.
.
.
.
Happy reading!
"Kebahagiaan yang tak terlupakan"
Tandai bila ada typo!
Sesampainya di halaman sekolah, Clara turun dari mobil dengan senyum lebar di wajahnya. Di sekitarnya, siswa-siswi lain sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing – ada yang bergosip, bermain basket, dan sebagian hanya berkumpul mengobrol. Clara lalu berjalan menuju parkiran, tempat Bilqis biasanya menunggunya setiap pagi. Namun, kali ini ada yang berbeda – Bilqis tidak sendirian. Di sampingnya, ada Bintang, teman yang belum lama ini mengungkapkan perasaannya pada Clara. Clara tersenyum sambil mendekati mereka.
"Eh, Bintang! Tumben di sini. Ada apa nih?" tanya Clara dengan nada bercanda.
Bintang tersenyum kecil, lalu berkata, "Gua cuma pengen nungguin lo aja, Ra."
Bilqis pun menimpali, "Iya, Ra! Katanya dia pengen nungguin lo, jadi gua temenin deh."
Clara tertawa kecil mendengar jawaban mereka. "Ya udah, ayo kita masuk kelas. Oh iya, aku punya kabar gembira buat kalian!" katanya dengan penuh antusias.
“Kabar gembira apa, Ra?” tanya Bilqis penasaran, sementara Bintang hanya mendengarkan sambil tersenyum.
Setelah sampai di kelas, Bintang berpamitan untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang bermain basket. Kini, Clara dan Bilqis tinggal berdua di kelas.
"Ayo dong, Ra! Katanya ada kabar gembira," ujar Bilqis tak sabar.
Clara tersenyum misterius. "Nanti aja, pas jam istirahat. Biar surprise!" jawabnya sambil tertawa.
"Oke deh, kalau lo-nya bilang begitu," kata Bilqis, walaupun rasa penasarannya semakin bertambah.
Mereka berdua pun mengikuti pelajaran seperti biasa. Clara tampak lebih bersemangat dari biasanya, dan sesekali melirik ke arah Bilqis, tak sabar menunggu waktu istirahat tiba. Hingga akhirnya, bel istirahat pun berbunyi. Mereka langsung menuju kantin untuk membeli makanan, tetapi kali ini mereka memilih untuk makan di taman yang lebih tenang agar bisa berbicara dengan nyaman.
Setelah duduk di bawah pohon rindang di taman, Bilqis segera memulai percakapan. "Ayo, Ra, sekarang waktunya! Kabar gembira apa yang mau lo kasih tau?"
Clara menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum lebar sebelum akhirnya berkata, “Aku jadi pindah ke Garut, Bilqis! Beneran, aku akan mulai hidup baru di sana!”
Mendengar itu, Bilqis terkejut sekaligus senang. "Hah? Beneran, Ra? Lo beneran mau pindah?" tanyanya memastikan.
"Iya, Bilqis! Aku akan pindah dua hari lagi," jawab Clara dengan antusias.
Tanpa disangka, Bilqis juga memiliki kabar yang tak kalah mengejutkan. "Ih, seriusan? Gua juga mau pindah ke Garut, loh! Dan kebetulan banget, ortu gua udah ngizinin gua buat pindah!" jawab Bilqis dengan wajah sumringah.
Clara hampir tak bisa menahan kegembiraannya. "Yeyyy! Aku seneng banget, Bilqis! Udah seneng mau pindah, sekarang kamu ikut lagi! Jadi dobel deh senangnya!"
"Oh iya, Bilqis. Ibu aku juga pengen banget ketemu dan kenalan sama kamu. Jadi, nanti sebelum kita berangkat ke Garut, kamu mampir ke rumahku dulu, ya?" pinta Clara dengan lembut.
"Hah, emang iya? Oke, nanti kita kenalan pas mau berangkat ke Garut aja, ya. Btw, dua hari lagi kita beneran bakal mulai hidup baru di sana! Gua gasabar banget buat pindah bareng lo."
Setelah itu, mereka berdua terus mengobrol panjang lebar tentang Garut, membayangkan keseruan yang akan mereka alami di sana. Sesekali tawa mereka terdengar di taman, mengisi waktu istirahat dengan penuh kebahagiaan. Hingga akhirnya, bel pulang berbunyi. Clara dan Bilqis berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing, tak lupa berpamitan dengan penuh antusias untuk bertemu lagi esok hari.
