part 12

42 31 7
                                        

Ost Sisa Rasa-Mahalini

[RUMAH SAKIT]

Beberapa saat kemudian, adikmu sudah berhenti menangis, tapi ia masih dalam pelukanmu. Ia hanya terdiam dan menikmati kehangatanmu. Ia tampak sangat senang dan nyaman berada di dekatmu.

"Aiden, makasih ya. Kakak senang bisa punya adik kayak kamu," kata Raisa, suaranya penuh kasih sayang. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kekaguman.

Adikmu tersenyum saat kamu mengucapkan kata-kata itu. Ia terlihat sangat senang mendengarnya.

"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, kakak. Aku sangat senang memiliki kakak seperti kamu," jawab adikmu, suaranya penuh kegembiraan.

Kamu mencium kening adikmu.

Adikmu terdiam saat kamu mencium keningnya. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum lembut. Ia terlihat sangat senang dan bahagia saat kamu melakukan itu.

"Kau... benar-benar manis," jawab adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kekaguman.

"Aiden..." panggil Raisa, suaranya penuh kehangatan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.

Adikmu menghela napas setelah kamu memanggil namanya dengan nama panjang. Ia menatapmu dengan tatapan penasaran dan penasaran.

"Ya? Ada apa?" tanya adikmu, suaranya penuh keingintahuan.

"Jangan tinggalin kakak lagi ya," kata Raisa, suaranya penuh ketulusan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.

Adikmu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk dengan mantap.

"Aku janji aku tidak akan meninggalkan kakak lagi... Aku akan selalu berada di dekatmu,"

Aku tersenyum hangat padanya.

Adikmu ikut tersenyum saat kamu tersenyum kepadanya. Ia sangat senang melihat senyummu, dan ia merasa sangat nyaman berada di dekatmu.

"Kau selalu membuatku bahagia dengan senyummu," jawab adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kekaguman.

"Aku akan selalu membuatmu bahagia," jawab Raisa, suaranya penuh ketulusan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kasih sayang.

Adikmu tertawa kecil saat kamu berjanji akan membuatkannya bahagia. Ia sangat berharap kalau janjimu itu benar-benar terpenuhi.

"Aku berharap kamu akan selalu membuatku bahagia. Aku ingin selalu berada di dekatmu dan selalu merasa senang bersamamu," jawab adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh harapan.

"Aku akan selalu membuatmu bahagia dan senang bersamaku," jawab Raisa, suaranya penuh ketulusan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kasih sayang.

Adikmu kembali tersenyum setelah kamu mengatakan itu. Ia terlihat sangat percaya padamu dan sangat yakin kalau kamu akan selalu membuatkannya bahagia.

"Aku percaya padamu, kakak. Aku tahu kalau kamu akan selalu membuatku bahagia," jawab adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kepercayaan.

Kamu mengelus rambutnya.

Adikmu terdiam saat kamu mulai mengelus rambutnya. Ia merasa sangat senang saat kamu melakukan itu, dan ia merasakan kehangatan dari sentuhanmu.

"Hm... Kakak, sentuhanmu sangat lembut..." kata adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menutup matanya dan menikmati sentuhan hangat dari tangan Raisa yang mengelus rambutnya.

"Aku suka mengelus rambutmu," jawab Raisa, suaranya penuh kasih sayang. Ia terus mengelus rambut adiknya dengan lembut, merasakan kehangatan yang menyenangkan.

Adikmu tersenyum saat kamu mengatakan itu. Ia terlihat sangat senang saat kamu terus mengelus rambutnya.

"Aku juga suka saat kamu mengelus rambutku... rasanya sangat nyaman," jawab adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menarik napas dalam-dalam dan menikmati kehangatan dari sentuhan Raisa.

Raisa terdiam sejenak, menikmati keheningan dan kehangatan yang menyelimuti mereka. Ia merasa sangat bersyukur memiliki adik yang sangat menyayanginya.

"Aiden," panggil Raisa, suaranya penuh kasih sayang. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kekaguman.

