Gita keluar dari ruangan dosen dengan perasaan lega namun tetap waspada. Pak Rahmat, dosen yang memanggilnya, percaya dengan penjelasannya. Ia yakin Gita tidak mungkin berbuat curang. Namun, meski telah menjelaskan semuanya, Gita tahu masalah ini belum selesai. Ia masih harus membuktikan bahwa dia dijebak.
Saat melangkah keluar menuju koridor yang sepi, Gita merasakan udara dingin yang menyusup melalui jendela yang terbuka. Langkahnya perlahan, pikirannya dipenuhi dengan berbagai kekhawatiran tentang bagaimana menyelesaikan masalah ini. Namun, di tengah kekalutannya, sesuatu di ujung koridor menangkap perhatiannya.
Ada seorang pria berdiri di sana, berbicara dengan beberapa teman. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan gaya jaket abu-abu yang dikenakannya begitu familiar. Gita berhenti di tempat, jantungnya seolah melompat ke tenggorokan.
Sosok itu... cara berdirinya, cara dia tertawa pelan, semua sangat mirip. Mirip dengan Rama.
Gita terdiam, tubuhnya membeku. Dari kejauhan, ia melihat pria itu sedang berbicara dengan riang bersama beberapa mahasiswa lain. Tatapan pria itu, cara dia tersenyum tipis-itu adalah senyum yang selalu Gita kenal dengan baik. Hatinya berdebar keras. Tidak mungkin, pikirnya. Rama sudah tiada. Ini hanya ilusi... hanya seseorang yang kebetulan mirip.
Namun, semakin lama dia memandang, semakin sulit baginya melepaskan sosok pria itu dari pikirannya. Kenangan tentang Rama tiba-tiba menyeruak tanpa peringatan-cinta yang pernah tumbuh di antara mereka, kedekatan yang dulu membuatnya merasa utuh, dan rasa sakit kehilangan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Air mata hampir saja jatuh di pipinya, tapi Gita berusaha keras menahan. Dia tidak bisa menangis sekarang. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terhanyut dalam emosi yang begitu asing namun begitu akrab ini. Tidak di sini, di tengah-tengah kampus, di mana orang lain bisa melihatnya.
Gita mencoba menenangkan dirinya, berusaha meyakinkan bahwa ini hanyalah permainan pikiran karena dia terlalu merindukan Rama. Itu pasti hanya orang yang mirip. Namun, semakin dia mencoba berpikir rasional, semakin kuat bayang-bayang Rama hadir di benaknya.
Tanpa sadar, Gita melangkah mundur, berusaha menjauh dari pemandangan itu. Tangannya gemetar, dan napasnya menjadi berat. Dia tidak ingin melihat lebih lama lagi, tidak ingin terjebak dalam perasaan yang membuat hatinya kembali terasa rapuh.
---
Setelah keluar dari koridor, Gita berhenti sejenak di luar gedung. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang sedikit pucat. Rasa rindu yang mendalam pada Rama kembali mengusiknya, meskipun dia tahu bahwa pria tadi bukanlah Rama. Itu tidak mungkin. Tapi kenapa dia begitu mirip?
Gita menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar.
"Ini pasti cuma halusinasi. Aku cuma rindu," bisiknya pada diri sendiri, seolah-olah kata-kata itu bisa menyembuhkan luka yang lama terbuka kembali.
Namun, jauh di dalam hatinya, perasaan tidak menentu itu terus menghantui. Siapakah pria itu? Kenapa dia begitu mirip dengan seseorang yang seharusnya sudah tidak ada? Gita tahu bahwa ini adalah perasaan yang harus dia kubur dalam-dalam, tapi bayangan Rama sepertinya selalu hadir ketika dia mulai merasa kehilangan arah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Ingin Pulang
Novela JuvenilSejak kecil, Gita sudah terbiasa hidup dalam ketakutan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, berubah menjadi medan perang. Setiap malam, teriakan ayahnya yang mabuk menggema di dinding, mengiris hatinya seperti sembilu. Ibu yang dulu pen...
