17. Raja

284 38 5
                                        

Akhirnya mereka membawa tubuh Asuma kembali ke desa dan melapor kepada Hokage tentang misi mereka. Berita duka kemudian disebarkan. Banyak orang-orang yang terkejut mendengar kabar kematian Asuma yang mendadak.

Di pemakaman itu semua menunduk sedih. Konohamaru menangis sejadi-jadinya. Setelah ditinggal kakeknya, kini paman nya juga meninggalkan nya.

Shikamaru tidak menghadiri pemakaman itu. Mungkin karena tak sanggup melihatnya. Melihat nama Gurunya di atas batu Nisan dengan bunga-bunga bertebaran.

Dan Mirei yang kini hanya menatap kosong seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di matanya. Tangan nya menggenggam benda berkilauan. Mirei hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan namun jiwa nya seakan terpisah dari raganya dan pergi entah kemana.

Setelah upacara pemakaman dilakukan, mereka pun kembali ke rumah masing-masing, namun Mirei tidak kembali.

Entah sudah berapa lama Mirei berdiri, hingga akhirnya Mirei berbalik. Saat ini Mirei benar-benar seperti mayat hidup. Berjalan dengan tatapan kosong dan hanya mengikuti langkah kakinya yang membawa pergi entah kemana. Tangan nya menggenggam erat benda berkilauan itu hingga darah mengalir dari sela-sela jarinya.

"Mirei."

Seseorang memanggil nya namun Mirei tidak berhenti ataupun menoleh, seolah telinganya sudah tertutup rapat dan tidak mendengar apapun.

"Mirei." Panggil seseorang itu lagi.

"Mirei!"

Suara seseorang itu meninggi namun percuma saja, karena Mirei hanya terus berjalan.

Hingga pada akhirnya, tubuh Mirei menabrak sesuatu dan barulah Mirei berhenti. Namun Mirei hanya terdiam.

Ternyata yang Mirei tabrak adalah tubuh seseorang.

Orang itu sedikit menunduk menatap Mirei, melihat matanya yang kosong, dan tangan nya yang berdarah karena menggenggam sesuatu yang berkilauan. Terdiam sejenak sebelum orang itu berucap "Kau itu kuat, berbakat, pintar, dan bisa diandalkan."

Namun Mirei hanya terdiam, membuat orang itu menghela nafas berat mengingat dirinya kemarin "Jangan terlalu larut ke dalam kesedihan mu, Mirei. Jangan menyalahkan dirimu. Itu sudah takdir."

BRAKK!!

Orang itu terkejut dengan gerakan tiba-tiba Mirei yang meninju batang pohon disebelahnya "TAU APA KAU TENTANG TAKDIR HAH?!" Mirei berteriak dengan sangat kesal.

Bibirnya bergetar karena emosi yang sudah ia tahan selama ini. Kilatan amarah dan kebencian terpapar jelas dalam matanya. Menatap orang itu yang adalah Shikamaru.

Namun Shikamaru hanya tersenyum. "Keluarkan semua emosi mu. Kau tidak perlu memendamnya seperti tadi."

Mirei membelalakkan matanya. Seketika air matanya mengalir deras dan Mirei jatuh terduduk. Genggaman tangannya pada benda berkilauan terlepas, membuat benda itu terjatuh disebelahnya.

Terdengar isakan pelan sebelum akhirnya Mirei berteriak pilu.

"AAAAA!!"

Shikamaru memejamkan matanya mendengar teriakan pilu Mirei yang menyayat hati. Tubuhnya bergerak secara naluriah, terduduk berlutut dihadapan Mirei dan menyandarkan kepala Mirei pada bahu tegapnya. Menepuk-nepuk lembut punggung Mirei. Mirei sama seperti dirinya tadi, yang juga menangis dan berteriak, mengeluarkan semua emosinya.

Setelah cukup lama menangis, Mirei pun perlahan menjadi tenang. Mirei dengan perlahan melepaskan diri lalu terbaring lelah, menatap pohon-pohon rindang dan langit malam.

Shikamaru ikut berbaring dan juga menatap langit malam.

"Mengapa kau masih disi--" Ucapan Mirei terhenti ketika sesuatu menghalangi pandangannya.

Naruto Shipudden: ReiseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang