.
.
.
Keringatnya yang bercucuran membasahi bantal yang tengah ia tindih. Cahaya yang masuk menganggu penglihatan nya.
Garis wajah yang di milikinya begitu tajam dan tampan, Ia membuka mata menunjukan keindahan warna mata miliknya.
Mata berbinar nya si tampan, tak sengaja bertemu dengan seseorang yang menunjukkan wajah terkejut di imbangi raut wajahnya yang menunjukkan kesenangannya.
"Arlo?" Ucap nya samar, hampir tak terdengar. Seseorang yang ia kenal sangat dekat berada di depannya sekarang. ia memanggil seseorang yang memiliki rupa seperti Arlo berlari keluar dari ruangan pengap asing yang mencekik pria malang itu sekarang.
Penglihatan dia mulai gelap kembali secara perlahan, kemudian di gantikan dengan cahaya yang tiba-tiba saja menusuk mata nya kembali.
Saat mata itu terbuka, ia melihat Arlo sekali lagi, sama dengan senyuman nya yang tak terlupakan.
Wajah nya merengut kesal. Bagaiman mimpi nya berulang sekali lagi, Sekarang dia harus bagaimana? pikir nya kacau.
...
Sudah Dua hari yang lalu, saat Nalen di temukan tidak sadarkan diri. Saat itu bagaikan sebuah pantai yang mengering, suasana begitu menyedihkan.
Banyak orang dengan raut wajahnya yang sulit di mengerti berada terus di samping Nalen selama dia terbaring dirumah sakit.
Leon pun bagaikan ikan kering yang tidak mendapatkan airnya. Ia sudah dua hari tidak masuk sekolah. Bukan karena apa, dia cuma mau menghindari kelas tanpa keberadaan Nalen.
Jadi, selama Nalen berada dirumah sakit, Leon terus berada di sana sembari melakukan atraksi nya. Apapun itu dia lakukan agar menghilangkan kebosanan nya yang terus melanda.
Saat Leon melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 2.30 WIB. Ia segera beranjak dari bed sofa nya, duduk cantik di sebelah Nalen sembari membaca kan sebuah dongeng.
"Nalen, ini hari kedua lo ga bangun bangun. jadi, gua memutuskan untuk membacakan sebuah dongeng dengan judul 'si tampan tidak bangun bangun.' begitu niatnya." Ucapnya dengan tangan kiri memegang dada dan tangan kanannya memegang jidat lebarnya.
Dengan raut wajahnya yang ia lebih lebihkan, "Oh Nalen ku-" Ucapnya sembari terkikik. Sesaat saja sehabis ia cekikikan, "Nalen, kamu makan apel beracun ya?!" Ucapnya dengan nada menuduh.
Helaan nafas nya terdengar, wajah nya kembali sayu dan senyumnya yang jatuh. "Gua kaya orang tolol sekarang ngomong sendiri jawab sendiri."
Lanjutnya, "Ya emang gua tolol sih, lagian elu. Panic Attack kambuh, terus sakit apa lagi itu lupa gue, ngape kaga bilang sih. Kan gua bisa langsung menyelamatkan lu. Mana sekarang tidurnya lama banget."
Seperti Leon biasa tak akan menjadi pendiem apapun itu situasinya, "Nalen-" ucapnya terpotong sesaat mengetuk ngetuk pipinya Nalen.
Saat telah tiba, mata nya melebar, ketika melihat seseorang yang sedang terbaring lemas perlahan membuka mata nya. "EY NALEN! APA KABAR."
Wajahnya Nalen merengut tak terkendali. Leon kesal karena ia dihiraukan, tangan nya terulur dengan cepat menyentil dahi Nalen.
"Gua tau gua ganteng len."
"apa kabar?"
"Lo mimpi apa selama ini? Cerita dong."
Nalen melihat sekeliling nya kembali normal. Ruangan dengan nuansa putih dan lampu serta udara yang dingin kembali menyadari nya. Kini dia kembali hidup sebagai Nalen kembali.
"Tolol." Ucapannya pertama setelah kembali kesadarannya. Wajah Leon kembali tak terima, "Kurang ajar lu!"
...
haloo, aku kembali. aku lupa banget sama alurnya plis. tapi pokonya tahun ini aku mau up yang banyak (kalo mood si hehe) semoga masih ada yang suka yaaa. kalo bingung alurnya, coba tanya dehh.
see uu guyss. jangan lupa vote nya yaaa. aku kasih dikit dulu mau lihat ombak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lian & Leon. || sunoo, jungwon.
Rastgele6.935 hari, 19 tahun mereka telah hidup tanpa mengetahui hubungan darah antara satu sama lain. Kenyataan yang pahit telah memisahkan mereka sebelum mereka bisa menyadari lika-liku kehidupan yang sebenernya. Namun takdir pun akhirnya menyatukan mer...
