Hutan kowan, tempat tinggal kaum elf, pagi itu tampak damai.
Cahaya mentari menerobos dedaunan tebal, menciptakan pola-pola bayangan yang menari di tanah. Desa tersembunyi di antara pepohonan besar, rumah-rumah elf yang elegan terbuat dari kayu dan dedaunan, bertengger di atas pohon dengan jembatan tali yang menghubungkannya.
Tuka , seorang gadis elf muda, berjalan santai di jalur utama desa. Rambut pirangnya yang panjang tergerai, memantulkan sinar matahari yang lembut. Matanya yang hijau cemerlang memandang ke sekeliling, penuh dengan rasa ingin tahu. Di punggungnya tergantung busur sederhana—warisan dari ayahnya.
"Tuka!" panggilan riang dari seorang teman kecilnya terdengar. Tuka hanya tersenyum, melambai kepada mereka sebelum melanjutkan langkahnya menuju tepi desa.
Namun, ketenangan itu segera pecah ketika suara gemuruh berat terdengar dari kejauhan. Awalnya samar, lalu semakin keras, hingga getarannya terasa di tanah.
Tuka berhenti, keningnya berkerut. "Apa itu?" gumamnya, memiringkan kepala untuk mendengar lebih jelas.
Sebelum dia sempat berpikir lebih jauh, ayahnya, Hodor, muncul dari balik deretan rumah dengan napas tersengal. Wajahnya, yang biasanya tenang dan tegas, kini dipenuhi dengan ketakutan.
"Tuka! Cepat pergi dari sini!" serunya, suaranya penuh kepanikan.
Tuka tertegun. "Ada apa, Ayah?" tanyanya dengan cemas, tetapi Marco tidak menjawab. Sebaliknya, dia menarik tangan Tuka dengan keras, memaksanya menjauh dari jalur utama.
Namun, jawaban segera datang dalam bentuk bayangan besar yang melintas di atas mereka. Udara mendadak menjadi panas, dan suara kepakan sayap raksasa mengguncang pepohonan.
Seekor naga api muncul di atas desa. Sisiknya merah menyala, memantulkan sinar matahari seperti logam panas. Mata makhluk itu bersinar dengan kebencian yang membakar. Dengan satu embusan napas, naga itu melepaskan semburan api ke salah satu rumah pohon, menghancurkannya dalam sekejap.
"Tuka, cepat pergi! Lari ke hutan dan jangan lihat ke belakang!" Hodor memerintah, suaranya memecah hiruk-pikuk di desa.
Tapi Tuka tidak bergerak. Tangannya gemetar saat dia melepaskan busur dari punggungnya, menyiapkan sebuah anak panah.
"Aku tidak bisa lari! Aku harus membantu!" katanya dengan suara penuh tekad, meskipun matanya menunjukkan ketakutan.
Dia menarik tali busur dan melepaskan anak panahnya. Anak panah itu melesat dengan cepat, tetapi ketika menyentuh sisik naga, ia hanya memantul tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.
Naga itu menggeram marah, mengarahkan tubuh besarnya ke arah Tuka. Marco melangkah di depan putrinya, melindunginya dengan tombak perak di tangan. "Lari, Tuka!" teriaknya, mencoba mengalihkan perhatian naga itu.
Tuka mundur beberapa langkah, tetapi tatapannya tetap tertuju pada ayahnya yang berdiri tegap di hadapan ancaman besar itu. Sebelum dia bisa memutuskan apa yang harus dilakukan, naga tersebut mengayunkan ekornya dengan keras. Gelombang kejut dari serangan itu menghantam tanah dengan dahsyat, membuat Tuka terlempar ke belakang.
Tubuhnya menghantam tepi sebuah sumur tua yang ada di tengah desa. Dengan suara keras, dia jatuh ke dalamnya.
Air di dalam sumur dangkal, cukup untuk meredam sedikit benturan, tetapi kepala Tuka terbentur dinding sumur. Dunia di sekelilingnya mulai berputar, pandangannya kabur, dan perlahan segalanya menjadi gelap.
Di atas, suara naga yang mengaum dan teriakan penduduk desa masih menggema. Namun, bagi Tuka, semuanya perlahan memudar menjadi keheningan.
_____
KAMU SEDANG MEMBACA
Tensura x gate
FantasyBerlatar delapan puluh tahun setelah perang besar tenma negara Federasi Jura tempest, menjadi sebuah negara maju dengan berbagai ras tingal, tetapi Sebuah gerbang misterius tiba tiba muncul di sebuah hutan di federasi jura tempest, Ras rimuru disin...
