"Numi? Apa yang kau lakukan di sini?"
Saat aku sedang mondar-mandir di Freddy pizzeria, aku bertemu dengan Henry, teman kerja William sekaligus pendiri restoran Freddy juga. Ekspresinya seakan-akan sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.
"Aku cuma-"
"AAAAAAAAAAAAGH!!!"
"?!"
"?!"
Aku dan Henry sama sama berputar saat mendengar suara teriakan tersebut. Teriakan yang sungguh menyayat telinga... Di mana aku pernah mendengarnya?
"Numi tetap di sini aja. Biar om yang cek" Henry segera berlari ke arah sumber suara tersebut, aku dengan cepat mengekor di belakangnya, was-was apa yang terjadi.
Sembari berjalan, suara teriakan masih terdengar jelas, ketakutan, kekhawatiran, seakan orang yang berteriak itu sedang berada di ujung tombak. Tapi secara bersamaan muncul juga tawa anak kecil? Di antara mereka ada yang tertawa terbahak-bahak, puas melihat orang itu berteriak, memohon. Ada juga yang terkikik kecil, mungkin beberapa anak perempuan.
Henry yang tiba duluan di depan, matanya terbelak, kakinya yang ingin melangkah memasuki ruangan tersebut terhenti lalu tangannya bergerak memutar anak kunci tersebut sebelum kemudian menariknya keluar.
Ia mengambil karton yang tersandar di dinding lalu memakunya pada pintu, menahan orang yang berada di dalam untuk keluar. Suara yang tadinya seperti teriakan parau perlahan berubah menjadi tawa membahana yang membuat ruangan bergetar, tawa kemenangan yang...
...hanya sementara.
Tanganku digenggam oleh Henry, sebelum ditarik, melangkah menjauhi ruangan tersebut. Aku menengok ke belakang, melihat ruangan itu untuk yang terakhir kalinya, suara tawa yang berubah menjadi teriakan parau kembali terdengar, kali ini terdengar sangat pilu, didukung suara besi yang beradu dan suara cipratan darah yang terdengar pelan. Tawa anak-anak itu makin terdengar keras, bersorak sorai menyambut penghuni neraka baru.
[Kita tahu apa yang terjadi di dalam]
Ya. Dia pantas mendapatkannya.
[Bagaimana caramu memberitahukan hal ini pada bocah itu?]
Untuk apa diberitahu? Toh bocah itu nanti akan sadar lalu nyari-nyari bapaknya.
"Kamu harus pergi"
"Eh? Kenapa? kita terbakar bersama aja, kedengarannya bagus" Aku menepis tangan ungu yang perlahan membusuk itu dari bahuku.
Kesalahan besar aku memberitahunya hari ini restoran ini akan dibakar habis oleh Henry, demi mengakhiri semuanya. Dan makhluk ungu di depanku ini menyuruhku untuk pergi? Meninggalkannya di sini seperti yang seharusnya. ia diam di tempatnya lalu menghela nafas, suaranya terdengar serak-serak basah, sangat animatronic.
"Terbakar bersama? Bukan ide yang bagus"
"Gak, ini ide bagus. Dan lagi, aku gak mau sendirian di luar sana" aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.
"Aku mau kamu tetap hidup"
"Gimana kalau aku enggak mau?!" aku sontak menaikkan nada suaraku lalu tercekat. Buat apa aku ke luar sana? Hidup tanpa Ibu, Lizzy dan Evan?
"Kenapa kita gak keluar bersama saja? Karena nanti pria brengshake itu pasti akan revive lagi! Lalu membuat kekacauan lagi! Kamu tahu motto sakralnya itu!!!" Jeritku.
I always comeback, motto sakral, sebuah janji yang diucapkan oleh pria yang selalu menepati janji. Kenapa developernya gak bikin pria ini sebagai seorang pembohong saja? Agar dia gak bisa revive kembali!

KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi ke dunia yang tidak aku inginkan AU FNAF by Numi_Cakep / HCheese
FanfictionApa yang terjadi kalau kamu tiba tiba pindah server ke game FNAF? Inilah yang dialami oleh Numi, perempuan biasa saja yang berumur 14 tahun, tiba-tiba dilempar ke game FNAF sama author-nya yang kurang kerjaan. "Astogeh, perasaan hidup gw baik-baik...