Markas Pangkalan jsdf bukit alnus
Letnan satu Yanagida berdiri di depan meja besar yang dipenuhi peta dan dokumen, menatap layar komunikasi yang mati dengan dahi berkerut. Di ruangan itu, atmosfer tegang terasa jelas, hanya diiringi suara klik-klik keyboard dari para operator di sisi ruangan yang mencoba menghubungi Tim Itami.
Yanagi, seorang pria dewasa dengan wajah tegas, rambut hitam lurus, dikenal sebagai pemimpin yang tenang dan rasional, meskipun terkadang kepribadiannya agak licik. Namun, ekspresi khawatir di wajahnya tak dapat disembunyikan. Sudah 24 jam berlalu sejak terakhir kali mereka menerima laporan dari Tim Itami, yang terakhir kali melaporkan posisi di sebuah desa bernama Desa Coda.
"Masih belum ada kabar?" tanyanya kepada seorang operator komunikasi.
"Belum, Letnan," jawab seorang perempuan muda dengan nada tegas. "Kami sudah mencoba semua saluran, tapi perangkat komunikasi mereka tidak merespons."
Yanagi menghela napas panjang. Desa Coda berada di pinggiran hutan lebat dan dekat dengan pegunungan . Lokasinya terpencil, dan laporan terakhir menyebutkan bahwa Tim Itami sedang mempelajari struktur sosial dan budaya penduduk desa. Namun, ketidakhadiran laporan lanjutan menimbulkan kekhawatiran.
"Itami aku harap kamu tidak mati" ucap yanagida sambil berjalan keluar ruangan.
---
Setelah mempertimbangkan situasi, Yanagi memutuskan untuk segera melaporkan insiden ini kepada Jenderal Hazama, komandan operasi eksplorasi dunia baru.
Di ruang komando utama, Jenderal Hazama sedang membaca dokumen dengan alis yang berkerut. Pria ini memiliki postur tegap dan aura yang menunjukkan pengalaman bertahun-tahun di medan perang. Ketika Yanagi masuk dengan langkah cepat, Hazama menatapnya dengan tajam.
"Ada perkembangan tentang Tim Itami?" tanya Hazama langsung, tanpa basa-basi.
"Belum, Pak," Yanagi melaporkan sambil memberikan hormat. "Kami kehilangan kontak dengan mereka selama lebih dari 24 jam. Lokasi terakhir mereka adalah Desa Coda. Semua upaya untuk menghubungi mereka sejauh ini gagal."
Hazama meletakkan dokumen di tangannya dan bersandar di kursinya. "Apakah ada indikasi gangguan dari pihak luar?"
"Sulit untuk mengatakan, Pak," Yanagi menjawab. "Namun, mengingat lokasi Desa Coda yang dekat dengan Hutan dan pegunungan , kemungkinan konflik dengan monster tidak dapat diabaikan. Saya menyarankan untuk segera membentuk tim pencari untuk memastikan situasi mereka."
Hazama mengangguk pelan, mempertimbangkan saran tersebut. "Berapa banyak personel yang menurutmu diperlukan untuk misi ini?"
"Saya merekomendasikan tim kecil, tidak lebih dari sepuluh orang," Yanagi menjelaskan.
Tim ini akan fokus pada penyelidikan dan pengamanan Tim Itami." saya menyarankan untuk membawa armada terbang.
Hazama berpikir sejenak, kemudian berdiri. "Baik. Bentuk tim pencari segera. Pilih prajurit terbaik untuk misi ini.
"Dimengerti, Pak," Yanagi menjawab sambil memberi hormat.
---
Kembali ke ruangannya, Yanagi segera memanggil Sersan Matsuda, seorang prajurit yang sudah berpengalaman dalam misi penyelamatan.
"Matsuda," ujar Yanagi tegas. "Kau akan memimpin tim pencari menuju Desa Coda. Prioritasmu adalah menemukan Tim Itami dan memastikan mereka dalam keadaan aman. Hindari kontak langsung dengan penduduk setempat kecuali diperlukan. Jika situasinya memburuk, segera laporkan."
Matsuda mengangguk tegas. "Saya mengerti, Letnan. Siapa yang akan saya bawa?"
"Pilih sembilan orang terbaikmu," Yanagi memutuskan. "Kita harus bergerak cepat, tapi tetap rendah hati. Dan bawa dua armada terbang untuk mempercepat perjalanan.
---
Setelah memberikan instruksi kepada Matsuda, Yanagi kembali ke ruang komando untuk mengamati perkembangan situasi. Ia menatap layar besar yang menunjukkan peta dunia baru, dengan titik merah yang menandai Desa Coda.
_________________
Hutan di sini terasa seperti sesuatu yang diambil langsung dari mimpi buruk.
Pepohonan tinggi dengan dahan-dahan yang menyerupai cakar melengkung ke langit.
Udara dingin menyelinap masuk, membuat punggungku merinding meskipun aku memakai seragam tempur lengkap.
Aku berjalan di belakang Itami, kapten tim kami, sambil memegang senapan erat-erat.
"kapten, masih jauh lagi?" tanya Kuribayashi, mengusap keringat di dahinya. Dia selalu penuh energi, tapi aku bisa melihat ketegangan di wajahnya.
"Kalau terus jalan seperti ini, kita sampai sebelum matahari terbenam," jawab Itami sambil menatap GPS nya yang tidak berfungsi. "Tapi tetap waspada. Dan berdoalah agar tidak muncul monster atau naga."
Kata-katanya belum selesai bergema ketika suara gemerisik dedaunan membuat kami semua berhenti.
Kurokawa, yang selalu tenang, menarik napas panjang.
"Kalian dengar itu?" bisiknya, tangannya sudah memegang senapan erat erat.
Sebelum ada yang menjawab, sesuatu melompat dari balik pepohonan.
Seekor orc besar, lebih dari dua meter tingginya, dengan kulit hijau kotor dan mata merah menyala. Di belakangnya, goblin-goblin kecil yang membawa senjata seadanya-tombak dan pedang berkarat-berlari sambil tertawa. Dari sisi lain, serigala besar dengan bulu hitam pekat muncul, giginya yang tajam berkilauan.
"Sial! Formasi defensif!" teriak Itami.
Aku segera mengambil posisi, senapanku mengarah ke orc. Peluru pertama kutembakkan ke bahunya. Makhluk itu menggeram marah tapi tidak jatuh.
"Kuribayashi, fokus ke serigala!" perintah Itami.
"Roger !" balas Kuribayashi, dengan semangat seperti biasa. Dia mulai menembaki serigala-serigala yang mencoba mengepung kami.
"Ini lebih baik daripada naga, kan?" ejek Kurata di belakangku sambil menembak goblin yang mendekat.
"Kurata, tutup mulutmu dan fokus!" balas Kurokawa tajam.
Aku menembak lagi, kali ini mengenai kepala orc. Makhluk itu akhirnya tumbang, tapi dua goblin segera menggantikannya.
Salah satu goblin melompat ke arahku dengan tombaknya, tapi aku menangkisnya dengan gagang senapan dan menembaknya dari dekat.
"Itami-san, mereka terlalu banyak! Apa rencana kita?" teriak Kuribayashi, sambil menebas serigala yang menyerangnya dengan bayonet.
"Kita mundur ke posisi lebih tinggi! Jangan biarkan mereka mengepung kita!" Itami memberi isyarat ke arah bukit kecil di dekat sana.
Kami mulai mundur perlahan, terus menembak untuk menjaga jarak dengan makhluk-makhluk itu. Kurokawa tetap di belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal.
Serigala terakhir melompat ke arahku, tapi aku berhasil menarik pelatuk tepat waktu. Kepala makhluk itu meledak, tubuhnya ambruk di depanku.
"Bagus, kita sudah sampai di posisi aman," kata Itami sambil menarik napas lega.
Dia menatap ke arah makhluk-makhluk itu, yang sekarang berkumpul di bawah bukit, menggeram marah mendekat.
"Kalian semua baik-baik saja?" tanya Kurokawa, matanya memeriksa setiap anggota tim.
"Yah, ini tidak ada apa apanya daripada naga merah itu," ulang Kurata sambil mengelap keringat di dahinya.
Kami semua tertawa kecil meskipun napas masih berat.
"Berikan saran kalian, saya butuh ide untuk melanjutkan cerita ini"
KAMU SEDANG MEMBACA
Tensura x gate
FantasyBerlatar delapan puluh tahun setelah perang besar tenma negara Federasi Jura tempest, menjadi sebuah negara maju dengan berbagai ras tingal, tetapi Sebuah gerbang misterius tiba tiba muncul di sebuah hutan di federasi jura tempest, Ras rimuru disin...
