21.

150 17 1
                                        


Sudah tiga hari telah berlalu, jiwa nya yang jatuh tenggelam jauh kedalam lautan telah kembali seperti sedia kala. Raut wajahnya kembali menunjukkan kehidupan, tawa dan kehangatan yang kembali ia berikan.

Setelah Nalen kembali dengan tubuhnya yang sehat dan siap untuk beraktivitas banyak. Hal-hal yang dirindukan kembali dirasakan. Nalen dinyatakan memiliki penyakit yang Leon tidak ketahui bentuk nya seperti apa.

Bukan karena ingatan yang jelek sehingga Leon melupakan nya dengan mudah, melainkan ia tidak di beritahu dengan benar oleh keluarga nya Nalen. Pun, dia hanya orang asing yang hanya berperan sebagai teman dekat Nalen.

Jujur saja, Leon sangat ingin mengetahui kebenaran tentang penyakit yang diderita teman dekatnya sekarang. Sedih yang ia alami tidak berlangsung lama, karena Nalen telah terbangun dari tidurnya. Rasa yang ia rasakan telah menghilang, digantikan dengan semangat nya kembali.

Sayup matanya, membaringkan tubuh keringnya pada lantai dikamarnya. Malam terasa panas, tubuh itu memerlukan sesuatu yang dingin dan menyegarkan. Leon menelan udara.

"Tebak gua bentar lagi: DOR-!" Ucapnya setelah mendengar derapan kaki yang sedang berjalan menuju ke atas bersahutan di bawah, membuat telinga nya bergetar.

Dengan tubuh yang ia balik menjadi telungkup, perut yang menghadap pada lantai, Sembari menggerakan kaki nya turun dan naik, kemudian tangan yang ia jadikan sebagai tumpuan pada pipinya.

Wajah yang memelas kini sedang bersiap menyambut kedatangan seseorang dengan memberikan kesan lucunya.

Seseorang dengan membawakannya sebuah kaleng minum rasa jeruk segar terkejut kala menemukan Leon berada tepat pada didepan pintu rumahnya.

Mata Leon begitu besar dan berbinar, ia sangat menantikan seseorang sedari tadi untuk mengajaknya main dan meneraktirkannya.

Sudah dua hari ia tidak mendapatkan makanan yang menyenangkan karena mengurung diri dan tidak ada satupun yang mencari nya.

Selama itu, ia memilih untuk berdiam dan tidak berinteraksi bersama siapapun, dikarenakan merasa tidak enak dan tidak nyaman terus menerus bergantung dengan mereka.

Alhasil selama dua hari ini, ia hanya memakan makanan yang bisa ia beli diminimarket dengan uang yang di berikan Abah saat membatu diresto.

Mata yang mengedip beberapa kali itu menunggu sesuatu yang nikmat. Mata nya kembali berbinar saat benda yang sedang ia cari berada santai didalam plastik berwarna putih yang sedang di pegang pria dengan badan kekarnya itu.

Salah satu alis nya bergerak ke atas. Melihat seseorang dengan wajah yang jarang ia lihat. "Eh abang rentenir kah? Waduh baik banget bang bawain ituan." Ucap Leon yang spontan.

Itu Rey. Dengan beberapa orang lainnya. Mereka memiliki tubuh yang tinggi dan ideal, dengan berbagai makanan yang mereka bawa.

Rey menyahutinya, "Iya ini abang rentenir ijin masuk boleh kaga?" Ucapnya asal bunyi. Leon merengut, kemudian mengangguk sembari mengambil paksa yang di pegang Rey.

Setelah kejadian dimana Nalen menjatuhkan diri tidak sadarkan diri, Dia dan teman teman Bintang menjadi sangat akrab seperti saling mengenal sejak lama.

Rey segera duduk disamping Leon yang sedang asyik bergerak lincah mengambil sesuatu yang di bawakan pada dia. "Bah kalian memang teman terbaik." Ucapnya berjoget dan membuka kaleng minum dengan agresif.

"Ar-" Rey menggelengkan kepala nya kemudian kembali melanjutkan kalimatnya dengan berbelit. "Leon, lo ga panas disini?" Ucapnya kemudian.

Leon mengangguk brutal, "panas disini. Tapi kalau gua keluar gua ketemu Zah- Eh iya bang bintang." Ucapnya nyengir dilanjutkan dengan "Maksudnya ntar gua kedinginan gia sakit terus gua sekarat siapa yang peduli?" ucapnya mengambil satu tegukan pada air miliknya yang terlihat segar.

"Banyak yang peduli, Zahra contohnya." Ucapnya tengil dengan kedua anggukan alis yang ia berikan pada bintang. Kemudian kembali menegukkan sekali lagi minumannya.

"Nalen mana?"

Galen menggelangkan kepalanha secara perlahan menunjukkan wajahnya yang tidak bisa diartikan dengan jelas. "Nalen gaboleh keluar malem ini sama Ayah." Sembari meneguk kaleng minumannya.

Leon berdecak, "sudah 10 hari, kenapa juga tetep gaboleh." Ucapnya bertanya dengan nada ketus dan tidak sopan. Rey yang melihat tingkah laku Leon dengan cepat menyambar dan menutup mulut Leon dengan cepat.

"Diem ya Leon. Besok lo ketemu sama dia, seneng kan?" Katanya dengan nada yang menunjukkan ekspresi sayang.

"akhirnya balik sekolah juga ntu anak!" Jawab Leon dengan seru, Rey dengan cepat mengasak lembut rambutnya Leon. "Jelek amat potongan rambut lu len."

"kurang ajar."

...

haii, aku up lagii. vote jangan lupa, kalo ada alur yang ga nyambung tolong bilang yaa. aku lupa sama alur yang sebelumnya hehe. tank uu guyss.

Lian & Leon. || sunoo, jungwon. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang