19.

467 45 5
                                        

.
.
.

"makasih, babu."

Ucap nya melihat kepergian Arlo, senyuman yang sedari tadi ia paksakan akhir nya menghilang. Wajah nya seketika berubah.

"Gua udah tau dari lama, kali." Kekeh nya.

...

Nalen terbangun dari mimpi buruknya, ia melihat ke arah jendela kamar yang langsung menuju kolam renang.

Disana, Arlo terlihat merenung sembari mencelupkan kaki kedalam kolam renang.

Nalen dapat melihat luka luka yang terlihat asing. Hari semakin gelap, ia tak dapat melihat luka luka itu dengan jelas.

"luka apa itu? kok banyak bener, apa mata gua katarak?" ucapnya sembari sesikit mengusap mata.

Keesokan har nya seperti biasa Nalen terbangun di karenakan Arlo yang membangunkan paksa Nalen.

Galen, Nalen dan Arlo baru saja duduk di meja makan. Mereka bertga tampak bersemangat saat makanan telah tiba.

Argantara dan istrinya datang sembari memberikan senyum dan tawa, Alana memberikan kabar baik. Mereka Galen Nalen dan juga termasuk Arlo akan di berikan adik perempuan.

Mereka bertiga bersorak dengan sennag dan rumah itu begitu ribut pada masanya. Nalen mungkin yang paling heboh, dia sampai mendatangi alana dan mengusap usap perut ibu nya.

"Dek, ayo dek keluar cepet cepet. Abang nanti ajarin kamu naik onta! Buru dek! Oiya, jangan di temenin nanti ya si Galen, dia bau ketek." Ucap Nalen sembari menyindir Galen.

Galen menaikkan unung bibirnya, ia mendorong Nalen hingga Nalen sedikit tehoyong.

"Dek, abang gamau ketek dek. Nalen tuh, celana dalem nya di bawah kasur. Lebih parah dia dek." Nalen mendengar perkataan sang Abang langsung berteriak.

"SEJAK KAPAN!"

Arlo menggeleng geleng melihat kelakuan dua abang tiri nya yang begitu memalukan. Arlo sebagai orang asing disini, selalu berusaha untuk menjaga jarak. Karena disini, ia tahu posisi mya dimana.

Alana menyuruh Arlo untuk menghampiri, dan mengelus juga perut Alana.

Dengan suara yang berat dan pelan, Arlo berkata; "Ade sayang, jangan sakitin bunda kamu ya? Terus bertahan hingga akhir, walaupun aku-" ucapanya nya terhenti karena Nalen menyelanya.

"ARLO, KECOA."

Setelah selesai dengan kericuha mereka, Nalen dan lainnya sampai di sekolah seperti biasanya.

Galen, memasuki ruangan aula dengan nuansa coklat dan putih dengan lantai yang berkayu. Ia berjalan menuju ke tempat teman temanya berada. Dengan tas yang ia tenggerkan pada bahu kiri, ia dengan wajah sumringah melemparkan tas itu ke Rey. Ia tampak begitu ceria hari ini.


Sesampainya di sekolah, mereka lanjut untuk memasuki kelas masing masing. Tetapi sebelum berpamitan, Nalen melihat Arlo menatap nya begitu aneh.

Tak terasa, jam istirahat telah tiba. Banyak nya Siswa dan siswi keluar dari kelas mereka masing masing.

Nalen terlihat merangkul bahu Arlo, mereka berdua tampak sedang bercanda sembari berjalan menuju rooftoop sekolah yang biasa mereka kunjungi.

"Arlo! Besok gua mau ngajak lo ke tempat yang biasa gua kunjungin sama bang Shaka, ikut ya?" Nalen berucap begitu semangat. "Oiya cok gua lupa lagi, sebentar. Gua mau turun bentar. Tunggu disini, jangan tinggalin gua. ok?"

