Hujan gerimis jatuh membasahi bumi, seolah alam ikut berduka atas kehilangan yang begitu mendalam. Di pemakaman itu, suara lirih hujan yang menyentuh tanah menjadi satu-satunya melodi yang menyertai kepergian Gita. Kerumunan orang-orang berdiri mengelilingi liang lahat, semua wajah tertunduk, mata sembab, menyimpan kesedihan yang tak terucap.
Aisyah berdiri di tepi makam, tubuhnya kaku seolah tidak sanggup lagi menahan beban kesedihan yang melumat hatinya. Mata merahnya kosong, tangannya bergetar saat meremas pelan bunga yang ia genggam. Bunga yang sebentar lagi akan jatuh di atas nisan sahabat terbaiknya-satu-satunya orang yang selalu memahami dirinya.
"Aku nggak bisa percaya ini," bisik Aisyah, hampir tak terdengar di antara isak tangisnya sendiri. "Kenapa kamu pergi secepat ini, Gi? Kenapa aku gak bisa bantu kamu?"
Langkah Aisyah berat saat mendekati tepi liang lahat. Peti Gita perlahan-lahan diturunkan, suara kayu yang bergesekan dengan tali membawa kenyataan yang semakin pahit dalam setiap detiknya. Sesak di dada Aisyah semakin kuat, seolah seluruh dunianya sedang runtuh di depan mata. Tidak ada jalan kembali.
"Kita janji bakal hadapin ini bareng-bareng," suaranya pecah. "Kamu bilang kamu kuat, kamu janji gak bakal ninggalin aku, Gi... tapi sekarang kamu pergi, dan aku... aku sendirian."
Air mata terus mengalir tak tertahan. Perlahan, Aisyah menjatuhkan bunga yang sejak tadi ia genggam ke dalam liang lahat. Bunga itu jatuh perlahan, menimpa peti kayu yang dingin. Bunyi lembut bunga yang mendarat di atas peti terdengar seperti akhir dari segalanya.
Aisyah merasakan dunia di sekelilingnya semakin sunyi. Dia tahu, tidak ada lagi yang bisa diucapkan. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Gita, sahabat yang selalu ada di sisinya, kini hanya tinggal kenangan.
Di sisi lain dari kerumunan itu, berdiri seseorang yang Aisyah tak sangka akan hadir: Sarah. Dia berdiri di bawah payung, tubuhnya kaku, dengan tatapan kosong yang terarah pada peti Gita yang sudah terbaring di liang lahat. Tidak ada air mata, tidak ada ekspresi penyesalan di wajahnya. Hanya kekosongan yang membuat kehadirannya terasa seperti bayangan.
Aisyah menatap Sarah dari jauh, rasa marah yang selama ini terpendam mulai muncul. Sarah adalah orang yang selalu mengganggu Gita, memperburuk hidupnya hingga kecelakaan tragis itu terjadi. Namun, sekarang dia hanya berdiri di sana, tanpa rasa bersalah, tanpa kesedihan di matanya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" gumam Aisyah pelan, tapi nadanya penuh kepahitan. "Kamu nggak pantas ada di sini."
Tapi Sarah tidak bereaksi. Tatapan kosongnya tetap terpaku pada makam yang perlahan-lahan mulai ditutup tanah. Dia tidak bergerak, tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berdiri di sana, seperti patung tanpa jiwa.
Aisyah mengepalkan tangannya, amarah bercampur kesedihan memenuhi hatinya. Bagaimana mungkin Sarah tidak merasakan apa-apa? Bagaimana mungkin dia bisa berdiri di sana, seolah-olah tidak ada satu pun beban di hatinya, sementara Gita telah tiada karena ulahnya?
Namun, di sisi lain, Aisyah tahu bahwa tak ada gunanya lagi. Tidak peduli seberapa besar amarah yang ia rasakan, Gita tidak akan kembali. Kehilangan ini terlalu nyata, dan tidak ada yang bisa mengubah kenyataan pahit ini.
Upacara pemakaman berakhir. Perlahan, satu per satu orang mulai meninggalkan pemakaman itu. Hujan masih terus turun, menciptakan suara gemericik yang lembut di antara batu nisan dan rerumputan basah. Aisyah tetap berdiri di sana, tak bergerak, menatap tanah yang kini telah menutupi tubuh sahabatnya.
"Kamu beneran pergi, Gi..." Aisyah berbisik lirih.
Langit semakin gelap, seiring dengan semakin beratnya perasaan Aisyah. Tak ada kata perpisahan yang cukup untuk menenangkan hatinya. Gita telah pergi, dan bersama kepergiannya, sebagian besar hidup Aisyah pun terasa lenyap.
Sementara itu, Sarah berjalan perlahan menjauh, dengan tatapan yang tetap kosong. Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tetapi kehadirannya yang dingin meninggalkan jejak yang mengganggu hati siapa pun yang melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Ingin Pulang
Teen FictionSejak kecil, Gita sudah terbiasa hidup dalam ketakutan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, berubah menjadi medan perang. Setiap malam, teriakan ayahnya yang mabuk menggema di dinding, mengiris hatinya seperti sembilu. Ibu yang dulu pen...
