Suara semua orang yang masih bernyanyi menggema di sekeliling mereka, seolah menjadi latar perpisahan yang begitu manis sekaligus pilu. Dalam pelukan Levin, Hailey dengan suara yang hampir tak terdengar memanggilnya pelan, "Levin..."
Levin segera menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar lebih jelas. "Aku di sini, Hailey," jawabnya lembut, meski hatinya terasa seperti ditusuk ribuan pisau.
Dengan sisa tenaganya, Hailey mencoba tersenyum. _Keluargaku... Noah... beritahu mereka... bahwa aku menyayangi mereka. Sangat."
Levin menggigit bibirnya, menahan tangis yang hampir pecah. Ia tidak ingin Hailey melihat dirinya hancur. Dengan suara bergetar, ia menjawab, "Mereka tahu, Hailey... Mereka tahu betapa besar cintamu untuk mereka. Kau sudah menunjukkan itu... selalu."
Namun, meski Levin berusaha kuat, tidak ada yang bisa menyembunyikan kepedihannya. Semua ini terlalu menyakitkan baginya. Suara orang-orang yang masih bernyanyi menjadi latar penuh emosi, seolah menggambarkan betapa sulitnya menerima kenyataan bahwa Hailey akan pergi.
Hailey memejamkan matanya sejenak, seolah mengumpulkan kekuatan. "Levin," ucapnya lagi, suaranya semakin pelan, "Jika kau terlahir kembali... di kehidupan selanjutnya... kau ingin terlahir sebagai apa?"
Pertanyaan itu menghantam hati Levin dengan keras. Tangannya yang memeluk tubuh Hailey semakin erat, takut kehilangan. Ia menatap wajah Hailey yang mulai pucat, mencoba menenangkan dirinya sebelum menjawab. Dengan senyuman tipis yang dipaksakan, Levin berkata
"Aku ingin terlahir sebagai aku... Levin yang kau kenal."
Air mata perlahan jatuh di pipi Hailey. Ia mengangguk kecil, menunjukkan persetujuannya. Senyumnya kembali mengembang, meski lemah. "Itu jawaban yang bagus,,jawaban yang ku sukai..." bisiknya.
Hailey menatap Levin dengan mata yang penuh kasih, dan sekarang, gilirannya berbicara tanpa ditanya. "Sekarang, giliran aku..." katanya dengan suara yang hampir tak terdengar. Ia menarik nafas pelan, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk berkata,
"Di kehidupan selanjutnya... aku ingin terlahir sebagai Hailey yang mencintaimu, Levin."
Levin membeku, matanya membelalak menatap Hailey yang kini tersenyum tulus di tengah kesakitannya. Ia tidak sanggup berkata-kata. Namun Hailey tidak berhenti di sana.
"Aku ingin terlahir sebagai Hailey yang bisa membalas ketulusanmu. Dan di kehidupan selanjutnya...."
"aku ingin menjadi gadismu, Levin..."
Kata-kata itu menghancurkan Levin. Ia tidak lagi sanggup menyembunyikan tangisnya. Air matanya mengalir tanpa henti. Ia memeluk tubuh Hailey semakin erat, takut jika ini adalah momen terakhirnya bersama gadis yang ia cintai sepenuh hati.
"Kau akan selalu jadi gadisku, Hailey. Di kehidupan ini... dan selanjutnya..." jawabnya dengan suara yang hampir tak keluar.
Hailey tersenyum kecil. Tubuhnya semakin lemah. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menekan dada Levin dengan telunjuknya yang gemetar. "Levin... rasanya... aku ingin tidur di sini..." katanya pelan.
Levin tahu apa yang dimaksud Hailey. Tidur ini bukanlah tidur biasa-ini adalah akhir perjalanan hidupnya. Ia mencoba menahan dirinya, namun akhirnya ia mengangguk, meski hatinya berteriak menolak. "Tidurlah, Hailey. Kau boleh... kau boleh tidur di sini."
Dengan perlahan, Hailey memejamkan matanya, senyum kecil menghiasi wajahnya. Tangannya yang sebelumnya berada di dada Levin perlahan terjatuh ke samping, dan nafasnya yang semula tersengal-sengal kini berhenti dengan damai.
Hailey tak lagi merasakan sakit. Ia telah bebas, terbang ke tempat di mana penderitaan tak lagi mengikutinya.
Namun bagi Levin, dunia terasa berhenti. Ia menatap wajah Hailey yang damai, namun kehilangan sinar kehidupannya, dan rasa hancur yang begitu besar melingkupinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Hailey's Silent Goodbye"
Novela JuvenilBunga krisan. Di sebuah taman yang cerah, dua bunga tumbuh bersebelahan: satu krisan yang setia, dan satu mawar yang memesona. Cinta yang tulus terjebak dalam bayang-bayang keindahan, sementara angin membawa harapan baru. Saat badai datang dan kelop...
