BAB 23 (END)

17 4 7
                                        

.
.
.
.
.
"Semoga persahabatan kita berselang sampai nenek - nenek dan sampai maut memisahkan"

Happy reading

Clara merasa sangat bersyukur atas hari-hari yang ia lalui dengan penuh kebahagiaan dan ketenangan. Setiap momen dilalui dengan senyum, meski dalam hatinya ia tahu bahwa masa sulit masih menyisakan bekas yang harus ia terima dengan lapang dada. Kehidupan yang dijalaninya sekarang berbeda-lebih tenang dan lebih damai-dan itulah yang ia butuhkan setelah segala perubahan yang terjadi di keluarganya.

Kini, Clara bersiap untuk langkah besar berikutnya, yaitu pindah ke Garut. Keputusan untuk pindah ini sudah bulat. Clara, sahabatnya, Bilqis, dan ibunya akan memulai hidup baru di tempat yang jauh dari kota lama yang menyimpan banyak kenangan. Keputusan ini juga tak lepas dari kenyataan bahwa orang tua Clara telah resmi bercerai. Surat perceraian yang selama ini dinantikan telah keluar, dan kini Clara hanya tinggal bersama ibunya. Meski berat, Clara tahu bahwa ini adalah keputusan terbaik bagi keluarganya.

Bilqis yang selama ini setia mendampinginya pun ikut pindah bersama Clara. Kebetulan, ibunya Clara membeli rumah yang cukup besar di Garut, sehingga mereka dapat tinggal bersama. Dengan begitu, Clara akan tetap memiliki teman dekat yang selalu ada di sisinya, menemani di setiap suka dan duka. Pindah ke kota baru adalah sebuah petualangan yang sangat mereka nantikan. Mereka yakin, bersama-sama mereka dapat melewati segala rintangan.

Ketika semuanya sudah siap, ibu Clara memanggil dari ruang depan dengan nada ceria, "Anak-anak, sudah siap, kan?"

Clara dan Bilqis pun berteriak serentak dari dalam kamar, "Sudahhh!"

Ibu Clara tersenyum melihat antusiasme anak-anaknya. "Kalau begitu, let's go!" serunya dengan semangat.

Mereka bergegas menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Dengan penuh semangat, mereka memasukkan barang-barang ke dalam bagasi. Di dalam mobil, Clara dan Bilqis duduk berdampingan di kursi belakang, sementara ibu Clara mengemudi. Perjalanan panjang yang akan mereka tempuh terasa menyenangkan karena Clara dan Bilqis tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Mereka tertawa, bercanda, dan saling berbagi cerita tentang harapan-harapan mereka di tempat baru.

Di tengah perjalanan, Clara sempat terdiam dan berpikir tentang ayahnya. Ia masih belum sepenuhnya bisa menerima bahwa kedua orang tuanya telah berpisah. Namun, ia mencoba menguatkan diri dan meyakini bahwa ini adalah bagian dari rencana hidupnya yang harus ia jalani dengan tegar. Bilqis yang menyadari perubahan suasana hati Clara pun mencoba menghiburnya. Ia merangkul bahu sahabatnya itu dan berkata, "lo nggak sendiri, Clara. Gua selalu ada buat lo."

Clara tersenyum dan merasa sangat bersyukur memiliki sahabat yang begitu tulus dan pengertian. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan canda tawa, saling menguatkan dan mendukung satu sama lain. Hari mulai larut ketika mereka hampir sampai di Garut, dan suasana di dalam mobil masih penuh dengan kehangatan. Clara merasakan kehadiran Bilqis sebagai sahabat yang tak tergantikan, selalu ada di sisinya saat ia membutuhkan.

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di Garut. Malam itu, udara terasa sejuk dan menyegarkan, menambah semangat mereka yang masih tersisa meski lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Rumah baru yang dibeli ibu Clara terletak di daerah perbukitan yang asri, jauh dari keramaian kota. Lingkungan sekitar rumah pun sangat tenang, dengan pepohonan hijau yang rindang dan udara yang bersih.

Mereka langsung mengangkat barang-barang dan masuk ke dalam rumah. Clara dan Bilqis mengatur barang-barang mereka di kamar masing-masing, sambil sesekali tertawa dan saling membantu. Ibu Clara melihat mereka dengan penuh kasih sayang dan berkata, "Anak-anak, sana tidur, ya. Jangan begadang. Pasti kalian capek."

"Okeeee!" jawab Clara dan Bilqis bersamaan dengan nada manja.

Malam itu, Clara dan Bilqis tidur dengan perasaan tenang dan bahagia. Bagi Clara, ini adalah malam pertama di rumah baru yang terasa begitu nyaman, ditemani sahabat terbaiknya. Pagi pun tiba, menyambut mereka dengan sinar matahari yang lembut dan suasana yang sangat damai. Di luar jendela, kicauan burung terdengar merdu, memberikan nuansa pagi yang berbeda dari suasana di kota.

Clara dan Bilqis terbangun dengan semangat, menikmati suasana baru yang penuh kesegaran. Setelah mandi dan sarapan, ibu Clara pergi mengunjungi rumah nenek yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Sementara itu, Clara dan Bilqis memutuskan untuk menjelajahi lingkungan sekitar.

"Yuk, kita lihat-lihat sekitar," ajak Bilqis dengan penuh semangat.

Clara mengangguk. "Ayo! Sekalian kita foto-foto, biar ada kenangannya."

Mereka berjalan menuju bukit kecil di dekat rumah, tempat yang menawarkan pemandangan alam yang begitu memukau. Dari atas bukit, mereka bisa melihat hamparan hijau pepohonan yang luas, serta langit biru yang bersih tanpa awan. Suasana yang begitu menenangkan hati dan pikiran. Clara dan Bilqis mengeluarkan ponsel mereka dan mulai berfoto-foto, mengabadikan setiap momen bahagia mereka.

Di tengah pemandangan indah dan suara kicauan burung, Clara merasa terdorong untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sahabatnya. Ia menatap Bilqis dengan penuh haru dan berkata, "Makasih, ya, Qis. Udah mau jadi sahabat aku. Aku beruntung banget bisa kenal kamu. Aku nggak tahu gimana hidup aku kalau nggak ada kamu. Semoga persahabatan kita sampai tua, ya. Apa pun yang terjadi, aku harap kita tetap sahabatan."

Bilqis yang mendengar ungkapan tulus itu merasa terharu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluk Clara dengan erat. Dalam pelukan itu, Bilqis berkata pelan, "Gua juga bersyukur banget bisa kenal lo, Clara. Lo sahabat yang paling baik. Gua nggak akan ninggalin lo, janji."

Mereka berdua pun berpelukan di tengah suasana alam yang damai, diiringi suara burung yang berkicau merdu. Angin sepoi-sepoi berhembus, seakan-akan ikut menyaksikan janji persahabatan yang mereka buat. Mereka berjanji dalam hati untuk selalu menjaga persahabatan mereka, apa pun yang terjadi.

Setelah puas menikmati pemandangan dan mengabadikan momen indah itu, mereka berdua turun dari bukit dan kembali ke rumah. Hari itu menjadi momen yang tak terlupakan bagi Clara dan Bilqis, awal dari kehidupan baru yang penuh harapan dan semangat.

Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan saling menguatkan dan mendukung. Clara merasa hidupnya lebih berarti dengan kehadiran Bilqis di sampingnya. Mereka terus menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur atas persahabatan yang mereka miliki. Kini, di tempat baru yang indah dan tenang, mereka siap menghadapi setiap tantangan yang akan datang bersama-sama, berpegangan tangan dan saling mendukung.

Clara dan Bilqis telah menemukan arti persahabatan sejati, yang tidak tergantikan oleh apa pun.

(TAMAT)

tandai jika ada typo!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 16, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cahaya yang hilang (?)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang