Perjalanan pulang keluarga Bridger diwarnai dengan campuran perasaan lega dan harapan. Suhu dingin di musim dingin semakin menusuk, namun kehangatan dari kebersamaan mereka sedikit mengurangi rasa dingin itu. Hailey duduk di dekat jendela pesawat, memandang keluar dengan tatapan kosong namun damai, mengingat pengalaman di Lourdes.
Mrs. Selli duduk di sebelahnya, menatap wajah putrinya yang tampak lebih tenang. "Kau merasa lebih baik setelah perjalanan ini, sayang?" tanyanya lembut.
Hailey mengangguk pelan. "Ya, Bu. Aku senang bisa ke sana, dan aku merasa… sedikit lebih kuat sekarang. Mungkin ini bukan tentang mukjizat, tapi tentang menemukan ketenangan di tengah semua ini."
Mrs. Selli tersenyum kecil. Ia tahu perjalanan itu bukan hanya untuk Hailey, tetapi juga untuk dirinya sendiri, untuk memberikan harapan baru dalam hidup mereka.
Di kursi belakang, Edelin yang biasanya ramai, kini tertidur pulas dengan kepalanya bersandar di bahu Mr. Bridger. Sang ayah membaca buku tipis di tangannya, tetapi pikirannya melayang jauh. Ia tetap skeptis tentang keajaiban Lourdes, namun melihat sedikit perubahan di wajah istrinya dan Hailey membuatnya berpikir, mungkin perjalanan ini tidak sepenuhnya sia-sia.
____
Pagi itu Levin mendengar kepulangan hailey hingga ia bersemangat untuk segera menemuinya.
Levin tiba di rumah keluarga Bridger dengan langkah penuh semangat. Ia tahu betul betapa ia merindukan sosok Hailey selama liburan itu. Saat masuk ke ruang tamu, ia melihat Mr. dan Mrs. Bridger tengah bersantai di depan TV. Dengan sopan, ia menyapa mereka, "Selamat pagi, paman, Bibi. Sudah pulang dari perjalanan, ya?"
Mrs. Bridger tersenyum ramah, "Iya, Levin. Hailey ada di kamarnya, kalau kau ingin menemuinya."
Levin mengangguk, "Terima kasih, Bi."
Tanpa membuang waktu, ia melangkah menuju kamar Hailey. Ia mengetuk pintu sebentar sebelum membuka dan masuk dengan santai. "Senangnya bisa merindukanmu, Hailey," ucapnya dengan senyum kecil saat melihat gadis itu tengah sibuk dengan gitarnya.
Hailey menoleh, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya begitu melihat Levin. "Levin! Kau datang juga," ujarnya riang. Ia meletakkan buku di tangannya dan menghampiri Levin. "Kapan kau sampai sini?"
"Baru saja," jawab Levin sambil mendekat. "Aku tidak sabar menunggu lebih lama. Aku pikir, kalau aku langsung ke sini, kerinduan ini bisa sedikit berkurang."
Hailey tertawa kecil, matanya berbinar. "Dasar kau, Levin. Rasanya belum lama kita pergi, tapi kau sudah begini."
Levin mengangkat bahu santai, lalu berjalan menuju tempat tidur Hailey. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan nyaman. "Aku tidak bercanda. Aku beneran rindu. Perjalananmu seru?" tanyanya sambil menatap Hailey.
Hailey ikut merebahkan diri di sebelah Levin, memandang langit-langit kamar. "Seru sih, tapi... entah kenapa aku merasa lebih nyaman di rumah. Tempat itu bagus, tapi melelahkan," katanya dengan nada ringan.
Levin menoleh ke arahnya, tatapannya lembut. "Aku lega kau sudah pulang. Rumah ini tidak lengkap tanpa kau, Hailey."
Hailey hanya tersenyum kecil, merasa hangat mendengar kata-kata Levin. Ada rasa nyaman yang selalu ia dapatkan setiap bersama sahabatnya itu, seperti menemukan tempat untuk benar-benar menjadi dirinya sendiri.
“Apa yang barusan kau kerjakan?” tanya Levin, mengangkat alisnya penasaran. Pandangannya tertuju pada Hailey yang sedang mengemasi gitar—gitar miliknya yang sengaja ia berikan kepada Hailey beberapa bulan lalu karena ia memiliki gitar lain.
Hailey menoleh dan tersenyum tipis. “Aku sedang mencoba menulis lagu,” jawabnya sederhana sambil melanjutkan pekerjaannya. “Baru sampai lirik awalnya saja.”
KAMU SEDANG MEMBACA
"Hailey's Silent Goodbye"
Ficção AdolescenteBunga krisan. Di sebuah taman yang cerah, dua bunga tumbuh bersebelahan: satu krisan yang setia, dan satu mawar yang memesona. Cinta yang tulus terjebak dalam bayang-bayang keindahan, sementara angin membawa harapan baru. Saat badai datang dan kelop...
