_Reyvana 31_

11 2 1
                                        

Happy Reading🤗
-
-
-

"Bukan tanpa alasan suatu masalah terjadi, semua terjadi karna ada happy ending dibaliknya"
_Melva vaa_

*****

Ala melongo sepanjang mendengar cerita ana. Tak pernah terbayangkan oleh ala jika hal seperti ini bakal terjadi dihidup sahabatnya. Sebesar apa pun cobaan yang dialami ala, lebih besar cobaan yang datang pada sahabatnya. Perihal kematian Harris saja sudah membuat ala benci dengan takdir, lalu bagaimana dengan ana yang tiba-tiba harus mengetahui kenyataan bahwa Harris bukan bunuh diri melainkan dibunuh, dan dengan situasi seperti ini. Ditambah Perihal beasiswa ana yang ternyata palsu. Dan ini? Likho yang tiba-tiba membayar hutang kedua orang tuanya pada keluarga Andara dan dengan jumlah yang tak sedikit? Sungguh ala tak tau harus berkata apa pada ana sekarang.

"Well apa rencana selanjutnya ? " tanya ala sembari menatap sahabatnya yang terlihat kacau.

Ana terdiam, di benaknya belum terfikir rencana yang akan ia lakukan. Yang pasti ana tak mau ini berlanjut lama. Ia harus mencari cara agar dapat cepat membayar kembali apa yang sudah likho berikan pada keluarga nya.

"Dan well lo belum punya rencana apa-apa." ujar ala kala dilihatnya ana hanya terdiam.

Ana mengangguk. Sejujurnya ana juga tak tau apa yang harus ia lakukan. Ana ingin semua kembali seperti semula. Semua sangatlah membebani dirinya. Dan itu semua adalah ulah cowok yang selama ini selalu semena-mena padanya, cowok yang sudah membuat hidupnya tak lagi sama seperti dulu, cowok yang sudah membuatnya kembali merasa bersalah. Ya.. Reyv lah penyebabnya.

"Na.. " panggil ala yang membuat ana terbangun dari lamunannya.

Ana hanya terdiam sembari menatap ala.

"Gue punya solusi buat lo. " ujar ala dengan wajah serius.

"Solusi apa? "

"Lo punya tabungan kan? " tanya ala yang membuat ana mengernyit bingung namun tetap mengangguk.

"Berapa? " tanya ala lagi.

Ana berfikir sebentar. "Kalau lo nyuruh gue buat bayar likho pake tabungan gue, itu  nggak mungkin la. " ujar ana seolah tau apa yang ala fikirkan.

"Gue tau la. Tapi lo bisa pake tabungan gue juga. " ujar ala yang membuat ana seketika melotot.

"GILA LO. " ujar ana sedikit berteriak.

"Kenapa? "

"Gue nggak mau la. Gue nggak mau nge bebani lo. Gue nggak mau lo masuk ke masalah gue. Cukup gue la. " jelas ana menolak.

Jujur saja, ana sudah sangat bersyukur ala masih mau berteman dengannya. Dan tentunya ana tak mau ala ikut dalam masalah nya.

"Na.. Kita tuh sahabat. Dan sudah sewajarnya sebagai sahabat kita saling bantu. Gue nggak mau lo larut dalam kesedihan lo sendiiri na. Gue juga mau bantu lo. " jelas ala menyakinkan sahabatnya.

"Tapi la.. Itu tabungan lo. Gaji lo yang lo simpan selama ini. Gue tau lo pasti juga butuh. " ana tetap menolak.

"Na.. Uang bisa dicari. Kita bisa cari uang sama-sama. Tapi kebahagiaan? Nggak semudah itu na. Gue mau lo bahagia. Kita bahagia sama-sama. Kita lulus Sama-sama. Please percaya sama gue. " yakin ala sembari menyentuh tangan sahabatnya.

"Gue tetap nggak mau la. Gue bakal usahain sendiri gimana pun caranya. " kekeh ana menolak.

Ala terdiam. Ana memang sangatlah keras kepala. Ala tau prinsip sahabatnya yang tak mau merepotkan orang lain. Jadi, mau tak mau ala harus mengeluarkan jurus andalan nya agar ana mau menerima nya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Reyvana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang