Malam itu sunyi, hanya suara jangkrik yang memecah keheningan. Langit malam di luar tenda pasukan aliansi Kekaisaran Saderan dipenuhi bintang, seolah mengolok-olok para tentara yang tak punya pilihan selain berada di sana.
Di sisi luar perkemahan, dua tentara duduk bersandar pada tiang kayu yang menyangga salah satu tenda besar.
Penampilan mereka mencerminkan status rendah yang mereka miliki. Armor kulit yang mereka kenakan terlihat usang dan penuh tambalan, seperti diwarisi dari generasi sebelumnya.
Tombak sederhana tergeletak di samping mereka, dengan gagang kayu yang mulai retak. Sepatu mereka bukan sepatu perang, melainkan sepatu petani yang hanya diberi lapisan tambahan agar terlihat seperti perlengkapan militer.
Salah satu dari mereka, seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan wajah keras terbakar matahari, menghela napas panjang.
"Aku benar-benar tak habis pikir, Nial," katanya sambil menatap api unggun kecil yang hampir padam. "Apa salahku hingga terjebak dalam kekacauan ini?"
Nial, pria kurus dengan rambut yang tampak seperti belum pernah disentuh sisir, melirik temannya dengan cemberut.
"Kita petani, Garon. Salah kita hanya karena lahir tanpa gelar bangsawan." Dia menendang batu kecil dengan ujung sepatunya, lalu menyandarkan kepala ke tiang.
"Jika aku menolak perintah mereka, aku akan dituduh pengkhianat. Kau tahu apa yang terjadi pada si Harlen minggu lalu, bukan?"
Garon mengangguk, wajahnya memucat. "Harlen... Dia hanya menolak karena anaknya sakit. Dan lihat apa yang mereka lakukan."
"Digantung di tengah desa, agar semua orang tahu apa yang terjadi jika melawan," lanjut Nial dengan nada penuh getir. "Aku bahkan tak bisa melihatnya lebih dari lima detik. Bangsawan keparat itu... Mereka bahkan tak peduli kalau kita mati di sini."
Suara api yang berderak kecil membuat obrolan mereka sejenak terhenti. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, membayangkan keluarga yang mereka tinggalkan di desa.
"Dan sekarang," Nial melanjutkan, suaranya lebih pelan, "kita disuruh melawan musuh yang bahkan tak kita ketahui. Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan? Kenapa mereka memerangi kekaisaran? Tidak ada yang memberitahuku apa-apa."
Garon menggigit bibirnya, lalu menatap Nial dengan raut wajah putus asa. "Kau tahu yang lebih parah dari itu? Aku mendengar desas-desus di dapur perkemahan tadi pagi. Katanya, lawan kita bukan manusia biasa."
Nial menoleh cepat, matanya membelalak. "Apa maksudmu? Jangan bilang mereka bicara soal makhluk aneh atau semacamnya."
"Aku tak tahu pasti," jawab Garon dengan suara gemetar. "Tapi ada tentara yang kembali dari barisan depan.
Katanya, dia melihat sesuatu seperti monster yang mengunakan sihir. Atau seseorang yang memiliki tanduk"
Hening sejenak menyelimuti keduanya. Nial menelan ludah, mencoba menepis bayangan mengerikan yang muncul di pikirannya.
"Aku rasa mereka hanya berusaha menakut-nakuti kita," katanya akhirnya, meskipun nada suaranya terdengar kurang yakin. "Lagipula, kalau mereka benar-benar monster, bagaimana mungkin kita bisa bertahan? Dengan tombak ini?" Dia menepuk-nepuk gagang tombaknya yang hampir patah.
Garon tertawa kecil, meskipun terdengar pahit. "Kau benar. Senjata kita bahkan tak bisa menembus kulit babi hutan, apalagi monster ."
Obrolan mereka kembali terhenti, kali ini karena suara derap langkah berat mendekat. Seorang prajurit dengan baju zirah lengkap dan lambang bangsawan di dadanya muncul dari kegelapan, membawa obor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tensura x gate
FantasyBerlatar delapan puluh tahun setelah perang besar tenma negara Federasi Jura tempest, menjadi sebuah negara maju dengan berbagai ras tingal, tetapi Sebuah gerbang misterius tiba tiba muncul di sebuah hutan di federasi jura tempest, Ras rimuru disin...
