Hari yang ditunggu akhirnya tiba, konser yang sudah lama mereka nantikan.
Levin memulai harinya dengan perasaan bercampur aduk. Sambil duduk di tempat tidurnya, ia sibuk membalas pesan Noah, memastikan semua rencana malam ini berjalan lancar.
Noah telah meminta bantuannya untuk menyatakan perasaan kepada Hailey di konser nanti. Walaupun ada rasa nyeri yang tak terucapkan di hatinya, Levin hanya bisa tersenyum pahit. Demi kebahagiaan Hailey, ia rela melakukan apa pun.
Setelah bersiap, Levin mengenakan pakaian santai favoritnya, dilengkapi dengan syal rajut yang melekat di lehernya. Ia mengemudikan mobilnya ke rumah Hailey, mencoba menenangkan pikirannya sepanjang perjalanan. Namun, ketika ia tiba, pemandangan yang menyambutnya membuat pikirannya mendadak kosong.
Hailey berdiri di ambang pintu, tampak sangat memukau dalam balutan pakaian santai namun elegan, rambutnya tergerai rapi, dan senyumnya membuat semuanya terlihat sempurna. Levin menatapnya dengan kagum, dan tanpa sadar, sebuah senyum tulus muncul di wajahnya.
"Hailey..." gumamnya, hampir seperti bisikan. "Kau... terlihat luar biasa malam ini."
Hailey terkekeh pelan, sedikit malu dengan perhatian Levin. "Kau juga, Levin. Terlihat keren dengan syal itu."
Levin menatapnya sambil tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan debar di hatinya. "Yah, aku hanya mencoba terlihat cocok di sebelah bintang malam ini."
Hailey tertawa kecil. "Sudah, jangan menggombal. Ayo, kita sudah terlambat!" katanya sambil melangkah masuk ke mobil.
Di perjalanan, mereka berbicara dengan santai, bercanda tentang hal-hal kecil dan rencana mereka setelah konser. Namun, di balik senyumnya, Levin terus bertanya-tanya bagaimana perasaannya nanti saat melihat Noah dan Hailey mungkin menjadi pasangan.
Saat mereka hampir tiba di lokasi konser, Hailey memandang Levin dan berkata, "Aku benar-benar menantikan ini, Levin. Terima kasih sudah membawaku."
Levin menoleh padanya dan memberikan senyum kecil, meskipun hatinya terasa berat. "Tentu saja, Hailey. Apa pun untukmu."
Malam itu, meskipun tahu akan ada momen sulit baginya, Levin tetap bertekad menjadikannya malam terbaik untuk Hailey. Sebab, bagi Levin, senyuman Hailey adalah yang terpenting.
Ketika mobil Levin berhenti di luar area konser, Hailey turun dengan semangat. Suasana malam itu penuh dengan lampu warna-warni dan suara kerumunan yang riuh, menambah antusiasmenya. Namun, perhatiannya langsung teralihkan ketika matanya menangkap sosok yang ia kenali.
Dari kejauhan, Noah berdiri dengan santai, punggungnya menghadap mereka. Cahaya lampu yang memantul di sekelilingnya membuat sosoknya terlihat begitu tenang namun memikat. Hailey berhenti sejenak, tatapannya terpaku.
"Levin, itu Noah, kan?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit bergetar oleh rasa kagum.
Levin, yang berdiri di sebelahnya, seharusnya memalingkan pandangan ke arah yang sama. Tapi alih-alih melihat ke depan, matanya justru terpaku pada Hailey. Ia memperhatikan senyum yang perlahan muncul di wajah gadis itu, senyum manis yang begitu tulus ketika melihat Noah.
"Ya, itu dia," jawab Levin dengan suara pelan, hampir berbisik.
Melihat senyum Hailey yang cerah, Levin merasa ada dua hal yang terjadi bersamaan dalam dirinya. Ia bahagia karena melihat Hailey begitu senang, senyuman yang selalu ia sukai. Namun, di saat yang sama, hatinya terasa sakit. Sebab, senyuman itu bukan untuknya.
Ia hanya bisa menatap Hailey dalam diam, menyimpan semua perasaan itu di dalam dirinya. Baginya, kebahagiaan Hailey adalah prioritas, meskipun itu berarti harus menyaksikan gadis yang ia sukai tersenyum untuk orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Hailey's Silent Goodbye"
JugendliteraturBunga krisan. Di sebuah taman yang cerah, dua bunga tumbuh bersebelahan: satu krisan yang setia, dan satu mawar yang memesona. Cinta yang tulus terjebak dalam bayang-bayang keindahan, sementara angin membawa harapan baru. Saat badai datang dan kelop...
