016.Musibah

85 16 5
                                        

"Aku tidak tau apa yang sedang ada dipikirannya? Terkadang perilakunya begitu mengejutkan"

~LYV~

"Teh,teteh punya utang sama siapa?"dari balik spion Dita membalas tatapan Harsya.Adiknya itu tampak penasaran sekali sedang Dita membuka mulut saja rasanya malas sekali untuk saat ini.

"Teh,jawab dong ih Harsya nanya malah Didiemin,oh ya terus kok bisa teteh ada di rumah si Nathan?"

Tak kunjung mendapatkan jawaban membuat Harsya semakin ingin tahu banyak,bagaimana dan kenapa bisa kakak perempuannya itu berada di rumah Nathan.

Kalau sudah begini,Harsya lebih memilih mengalah meskipun dia ingin sekali mendapat jawaban atas keingintahuannya.Diamnya Dita menjadi pertanda bahwa kakak perempuannya itu sedang tidak baik-baik saja.

Harsya kembali melihat kearah spion.
Kaos kebesaran berwarna putih yang melekat ditubuh mungil kakaknya itu Harsya tebak milik Jayres.Karena kalau milik Nathan sangatlah tidak mungkin karena postur tubuhnya hampir sama dengannya.Dita juga sering sekali meminjam kaos miliknya tanpa ijin jadi Harsya sangat paham betul.

"Teh_"

Harsya langsung menggeleng tak jadi melanjutkan kalimat yang hampir keluar dari mulutnya.Pelototan mata Dita dari pantulan spion sudah membuat nyali nya menciut.

Dengan langkah kurang bertenaga Dita mendudukan bokongnya dikursi ruang tamu.10 menit telah berlalu semenjak Harsya berpamitan untuk berangkat ke sekolah.Dita yakini adiknya itu mengebut saat membawa motornya dikarenakan waktu sudah menunjukan pukul 7 lewat.

Jujur saja dita lelah sekali,padahal dia tak melakukan apa-apa.Pandangan matanya kini menuju kearah dapur,satu tangannya mengelus perut.Apakah ia harus masak sekarang? Dikarenakan perutnya juga sudah terasa lapar.

"Aish rasanya malas sekali mau masak,tapi kalau nggak masak masih laper..aish! Semua gara Jayres,aku belum selesai makan malahan disuruh buru-buru!.

Sedangkan Jayres,agenda paginya seperti biasa adalah berangkat ke kantor.Tumpukan dokumen dan berkas-berkas penting sudah menanti diatas meja tetapi kali ini Jayres tampak tak selera untuk menyentuhnya.

Kesibukannya pagi ini hanya melamun dengan pandangan lurus,entah apa yang ada dipikirannya.Jemarinya mengetuk-ketuk permukaan meja.Kemudian sorot matanya beralih pada ponsel dimeja,bukan ponsel miliknya melainkan kepunyaan Dita.

Ponsel keluaran lama yang memiliki cassing bunga matahari itu Jayres tatap lamat-lamat.Beberapa kali membolak-balikkan ponsel tersebut.

"Ceroboh sekali!

"Dasar ceroboh,apa perlu hp butut ini dikembalikan?"Jayres bergumam sembari mengulik-ulik ponsel yang menurutnya sudah bukan lagi tren masa sekarang.

Tapi bagi si pemilik,ponsel miliknya sangatlah berharga karena dibeli dari hasil pertama jualan bunga.

Jayres menyingkirkan ponsel yang menurutnya kuno itu kedalam laci.Sama sekali tak tertarik dengan isi didalamnya.

Hembusan napas terdengar,Jayres tak yakin apakah ia kini sedang memikirkan Dita.Entah,tapi nama perempuan itu sedang menguasai isi kepalanya.

"Sialan!"spontan kakinya menendang meja didepannya."apa yang ada diotak gue sampai mikirin perempuan itu?"gumamnya mencoba menghilangkan pikiran tak diinginkan nya itu.

"Sialan sialan! gue hampir aja ngelakuin kesalahan besar."

Jayres ingat betul kejadian malam tadi,dimana dia hampir saja melakukan kesalahan fatal.

Love Your VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang