Esok paginya, cahaya matahari yang lembut menyusup di antara dedaunan tinggi di tepi hutan, menerangi rumah sederhana tempat Itami dan timnya menginap.
Udara pagi yang segar membawa kedamaian sesaat setelah malam penuh ketegangan yang mereka lalui. Namun, ketenangan di luar tak sepenuhnya mencerminkan suasana hati mereka di dalam rumah.
Di dalam, Itami dan timnya—Kuribayashi, Kurokawa, dan Kurata serta angota lainnya—tengah bersiap-siap melanjutkan perjalanan.
Di sekitar meja kayu di ruang tengah, mereka mengemas ulang perbekalan yang tersisa.
Perbekalan mereka sudah semakin menipis, dan tidak ada tanda-tanda bantuan dari markas. Di sudut ruangan, seragam militer mereka yang telah bersih tersusun rapi, siap dikenakan kembali.
Meski rumah itu tenang, ada ketegangan yang terasa di antara mereka. Kemarin, mereka diserang oleh naga, setelah itu bertemu serigala raksasa yang berbicara, dan menemukan gadis elf yang terluka parah.
Tapi yang paling membingungkan adalah sosok bernama Raphael, seorang elf misterius yang memiliki kekuatan tak terduga. Dalam benak Itami, potongan-potongan kejadian ini seperti puzzle yang belum tersusun dengan jelas.
Kuribayashi, yang kemarin terluka dalam serangan naga, kini bergerak lebih bebas. Luka di lengannya telah sepenuhnya sembuh berkat penyembuhan Raphael.
Tidak ada bekas luka sedikit pun, seolah-olah luka itu tidak pernah ada. Meski bersyukur atas kesembuhan ini, rasa ketidakpastian masih menghantuinya.
Bagaimana bisa seseorang menyembuhkan luka separah itu begitu cepat? Kuribayashi diam-diam terus memikirkan hal ini sambil merapikan senjata di pangkuannya.
Di sisi lain, Kurokawa, dengan sikap tenangnya yang selalu, tampak lebih waspada. Matanya sering melirik ke arah gadis elf yang masih terbaring tak sadarkan diri di sudut ruangan.
Kurokawa telah menghabiskan malam merawat luka-luka gadis itu, tapi ia tahu bahwa luka fisik bukanlah satu-satunya masalah. Trauma akibat serangan naga bisa jauh lebih dalam, dan butuh waktu untuk menyembuhkan.
Itami duduk di meja, memeriksa peta kecil yang mereka miliki. "Kita harus kembali ke Desa Coda," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Alat komunikasi kita rusak, dan kendaraan juga. Itu satu-satunya tempat di mana kami menghubungi markas terakhir kali." Jadi jika kami menghilang,tempat yang akan dikunjungi tim penyelamat pertama kali pasti desa coda
Di tengah kesibukan itu, pintu terbuka perlahan, dan Raphael masuk dengan tenang. Sosoknya diterangi oleh cahaya matahari pagi, memberikan aura misterius namun damai.
Dengan senyum ramah, Raphael menghampiri Itami. "Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?" tanyanya.
Itami menatap Raphael sejenak. Setelah berinteraksi dengan sosok ini sejak kemarin, ia mulai menyadari bahwa Raphael tidak semengerikan seperti yang ia bayangkan pada awalnya. Meski ada sesuatu yang misterius, Raphael adalah orang yang ceria, selama tidak dibuat marah.
"Kami akan mencoba kembali ke Desa Coda," jawab Itami. "Peralatan kami rusak, jadi kami akan pergi ke tempat terakhir kali kami berkomunikasi dengan markas pusat. Jika kami tidak kembali dalam 24 jam, markas akan mengirim tim pencari."
Rimuru mengangguk, mendengarkan dengan tenang. "Aku bisa mengantar kalian sampai ke sana jika kalian mau," tawarnya.
Itami tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Terima kasih, Raphael-san, tapi kami tidak ingin merepotkanmu lagi. Kau sudah banyak membantu."
Rimuru hanya mengangguk, menerima jawaban itu dengan senyum tipis, meskipun dari sorot matanya, ia masih tampak penuh perhatian terhadap kondisi tim Itami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tensura x gate
FantasyBerlatar delapan puluh tahun setelah perang besar tenma negara Federasi Jura tempest, menjadi sebuah negara maju dengan berbagai ras tingal, tetapi Sebuah gerbang misterius tiba tiba muncul di sebuah hutan di federasi jura tempest, Ras rimuru disin...
