Di ruang ICU, suasana begitu sunyi, hanya suara mesin medis yang terus memantau setiap detak jantung Gita. Tubuhnya terbaring tak berdaya di atas ranjang, terhubung dengan berbagai alat yang menjaga nyawanya. Wajahnya pucat, seolah tak ada kehidupan selain detak jantung yang terekam lemah di layar.
Aisyah duduk di samping ranjangnya, menggenggam tangan Gita erat-erat, air mata tak lagi bisa dia tahan. Hari-hari berlalu dalam ketakutan, tanpa tahu apakah sahabatnya akan bangun.
"Aku janji, Gi... kamu gak sendirian. Aku di sini," bisik Aisyah, suaranya parau oleh tangisan yang terus mengalir.
Namun, di dalam ketidaksadarannya, Gita tidak hanya terjebak dalam kegelapan. Dia berada di sebuah tempat yang berbeda, di antara dua dunia-antara hidup dan mati.
---
Gita membuka matanya perlahan. Di sekelilingnya, hamparan kabut tebal menghalangi pandangannya. Angin lembut menyapu wajahnya, tapi udara di sekitarnya terasa sunyi, sepi, dan asing. Dia bingung dan ketakutan, mencoba mengingat di mana dirinya sekarang.
"Di mana ini?" gumamnya dengan nada kebingungan.
Langkah-langkah kakinya pelan, menyusuri jalan setapak yang seolah tak berujung. Perasaan gelisah merayap dalam hatinya. Tiba-tiba, di tengah kabut, muncul sosok yang sangat ia kenal-sosok yang sudah lama ia rindukan.
"Ma... Mama?" bisik Gita, suaranya gemetar.
Sosok itu mendekat, mengenakan pakaian yang sama seperti yang selalu dikenang Gita. Wajahnya tenang, damai, penuh cinta. Senyum di wajahnya seperti pelukan yang telah lama hilang. "Iya, Nak. Ini Mama."
Gita terdiam sejenak, matanya tak bisa lepas dari sosok itu. Air matanya jatuh begitu saja. "Mama..." Ia berlari dan langsung memeluk wanita itu erat-erat. Kehangatan yang dirindukannya kembali. "Aku kangen banget sama Mama..."
Ibunya-mamanya-membalas pelukan itu dengan penuh kasih. "Mama juga kangen sama kamu, Sayang." Suaranya lembut, seperti angin yang menenangkan. "Tapi kenapa kamu ada di sini?"
Gita melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mamanya. "Aku gak tahu, Ma... Aku kecelakaan, dan tiba-tiba aku ada di sini."
Tatapan mamanya melembut, tapi ada kesedihan mendalam yang tersembunyi di balik senyumnya. "Ini bukan tempat untuk kamu, Nak. Kamu masih belum waktunya di sini."
Gita bingung. "Apa maksud Mama? Aku gak paham. Aku masih hidup?"
Sebelum Mamanya bisa menjawab, dari dalam kabut, muncul sosok lain. Tinggi, dengan rambut hitam yang berantakan. Tatapannya tenang dan hangat, seperti dulu-seperti yang selalu diingat Gita.
"Rama..." bisik Gita lagi, kali ini air matanya makin deras.
Rama mendekat dengan langkah perlahan, senyumnya masih sama-sama hangatnya, sama teduhnya. "Hai, Gita."
Gita terdiam, hatinya bergetar, seolah dia masih bermimpi. "Kenapa kamu di sini?" suaranya parau, "Kamu udah gak ada, tapi kenapa aku bisa lihat kamu?"
Rama tersenyum lembut, tatapannya penuh pengertian. "Ini tempat di mana kita yang sudah pergi bisa menyapa yang masih hidup. Kamu ada di batas, antara hidup dan mati."
Mendengar kata-kata itu, Gita merasa seluruh tubuhnya melemah. "Aku belum mati?"
Rama menggeleng pelan. "Belum, tapi kamu ada di sini karena kamu sedang di ambang batas. Kamu harus segera kembali."
"Enggak!" seru Gita sambil mundur, matanya memerah oleh air mata. "Aku gak mau balik, aku gak punya siapa-siapa lagi di sana! Aku lelah, Rama... Aku gak kuat lagi. Dunia terlalu berat."
Rama menatap Gita, lalu perlahan mendekatinya. Tanpa berkata apa-apa, dia menarik Gita ke dalam pelukannya. Gita terisak, tubuhnya bergetar di pelukan Rama. Pelukan yang selama ini dia rindukan, pelukan yang pernah membuatnya merasa aman.
"Ssst... Kamu gak sendirian, Gita," bisik Rama di telinganya. "Aku tahu ini berat, tapi kamu gak bisa menyerah. Hidupmu masih panjang. Kamu berhak bahagia, meskipun sekarang semuanya terasa sulit."
Gita memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam pelukan Rama. "Aku gak tahu apakah aku bisa, Rama... Aku gak tahu apakah aku kuat."
Di samping mereka, Mama Gita menatap keduanya dengan senyum penuh kasih. "Kamu kuat, Nak. Mama percaya kamu bisa. Mama akan selalu ada untukmu, walaupun kita gak bisa bersama seperti dulu."
Gita melepaskan diri dari pelukan Rama dan menatap Mamanya dengan mata penuh kesedihan. "Aku cuma pengen kalian ada di sampingku... Aku gak tahu harus bagaimana tanpa kalian."
Mamanya menatap lembut, senyumnya tak pernah pudar. "Kami selalu ada di dalam hatimu, Nak. Setiap langkah yang kamu ambil, kami akan selalu menyertaimu. Tapi sekarang, kamu harus kembali."
Rama menyentuh pipi Gita dengan lembut, membuatnya kembali merasakan kehangatan. "Kamu gak boleh berhenti, Gi. Masih banyak yang bisa kamu lakukan. Masih banyak orang yang bisa kamu temui, dan kebahagiaan yang bisa kamu ciptakan."
Gita terisak, hatinya berperang. "Tapi aku takut... Dunia terlalu keras, terlalu banyak orang yang membenci aku."
Rama tersenyum, tatapannya penuh keyakinan. "Kamu gak perlu takut. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira."
Kabut di sekitar mereka perlahan mulai menebal. Sosok Rama dan Mama Gita perlahan-lahan mulai menghilang, tersapu oleh kabut tebal. Gita mulai panik.
"Tunggu! Jangan pergi! Jangan tinggalin aku!" serunya, berusaha meraih mereka.
Mamanya tersenyum, suaranya terdengar lembut tapi tegas. "Mama gak pernah benar-benar pergi, Nak. Mama selalu di sini, dalam hatimu. Sekarang, kamu harus kembali."
Rama, yang mulai terselimuti kabut, memberikan senyum terakhirnya. "Ingat, Gita. Jangan menyerah. Kami akan selalu bersama kamu, meskipun kamu gak bisa melihat kami."
Perlahan, kabut menelan sosok mereka berdua. Gita berdiri di sana, air mata terus mengalir, tapi suara mereka semakin lama semakin jauh, hingga akhirnya hilang sepenuhnya. Gita terjatuh di tanah, menangis dalam keheningan yang mengelilinginya.
Sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul, menyilaukan sekelilingnya. Gita merasa tubuhnya ditarik kembali, semakin jauh dari tempat itu.
---
Di ruang ICU, Aisyah masih menggenggam tangan Gita, matanya tak pernah lepas dari sahabatnya yang masih terbaring tak sadar. Tapi kali ini, Gita tak bergerak. Monitor di sampingnya tetap menunjukkan kondisi yang kritis, belum ada tanda-tanda bahwa Gita akan bangun. Dokter dan perawat terus memantau kondisinya.
Aisyah memejamkan mata, berdoa dalam hati. "Gita... kamu harus kembali. Aku di sini, nunggu kamu bangun. Jangan tinggalkan aku..."
Gita masih dalam dunia antara, belum kembali, masih dalam perbatasan antara hidup dan kematian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Ingin Pulang
أدب المراهقينSejak kecil, Gita sudah terbiasa hidup dalam ketakutan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, berubah menjadi medan perang. Setiap malam, teriakan ayahnya yang mabuk menggema di dinding, mengiris hatinya seperti sembilu. Ibu yang dulu pen...
