Clara dan Bilqis baru saja keluar dari kelas mereka, suasana hati Clara sedikit suram, seolah ada hal yang mengganggu pikirannya. Bilqis, sahabatnya, yang selalu peka terhadap suasana hati Clara, segera menatapnya dengan penuh perhatian.
“Udah, ah! Lo ga usah sedih, Clara. Mendingan kita ke kantin, perut gua udah minta diisi nih. Laper banget!” kata Bilqis sambil meletakkan tangannya di perutnya yang berbunyi.
Clara, yang sejak tadi diam, tersenyum tipis mendengar kata-kata sahabatnya. Ia tahu, Bilqis selalu punya cara untuk menghiburnya. Merasa sepakat, Clara pun mengangguk pelan, "Iya, bener juga. Aku belum sarapan tadi, jadi perutku juga udah laper banget. Yuk, kita ke kantin sekarang."
Tanpa berpikir dua kali, mereka berdua mulai melangkah cepat menuju kantin sekolah. Hari ini kantin tampak lebih ramai dari biasanya, mungkin karena sudah mendekati waktu istirahat. Sambil berjalan, Bilqis terus bercerita tentang hal-hal kocak yang ia alami sepanjang pagi, mencoba membuat Clara tertawa. Dan berhasil, sesekali Clara tertawa kecil mendengar cerita konyol Bilqis.
Sesampainya di kantin, suasana semakin riuh. Banyak siswa yang sudah duduk di meja-meja, sibuk dengan makanan mereka. Bilqis lalu berkata, “Clara, lo cari tempat duduk, ya? Gue mau pesen makanan dulu. Lo mau makan apa?”
Clara yang sudah tahu apa yang ingin ia pesan, segera menjawab, "Aku mau seblak level 5, yang pedes banget ya, Bil."
"Oke, siap! Tunggu sini, ya," jawab Bilqis dengan semangat, lalu melangkah menuju antrean di stan makanan favorit mereka.
Clara pun memutuskan untuk mencari tempat duduk. Matanya berkeliling, mencari-cari meja yang kosong. Namun, kantin benar-benar penuh sesak, tak satu pun meja yang terlihat kosong. Clara hampir menyerah, ketika ia melihat ada satu meja di pojok yang masih punya satu kursi kosong. Di meja itu duduk seorang gadis yang tampak pendiam dan sedikit terlihat cupu dengan rambut yang dikepang rapi. Gadis itu tampak asyik dengan buku di tangannya, seolah tidak terganggu oleh keramaian kantin.
Tanpa ragu, Clara pun mendekati meja itu dan menyapa, “Hai, aku sama temen aku boleh duduk di sini nggak? Temen aku lagi pesen makanan, nih.”
Gadis itu mendongak sekilas, lalu mengangguk pelan tanpa mengatakan apa-apa. Clara, merasa mendapat izin, segera duduk di kursi yang kosong. Sambil menunggu Bilqis, Clara merasa ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang duduk di depannya ini. Dia belum pernah melihatnya sebelumnya.
“Aku Clara. Kamu siapa? Kok aku nggak pernah lihat kamu sebelumnya? Kamu murid baru, ya?” tanya Clara dengan ramah, mencoba memulai percakapan.
Gadis itu akhirnya menutup bukunya dan menjawab dengan suara pelan, "Nama aku Liana. Iya, aku murid baru di sini, kelas 10 IPA 3."
“Oh, pantesan aku nggak pernah lihat kamu. Aku juga murid baru kok, udah mau dua atau tiga hari sekolah di sini. Salam kenal ya, Liana!” kata Clara sambil tersenyum hangat.
Liana tersenyum tipis dan sedikit tersipu. "Iya, salam kenal juga, Clara."
Clara pun mulai bercerita tentang pengalamannya selama dua hari terakhir di sekolah, tentang bagaimana ia bertemu dengan beberapa teman baru dan juga tentang kelasnya di 10 IPA 2. Liana mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum atau tertawa kecil mendengar candaan Clara. Meski awalnya terlihat pendiam, Liana ternyata cukup ramah dan mudah diajak berbicara.
Tidak lama setelah itu, Bilqis kembali dengan nampan yang berisi dua porsi makanan. “Nih, Clara, makanan lo. Seblak level 5, sesuai pesenan lo yang pedes banget!” kata Bilqis sambil meletakkan makanan di depan Clara.
Lalu, Bilqis menoleh ke arah Liana, sedikit bingung karena melihat ada orang lain duduk di meja mereka. “Eh, dia siapa, Clara?” tanya Bilqis sambil menunjuk ke arah Liana.
Clara segera memperkenalkan mereka, "Oh, ini Liana. Dia murid baru juga, kelas 10 IPA 3."
Bilqis mengangguk ramah dan mengulurkan tangan. “Oh, salam kenal ya, Liana. Gue Bilqis, kelas 10 IPA 2 .”
Liana menjabat tangan Bilqis dengan senyum malu-malu. “Salam kenal juga, Bilqis.”
Setelah beberapa menit obrolan ringan, Clara tiba-tiba muncul dengan ide. “Eh, Liana, gimana kalau kamu jadi sahabat aku sama Bilqis aja? Kita bertiga bisa bareng-bareng terus.”
Liana tampak terkejut mendengar tawaran itu. Matanya sedikit melebar, tetapi kemudian wajahnya berubah menjadi senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. "Beneran? Aku boleh?"
Clara dan Bilqis mengangguk serempak. "Iya dong, kenapa nggak?" kata Clara penuh semangat.
Liana pun mengangguk, setuju. “Oke, aku mau! Seneng banget bisa punya temen seperti kalian.”
Mulai saat itu, mereka bertiga terus bercanda dan tertawa bersama, menciptakan suasana hangat di tengah riuhnya kantin. Candaan Clara yang selalu bisa membuat suasana cair, ditambah dengan komentar kocak dari Bilqis, membuat Liana merasa diterima dengan baik di lingkaran baru mereka.
Waktu istirahat yang terasa singkat itu membuat mereka lupa akan pelajaran berikutnya. Namun, yang terpenting bagi Clara, Bilqis, dan Liana bukan hanya soal makanan atau istirahat, tetapi persahabatan yang mulai tumbuh di antara mereka. Liana, yang awalnya terlihat pendiam dan canggung, kini sudah merasa nyaman berada di sekitar Clara dan Bilqis. Mereka bertiga seolah menemukan kecocokan satu sama lain.
Saat bel berbunyi, menandakan waktu istirahat usai, Clara berkata, “Wah, bel udah bunyi. Ayo balik ke kelas.”
Bilqis mengangguk, sambil mengemasi sisa makanan di nampannya. “Iya, ayo. Eh, Liana, nanti istirahat besok kita ketemu lagi yuk. Kita ngobrol-ngobrol lagi.”
Liana tersenyum, merasa senang dengan ajakan itu. "Iya, pasti. Aku juga senang bisa ngobrol sama kalian."
Mereka bertiga pun bangkit dari tempat duduk, berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Sejak hari itu, Clara, Bilqis, dan Liana mulai sering menghabiskan waktu bersama, baik di kelas maupun di luar jam pelajaran. Persahabatan baru ini menjadi awal dari banyak kenangan yang akan mereka ciptakan bersama di SMA.