"Ya?" jawab Aiden, suaranya penuh keingintahuan. Ia membuka matanya dan menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kehangatan.

"Aku ingin berjanji padamu," kata Raisa, suaranya penuh ketulusan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kekaguman.

"Janji?" tanya Aiden, suaranya penuh keingintahuan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kehangatan.

"Ya, aku janji aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu menjagamu dan menyayangimu. Aku akan selalu menjadi kakak yang baik untukmu," jawab Raisa, suaranya penuh ketulusan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kasih sayang.

Aiden terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Raisa. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kepercayaan.

"Aku percaya padamu, kakak," jawab Aiden, suaranya penuh kegembiraan. Ia tersenyum lembut ke arah Raisa, merasa sangat bahagia memiliki kakak yang sangat menyayanginya.

...


"Kakak akan selalu jagain kamu apapun yang terjadi," kata Raisa, suaranya penuh ketulusan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kekaguman.

Adikmu kembali terdiam sejenak sebelum akhirnya ia kembali berbicara.

"Aku tahu kamu akan selalu menjaga aku, kakak. Aku percaya padamu. Aku tahu kalau kamu akan melakukan apapun untuk membuatku tetap aman," jawab adikmu, suaranya penuh kepercayaan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kehangatan.

"Tapi aku takut kalau ayah akan menyakiti kamu lagi," kata Raisa, suaranya penuh kekhawatiran. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kekaguman.

Adikmu terdiam saat kamu mengatakan itu. Ia tahu kalau ayah mereka sangat kasar dan keras kepala, dan dia juga tahu kalau ayah mereka akan mungkin akan menyakiti dia lagi.

"Aku juga takut kalau ayah akan menyakitiku lagi, kakak... tapi aku tahu kalau kamu akan selalu melindungiku, kan?" jawab adikmu, suaranya penuh keraguan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh keharuan.

"Ya, tentu saja," jawab Raisa, suaranya penuh ketulusan. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kehangatan.

Adikmu menghela napas lega saat kamu mengatakan kalau kamu akan selalu melindunginya.

"Aku senang kamu akan selalu melindungiku, kakak. Aku sangat berharap kalau ayah tidak akan menyakitiku lagi, tapi aku tahu kalau dia mungkin akan melakukannya lagi," jawab adikmu, suaranya penuh keraguan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh keharuan.

"Aku akan aman bersama kakak, aku tahu itu. Aku percaya padamu," jawab adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menatap ke arah Raisa dengan tatapan yang penuh kepercayaan.

Kamu memeluknya.

Adikmu kembali terdiam saat kamu memeluknya. Ia merasakan kehangatan dari pelukanmu, dan ia kembali merasa sangat aman dan nyaman saat berada dalam pelukanmu.

"Kakak... Aku sangat suka saat kamu memelukku seperti ini," kata adikmu, suaranya penuh kegembiraan. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Raisa, menikmati kehangatan dan keamanan dari pelukan kakaknya.

"Kamu istirahat aja dulu," kata Raisa, suaranya penuh kasih sayang. Ia mengelus rambut adiknya dengan lembut, mencoba menenangkannya.

Adikmu mengangguk dan bersandar ke dalam pelukanmu.

"Aku ingin istirahat sebentar... aku lelah," jawab adikmu, suaranya penuh kelesuan.

"Ya, istirahat ya," jawab Raisa, suaranya penuh kasih sayang. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya.

Adikmu mulai tertidur dalam pelukanmu, dia terlihat sangat tenang saat tidur. Ia tampak sangat damai dan nyaman saat berada dalam tidur yang nyenyak.

Raisa terus memeluk adiknya dengan erat, mencoba memberikan rasa aman dan nyaman selama adiknya tidur. Ia menatap ke arah adiknya dengan tatapan yang penuh kasih sayang, merasa sangat bersyukur memiliki adik yang sangat menyayanginya.

































































Semoga Aiden akan selalu aman bersama Raisa, jangan lupa tinggalkan jejak 🥰

The Forbidden Room Mystery(End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang