_Reyvana 30_

43 3 4
                                        

Happy Reading 🤗

"Seberat dan seburuk apapun masalah yang datang dihidup lo, percaya lah bahwa Tuhan tak pernah tidur, dia adalah penentu takdir terbaik buat hidup kita. Kalau sekarang Tuhan memberi mu cobaan yang begitu besar, ingat pada endingnya Tuhan tetap akan memberimu kebahagiaan"
_Viola keysia_
_
_
_

*****

Ala menutup pintu rumahnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia melangkah meninggalkan rumah dengan perasaan campur aduk. Entahlah, sekedar untuk tersenyum saja rasanya sangat sulit. Ala berhenti sejenak dipagar rumahnya, lalu ditatap nya rumah ana, ada gurat keraguan yang terpancar diwajah manis tersebut. Antara melangkah maju, atau bergerak mundur. Namun, jika ala mundur, ia akan menjadi penghianat yang menyembunyikan sebuah rahasia besar yang sudah seharusnya ana ketahui. Disisi lain pula, ala takut, ia takut pada kenyataan yang akan ia hadapi nantinya.

Namun setelah menimbang dengan penuh keyakinan, ala berjalan maju. Ia harus maju untuk terlepas dari masalalu kelamnya, karena jika ia mundur, itu sama saja membuat masalalu nya menang. Dan ala tak mau masalalu nya menjadi pemenang dikehidupan nya. Ala harus bangkit, ala tak boleh terus-terusan terpuruk pada masalalu.

Dengan memantapkan dirinya, dan dengan keyakinan hatinya, ala melangkah menuju rumah sahabatnya yang pintu rumahnya terbuka sedikit. Ala melangkah dengan perasaan campur aduk.

"Apapun resikonya, lo harus terima la. Apapun nanti reaksi ana, lo nggak boleh ngebantah apalagi sampai marah. Ingat, ana perlu tau soal ini, dan sudah saatnya lo harus kasih tau dia. Ana nggak boleh seumur hidup dihantui oleh kebohongan ini. Lo harus lurusin masalah ini. Lo pasti bisa ala." ujar ala pada dirinya sendiri, meyakinkan bahwa ini lah jalan yang terbaik.

Dengan memantapkan hatinya sekali lagi, ala mengetuk pintu rumah ana sembari mengucap salam. Tak perlu menunggu lama, helsi, mama ana langsung membuka pintu dan sudah berada dihadapan ala sekarang.

"Ala? Mari masuk. " ujar helsi tersenyum sembari mempersilahkan ala untuk masuk.

"Iya tante. " jawab ala sopan lalu mengikuti helsi masuk kedalam. Ala duduk di ruang tamu.

"Ada perlu apa nak ala? " tanya helsi sembari ikut duduk di samping ala.

"Cari ana tan. Ada nggak? " tanya ala sembari celingak celinguk mencari keberadaan ana.

"Oalah.. Ana tadi izin keluar sama tante, belum pulang sampai sekarang. Nggak tau mau kemana, soalnya nggak bilang tadi perginya kemana. " jelas helsi yang membuat ala menghela napas.

"Percuma dong gue kesini kalau ana nggak ada" batin ala meng gerutu.

"Gitu ya tan. Kemana ya kira-kira tuh bocah? "

"Coba kamu telpon aja kalo emang penting la. " saran helsi yang langsung diangguki oleh ala.

Segera ala mengambil ponselnya dari dalam Saku celananya. Dicarinya kontak sahabat nya, lalu setelah nya ala pun menghubungi ana.

"Halo na. Lo dimana? " begitu panggilan tersambung, ala langsung menanyakan keberadaan sahabatnya itu.

"Dirumah. Kenapa? " jawab ana dengan suara parau seperti baru saja menangis. Mendengar hal tersebut, sontak ala terkejut. Dirumah?

"Lo nggak usah bohong kocak. Gue dirumah lo sekarang dan tante helsi bilang kalo lo nggak dirumah. " ujar ala sedikit kesal karena ana membohongi nya.

"Gue beneran dirumah. Lagi dikamar gue. Nyokap nggak tau gue ada dirumah. Masuk aja. Nggak gue kunci. " setelah mengatakan itu, ana memutuskan panggilan secara sepihak yang membuat ala berdecak sebal.

Reyvana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang