Hari-hari setelah insiden dengan Sarah terasa begitu berat bagi Gita, namun ada satu hal yang mulai mengisi kekosongan di hatinya-Aisyah, Aisyah adalah teman baru gita ia adalah mahasiswa pindahan. Di tengah segala kesulitan, Aisyah tidak pernah meninggalkannya. Gadis itu selalu ada di samping Gita, mencoba membangkitkan semangatnya dan menunjukkan bahwa masih ada orang yang peduli.
Suatu sore yang cerah, Aisyah mendatangi rumah Gita dengan membawa sekotak pizza dan dua kaleng soda.
"Aku gak bawa cokelat kali ini, tapi aku rasa pizza bisa cukup menghibur," kata Aisyah dengan senyum ceria, mengangkat kotak pizza ke hadapan Gita.
Gita menatapnya, terkejut sekaligus tersenyum kecil. "Kamu bawa pizza? Tumben banget," sahutnya sambil melangkah mundur, memberi jalan bagi Aisyah untuk masuk.
Aisyah meletakkan kotak pizza di meja ruang tamu. "Tentu saja! Aku tahu kamu lagi stres. Kamu butuh asupan karbohidrat dan lemak yang bisa bikin otakmu sedikit tenang." Aisyah duduk santai, membuka kotak pizza dengan penuh antusias. "Dan... karena aku tahu kamu gak bakal masak apa-apa kalau lagi stres."
Gita tertawa kecil. "Kamu benar. Aku bahkan lupa makan hari ini."
Aisyah memotong sepotong pizza dan memberikannya ke Gita. "Nah, makanya aku datang. Aku gak bakal biarin kamu kelaparan gara-gara drama Sarah itu. Kamu kuat, Gi. Dan aku tahu kamu pasti bisa ngadepin dia."
Gita mengambil pizza itu dan menggigitnya perlahan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, dia merasa sedikit lebih ringan. Kehadiran Aisyah memang selalu bisa membuat suasana hatinya sedikit lebih baik.
"Kamu tahu, ai, kalau kamu gak ada, mungkin aku udah berhenti kuliah," kata Gita pelan, namun jujur. "Aku gak tahu lagi harus gimana menghadapi semuanya."
Aisyah menatap Gita dengan tatapan serius, tapi senyumnya tetap mengembang. "Gi, kamu gak boleh ngomong gitu. Aku tahu kamu kuat. Kamu gak perlu buktiin ke siapa-siapa selain diri kamu sendiri kalau kamu bisa. Sarah? Dia cuma orang iri yang gak tahu gimana caranya bahagia tanpa ngerendahin orang lain."
Gita tersenyum lemah. "Tapi... dia selalu bikin aku merasa gak pantas, ai. Dan kadang, aku mulai percaya kalau aku memang gak pantas ada di sini."
Aisyah mendesah panjang, lalu dengan cepat menegakkan tubuhnya dan menatap Gita dengan tatapan menantang. "Oke, dengerin aku baik-baik. Kamu itu pintar, kamu itu baik, dan kamu layak mendapatkan yang terbaik. Kalau ada yang bilang kamu gak pantas, itu karena mereka iri. Udah jelas."
Gita tersenyum tipis. "Iri? Sarah?"
Aisyah tertawa. "Ya, jelas! Dia mungkin iri karena kamu punya sesuatu yang dia gak punya."
"Apa itu?" Gita bertanya penasaran.
Aisyah berpura-pura berpikir sebentar, lalu tersenyum lebar. "Kamu punya aku, tentu saja!"
Gita tertawa keras kali ini, lebih dari yang ia bayangkan bisa ia lakukan setelah semua drama yang terjadi. "Ya ampun, ai! Kamu ini memang aneh!"
"Ya, tapi itu bagian dari pesona aku." Aisyah menyodorkan kaleng soda pada Gita. "Kita harus minum untuk merayakan. Apa? Entahlah, tapi kayaknya kita butuh selebrasi sesuatu. Mungkin selebrasi kamu berhasil melewati satu minggu penuh drama tanpa nendang Sarah."
Gita mengangkat kaleng sodanya dan menepuknya ringan ke kaleng Aisyah. "Untuk itu, dan untuk pizza gratis."
Mereka tertawa bersama, menghabiskan sore itu dengan mengobrol tentang hal-hal kecil, mengabaikan sementara semua masalah yang biasanya menguasai pikiran Gita. Percakapan ringan tentang film, acara TV, dan rencana kuliah membuat suasana rumah terasa lebih hangat.
---
Sambil makan pizza, Aisyah mulai bercerita tentang kejadian lucu di kelas mereka.
"Kamu ingat gak, kemarin waktu Pak Rahmat kasih tugas, si Fikri ngejawab soal dengan jawaban yang bener-bener ngaco?" tanya Aisyah, mencoba menahan tawa.
"Yang soal analisis teori ekonomi itu?" tanya Gita, mengerutkan kening mencoba mengingat.
"Iya! Jadi, dia nulis di jawabannya, 'Dunia ekonomi itu seperti dunia cinta, selalu berubah-ubah tergantung siapa yang kita temui.' Aku ketawa sampai sakit perut waktu baca itu!" Aisyah tak kuasa menahan tawanya lagi.
Gita tertawa sampai air matanya keluar. "Apa? Serius, Fikri nulis kayak gitu? Dia itu selalu ada aja idenya!"
"Makanya, Pak Rahmat cuma bisa geleng-geleng kepala. Tapi kamu tahu? Aku rasa itu jawaban paling jujur yang pernah ditulis di ujian. Ekonomi itu kayak cinta, emang gak pasti!"
Gita mengangguk setuju, sambil terus tertawa. "Iya, bener juga sih! Tapi kayaknya kalau aku tulis jawaban kayak gitu, nilai aku langsung anjlok."
Mereka terus tertawa dan berbicara tanpa henti. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gita merasa seolah-olah semua bebannya hilang. Dia tertawa lepas, merasa diterima, dan yang paling penting, merasa bahwa dia tidak sendirian. Meski dunia luar mungkin keras, setidaknya di sini, di ruang kecil ini bersama Aisyah, dia bisa menemukan kebahagiaan sederhana.
Akhirnya, saat malam semakin larut, Gita memandang Aisyah dan berkata dengan serius, "ai, makasih ya. Kamu selalu ada buat aku. Kalau kamu gak ada, mungkin aku udah nyerah sejak lama."
Aisyah tersenyum lembut dan merangkul Gita. "Gita, kamu gak perlu terima kasih ke aku. Kita sahabat, itu udah kewajiban aku buat selalu ada buat kamu. Dan kamu juga bakal selalu ada buat aku kan, kalau aku butuh?"
Gita mengangguk, tersenyum sambil menahan air mata haru. "Selalu."
Malam itu, Gita tidur dengan hati yang lebih ringan. Dia tahu, meskipun masih ada banyak masalah di depan, dia tidak akan menghadapi semuanya sendirian. Sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya saat dia memikirkan betapa beruntungnya dia memiliki sahabat seperti Aisyah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Ingin Pulang
Dla nastolatkówSejak kecil, Gita sudah terbiasa hidup dalam ketakutan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, berubah menjadi medan perang. Setiap malam, teriakan ayahnya yang mabuk menggema di dinding, mengiris hatinya seperti sembilu. Ibu yang dulu pen...