Bersamaan dengan ia melemparkan tas itu, Galen mendengar suara Siswi yang berteriak begitu kencang. Diikuti suara suara yang aneh. Ia bergegas keluar dari sana dan mendapati seseorang dengan tubuh yang berlumuran darah.

Jantung nya berdegup dengan kencang, Ia melihat sesosok Nalen disana dengan wajah yang terkejut. Semua yang berada di bawah, melihat kearah Nalen dengan tatapan yang tajam.

Nalen terkesiap, Tungkai nya berhenti melangkah. Ia melihat sekeliling dengan penuh di selimuti kabut putih yang menganggu mata. Sejenak, ia mendengar suara yang berteriak memanggil nama nya dari kejauhan sana.

Nalen melihat sekeliling nya, memutar tubuh nya berulang kali menghindari suara suara tersebut.

"Naon si? Gua dimana ini? Udah mati kah?" Ucapnya dengan sarkas. Menelisirkan rasa takutnya.

Suara suara itu berhenti memanggil nama nya, Nalen dapat melihat cahaya kuning yang menghampiri nya sembari raungan suara gemeruh yang begitu memekakkan telinga.

Nalen segera menutup telinga menggunakan kedua telapak tangannya. Suara itu semakin dekat, Ia melihat cahaya kuning itu semakin mendekati nya-

...

Nalen terbangun dari tidurnya yang begitu lama, ia sudah berkelana selama 10 hari. Di ruangan sempit dengan nuansa putih.

Jantung nya tiba tiba saja berdetak begitu kencang, Ia melihat dengan jelas sesosok orang yang ia paling sayangi telah meninggalkannya di depan matanya.

Nalen dapat mendengar suara EKG. Kemudian suara derap kaki yang mendatangi nya.

Ingatannya kembali kemasa lalu, saat hari hari nya begitu runyam dan rusak. Ia mengutuk dirinya, saat ingatan itu terus kembali.

Senyumannya begitu mematikan, ia terus membayangkan itu dan itu. Dia yang bermain dan berenang di kolam rumahnya. Selalu terlintas pertanyaan pertanyaan aneh.

Kenapa bunuh diri, ar?

Dadanya terasa begitu sesak, ia tak bisa bernapas. Dan memberontak, matanya begitu berat. Kulitnya sangat pucat.

...

Hari kedua.

Nalen terbangun kembali. Ia berdiri dengan kerumuman orang melingkari dirinya. Pandangan nya buram, tetapi ia memaksakan untuk terus beridir tegak.

Nalen tidak dapat mendengar perktaan dan pertanyaan mereka dengan jelas. Yang pasti, mereka terus menatap Nalen dengan intens.

Nalen kebingungan, ia terakhir kali bersama Arlo, tapi sekarang mengapa ia berada disini?

Lamunan nya buyar kala mendengar suara teriakan dan tubuh seseorang yang jatuh, Alana.

Nalen dengan samar memanggil nama ibu nya, tetapi pusing melanda begitu cepat. Matanya kembali buram.

Arlo, lo nyusahin.

...

Hari Keempat.

Nalen kembali di adilin, tubuh nya kian membaik. Nalen menceritakan kronologi yang menimpanya.

Setelah kejadian Alana jatuh, ternyata kandungan nya bermasalah. Dan akhirnya, Alana harus kehilangan seorang putri yang sudah ia anggung anggungkan.

Napas nya bergemuruh, ia tidak dapat tenang sekarang. "mengapa saya yang kalian adili? saya salah apa? mengapa kalian nuduh saya?" ucapnya.

Seseorang dengan seragam sekolah datang sembari menyeret seorang pria dengan tubuh besar dan kulit putih nya.

Galen. Galen dengan matanya yang begitu hitam, menatap ke arah Nalendra.

Seseorang dengan baju seragam itu memberikan pengakuan bahwasanya Galen melihat Nalen yang mendorong Arlo.

Gua harap, gua yang mati. Arlo.

Lian & Leon. || sunoo, jungwon. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang