Bab 14. Terbongkar

75 13 0
                                        

بسم الله الرحمن الرحيم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ (ﷺ)

Setelah selesai dengan hukuman membersihkan toilet kini Ana dan yang lain segera kembali ke asrama karena merasa sangat lelah telah membersihkan toilet yang ada di pesantren ini.

"Huhh cape banget gue gila." Ucap Ayya sambil mengipaskan tangannya di depan muka.

"Iya Ay cape bangett." Jawab Fira sambil menyapu keringat yang membasahi dahinya.

"Pokoknya kita harus cari bukti, kalo kita nggak salah." Ucap Tata pada mereka semua.
"Iya, Ta gue setuju sama lo." Jawab Ana.

"Tapi gimana caranya?" Tanya Rahma pada mereka.

"Nah itu dia Rah, gue juga bingung gimana cara buktiin ke gus Fathan kalo kita tuh nggak salah."

"Hmm, mending kita istirahat aja dulu, udah malam nih mending besok aja mikirin gimana caranya buat cari bukti." Ucap Ana sambil merebahkan tubuhnya di kasur yang ada di sana.

"Iya iya Na, besok kan ada jadwal Abi Hamzah buat ngajar, jadi kita semua jangan ada yang sampai telat." Kata Rahma.

"Siap Rah." Jawab mereka kompak.

Setelah berbincang bincang mereka semua segera merebahkan diri masing masing di atas kasur yang berukuran kecil itu, tidak berselang lama mereka semua sudah menggapai mimpi masing masing.

◆◇◆◇◆◇◆◇

Pagi hari yang cerah ini matahari sudah menunjukan sinar kecerahan nya, membuat seorang laki laki yang tengah asik dengan mimpinya, itu perlahan pejaman matanya terbuka, karena cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kamarnya.

Perlahan ia mendudukkan dirinya sambil melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 06;10. Betapa terkejutnya ia saat melihat jam yang sudah menunjukan pukul enam itu.
"Astaghfirullahalazim, saya kesiangan." Ucapnya sambil bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai mandi, kini ia langsung memakai jubah berwarna coklat muda serta peci yang melekat di kepalanya. penampilan yang sangat sederhana tapi membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona. Ya laki laki itu adalah gus Fathan.

Setelah selesai dengan penampilan yang sederhana itu, gus Fathan langsung turun ke bawah untuk menemui umi, abi dan Cilla. Karena ia akan mengajar di kelas albah. Karena semalam ia di perintah oleh sang abi untuk menggantikan abinya mengajar hari ini, karena abi baru mendapat undangan untuk mengisi acara kajian pagi ini di desa sebelah.

Albah ; adalah salah satu nama kelas santriwati di tingkat awaliyyah. Tidak hanya itu, semua kelas memiliki nama masing masing sesuai dengan tinggkatannya.

Setelah sampai di bawah gus Fathan langsung mencari keberadaan orang tuanya, yang ternyata sudah duduk di meja makan bersama dengan Cilla. Semua orang yang melihat gus Fathan tersenyum kecuali dengan Cilla.

"Assalamu'alaikum umi, abi."
"Wa'alaikumussalam." Jawab semua yang ada di meja makan itu.

"MasyaAllah sayang, kamu ganteng banget." Puji umi pada gus Fathan.
Gus Fathan yang mendengar pujian itu pun tersenyum sebelum menjawab. "Hehe.. Umi bisa aja, kan Fathan emang ganteng." Ucapnya dengan pedenya.
Cilla yang mendengar itu pun tersedak saat sedang memasukkan ayam ke mulutnya.

"Uhuk.. Uhuk.!!!"

"M-minum U-umi." Ucap nya terbata bata sambil memukul dadanya karena ayam yang ia makan tersangkut di tenggorokan.

TAKDIR MEREKA BERTIGA INDAHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang