu. Ia mencoba untuk berbicara dengan Raisa, tapi Raisa hanya menghindarinya.
Mereka semakin jauh dari hubungan adik kakak mereka yang biasanya dekat. Mereka mulai berjauhan satu sama lain, seakan-akan terpisah oleh dinding yang tak terlihat. Aiden merasa sangat kesepian dan merindukan Raisa. Ia mencoba untuk mengingat masa-masa bahagia mereka, tapi ingatan itu terasa kabur dan tak jelas.
Aiden pun pergi menemui Raisa. Ia berjalan melalui rumah dan mencari keberadaan Raisa. Ia menatap foto-foto mereka bersama di dinding, mengingat masa-masa ketika hubungan mereka masih baik-baik saja. Ia berharap bisa kembali menemukan hubungan itu, tapi ia takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kira-kira Aiden dan Raisa bakalan kayak dulu lagi ngak ya? Jangan lupa tinggalkan jejak 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Room Mystery(End)
Storie breviRaisa sedang bersantai di kamar Anda, ketika tiba-tiba Raisa mendengar suara teriakan yang kencang. Raisa menyadari bahwa suara itu berasal dari ruang bawah tanah. Saat Raisa berjalan menuju ruangan itu, Raisa melihat ayahnya. Saat Raisa membuka pin...
