Tawa menggelegar layaknya pesta kelahiran seseorang pada malam hari yang meriah, dengan ribuan penonton diatas langit yang bercahaya terang, bintang bintang yang bersinar tak mau kalah sinarnya. suasana yang ramai, membuat telingamu meledak karena tawa dan canda yang saling menyenggol, hari berat yang ia lewati berangsur menghilang ditelan bumi.
Kini semangatnya berada di pucuk kepala mungilnya. Hati nya hangat senantiasa menunggu hari berikutnya yang menyenangkan.
Nalen melangkah dengan hati hati. Jalannya mengedap-endap seperti sedang melalukan aksi kejahatan, seperti menjadi sosok maling yang mau mencuri sesuatu dirumah kaya yang mewah. Ia takut mengeluarkan suara hingga membuat orang didalam sana menyedari kehadirannya. Ia terlonjak cepat tatkala menemukan punggung seorang perempuan dengan rambut halus yang ia ikat kuda dengan rapi.
Ia menepuk sebelah bahu perempuan tersebut, tak sangka, wajah Zara yang tekejut akan kehadiran seseorang di baliknya, ia menoleh kearah Nalen dengan cepat, kemudian melebarkan matanya terkejut menemukan Nalen yang tersenyum sampai matanya yang menyipit tampak seperti bulan sabit.
Zara hampir berteriak seperti melih kuntilanak namun, Nalen dengan sigap menutup mulut Zara menggunakan telapak tangannya, sembari memberikan jari telunjuk yang dia taruh didepan mulutnya, Mengisyaratkan untuknya tidak bersuara.
Zara memiringkan kepalanya seperti bertanya, Nalen menggelengkan kepalanya kemudian menarik zara turun dari sana.
Leon sigap berdiri dari duduknya, kemudian memungut sampah yang berserakan dilantai kontrakannya yang kumuh karena kehadiran pria pria tak tahu malu. Leon terkekeh sambil menggelengkan kepala nya tak kuasa melihat perlikau mausia yang lebih tua darinya begitu absurd. kemudian berjalan keluar berniat untuk membuang sampah. Sesaat, ia melihat sepasang kekasih sedang berada dibawah gedung rumahnya.
Tak ingin menganggu, ia bersebunyi dibalik dinding dengan design bata unik bertekstur berwarna merah. Dahi yang mengerut begitu mendengar suara yang masuk ditelinganya terdengar akrab. Raut wajahnya pun berangsur berubah menjadi suram.
Ia berbalik badan dan memilih untuk kembali menaikki tangga pada langkahnya yang lemah, yang memutuskan untuk berhenti ditengah anak tangga, wajah perlahan memerah. Ia menggaruk tengkuknya dan berucap, "Zara senang sekali.." ucapnya berbisik.
Ia menaruh plastik berisikan sampah sampah itu disamping rumahnya, berfikir untuk membuangnya pada keesokan harinya. Ia berjalan sedikit dan mengintip dua orang itu. Alisnya sedikit terangkat, ia melihat mereka berciuman.
Dengan cepat, tangannya meraih wajahnya. Menutup mulut tak menyangka. Dengan gerakannya yang gesit dan cepat. Leon segera menjatuhkan dirinya kelantai, bersembunyi dari mereka yang sedang asik berdua.
Nalen meraih tangannya, membawa zara untuk turun. Berniat mengajak nya untuk membuat suatu rencana yang meriah. Ia akan memanfaatkan Zara sebaik mungkin agar teman nya yang sangat berarti itu bahagia selama satu pekan.
Zara memiringkan pala nya kekanan lalu bertanya sambil berbisik, "kenapa?" ucapnya dengan raut wajah nya yang bingung. Nalen terdiam sejenak, wajah nya dan Zara sangat dekat.
Nalen berbisik pada telinga Zara, "wajah mu seperti badut." Ucapnya pada nada yang rendah, dilanjut dengan rencana yang ia suda pikirkan dua bulan lalu. Zara yang terkena terpaaan angin ditelinga nya pula ia mendengar suara Nalen yang begitu berat membuatnya merinding "MESUM!" Teriaknya reflek.
Nalen buru-buru menjauhkan wajah nya, sambil tertawa keras. "Kenapa mesum?" ia menunjukkan senyum jahilnya, "santai, kaga ada orang cabul disini." jawabnya kembali dengan nada mengejek.
"Kenapa ga masuk langsung?" Ucap Leon dari atas bergema, cepat kemudian Nalen dan Zara mengalihkan pikirannya ke atas atap, menemukan raganya yang telah lama ia nantikan dalam pelukan, Nalen merindukannya.
"adikku... "
KAMU SEDANG MEMBACA
Lian & Leon. || sunoo, jungwon.
Random6.935 hari, 19 tahun mereka telah hidup tanpa mengetahui hubungan darah antara satu sama lain. Kenyataan yang pahit telah memisahkan mereka sebelum mereka bisa menyadari lika-liku kehidupan yang sebenernya. Namun takdir pun akhirnya menyatukan mer...
